Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT ISENG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT ISENG. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Februari 2016

MIRROR


Mirror never lies. Saya yakin anda tidak asing dengan ungkapan tersebut. Dia tidak akan tertawa saat anda menangis, atau nampak kurus bila kenyataannya anda tidak kurus. Saat kecil, saya juga belajar ada pepatah lain yang sesungguhnya bermakna kurang bagus, namun seringkali menggambarkan tindakan manusia. Buruk muka cermin dibelah. Kurang lebih artinya adalah mencari kesalahan pada pihak lain, namun saya lebih ingin menyoroti tentang kejujuran, seperti yang saya sampaikan di depan, mirror never lies, apa yang buruk akan diperlihatkan apa adanya, tidak ada tutup-menutupi atau manipulasi. Selain kejujuran, saya juga belajar tentang keseimbangan.
Cermin mengajarkan saya tentang keseimbangan. Selain mengajarkan kepada saya tentang apa adanya, cermin juga mengajarkan bahwa kehidupan adalah keseimbangan. Cermin tidak pernah menampakkan bayangan yang jauh saat saya di dekat cermin, dan tidak pernah menampakkan bayangan yang dekat saat saya berdiri jauh. Jarak antara bayangan ke permukaan cermin selalu sama dengan jarak saya pada permukaan cermin, Ibarat jungkat-jungkit, dengan berat beban yang sama dan jarak beban pada titik tumpu sama, maka diperolehlah posisi setimbang. Ohya, sebelum protes-protes bermunculan di benak anda, mari kita luruskan bahwa cermin yang kita sedang bahas adalah cermin datar, karena akan berbeda prosesnya apabila bertemu dengan cermin cekung, cembung atau cermin tembus pandang (one way glass). Nah mari kita lanjutkan, selain tentang jarak, tentang ukuran juga seimbang. Cermin tidak pernah memberikan kepada saya bayangan yang lebih kecil dari ukuran sebenarnya saya atau memberikan bayangan yang lebih besar daripada ukuran sebenarnya. Cermin mengajari saya bahwa kehidupan ini adalah tentang keseimbangan. Seperti symbol yang terkenal tentang keseimbangan, saya yakin anda semua mengenal yin  dan yang, saya menemukan juga keseimbangan dalam saya bercermin.
Selain keseimbangan, cermin juga mengajari saya bahwa hidup ini bukan tentang diri sendiri. Mungkin anda mempertanyakan ini, cermin kan bayangannya adalah diri kita sendiri, bahkan tak jarang kita memuja-muja diri sendiri betapa cantik atau gantengnya kita ketika memandang diri kita di cermin. Jawabannya adalah ya, sebagian besar orang berpikir demikian dan melewatkan sebuah pelajaran indah yang saya dapatkan, dan mungkin juga sudah disadari oleh orang-orang lain. Bayangan cermin membuat saya menyadari bahwa saya tidak sendiri. Memang iya bayangan itu adalah bayangan saya, tapi apakah bayangan tersebut benar-benar saya? Saya menyadari bahwa bayangan itu bukan sepenuhnya saya, dia adalah refleksi saya. Bagian kanan tubuhnya adalah tubuh kiri saya dan bagian tubuh kirinya adalah bagian tubuh kanan saya. Saat saya memperhatikan lebih dalam lagi, saya seperti sedang melihat orang lain berdiri menghadap saya. Ya, kehidupan bukanlah tentang diri sendiri, tapi ada orang lain juga yang hadir dalam dunia yang kita tinggali ini. Sama seperti kita memperhatikan bayangan diri kita di cermin, ada banyak orang di luar cermin itu yang juga membutuhkan perhatian anda. Ada orang-orang yang punya kekurangan yang anda bisa membantu memperbaiki atau menutupinya, seperti anda menutupi jerawat di pipi anda. Mungkin ada juga orang-orang diluar sana yang sedang sakit dan anda bisa membantu kesembuhannya, seperti anda mengobati luka bekas jerawat yang tak sengaja pecah. Bahkan yang terburuk, bayangan cermin bisa menjadi teman. Saya pernah melakukan yang terakhir ini, ketika saya merasa kesepian, bayangan cermin adalah teman ngobrol saya, meskipun yang terjadi adalah monolog, tapi saya tidak merasa sendiri. Anda juga bisa, menjadi teman ngobrol bagi mereka yang demikian, menjadi teman ngobrol yang bukan untuk menyelesaikan masalah, meskipun mereka akan sangat bersyukur tentunya bila anda mampu. Tak jarang saya bertemu dengan orang asing di pasar, stasiun, terminal, rumah sakit, halte, atau bahkan sekedar nongkrong di taman dan akhirnya menjadi teman ngobrol yang tentu saya tak ingat lagi apa telah kita bicarakan karena pada intinya adalah saya menemani kesepian mereka. Dengan saya menemani ngobrol, mereka yang saya temui tidak merasa sendiri lagi.
Pada dasarnya, manusia tidak diciptakan untuk sendirian. Seperti Adam yang diciptakan dengan diberikan Hawa (Eve) sebagai pasangannya, manusia juga mewarisi sifat dasar ini, tidak bisa diciptakan sendiri. Dalam kehidupannya, manusia selalu mencari rekan yang mampu menemaninya, atau sekedar menjauhkan diri dari kesendirian. Tak heran apabila dalam kehidupan ini penuh dengan cinta kasih, buah dari hubungan antar manusia yang menganut paham simbiosis mutualisme, saling menguntungkan kedua pihak. Cinta kasih yang benar adalah cinta kasih yang memberi. Oknum pemberi tentu bukanlah oknum yang mampu berdiri sendiri. Demikianlah cinta, cinta yang hanya satu pihak bukanlah cinta, cinta adalah oknum yang memberi, membutuhkan pihak lain sebagai pasangannya yang akan menerima cinta, sesuatu yang diberikan. Cermin juga telah mengajari saya tentang cinta kasih yang benar. Cinta kasih yang benar itu seperti cermin, bukan tentang diri sendiri, tapi juga mengasihi dan memperhatikan orang lain, prinsip memberi. Cinta kasih yang benar juga menganut prinsip keseimbangan, simbiosis mutualisme. Jika yang seorang menerima lebih besar dari pihak yang lain, lambat laun satu pihak akan kering, tapi bila ada timbal balik yang seimbang akan mampu bertahan. Selain prinsip memberi dan keseimbangan, cinta kasih yang benar juga memperhatikan prinsip kejujuran. Sama seperti cermin yang memberikan bayangan apa adanya, cinta kasih yang benar hendaknya adalah mencintai seperti apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi atau dimanipulasi.

Mungkin diantara anda ada yang bertanya-tanya, gambar abstrak apa yang saya pasang di awal tulisan ini. Mungkin juga ada yang telah memahami dan melihat maksud tersembunyi dari gambar tersebut. Clue-nya adalah mirror dan keseimbangan. Bila anda mampu menempatkan kedua clue tersebut, maka anda akan memahami bahwa symbol cinta yang sering diungkapkan oleh kebanyakan orang mengandung makna keseimbangan. AKU CINTA KAMU.

Senin, 21 Desember 2015

Tidak ada anak Bodoh dan Nakal

Pernahkah kalian mendengar atau membaca atau mungkin melihat kisah Einstein muda yang mendebat gurunya bahwa Tuhan itu ada dan Tuhan tidak menciptakan kejahatan? Saya masih ingat dengan jelas premisnya bahwa segala hal buruk itu tidak eksis, tidak nyata. Kesimpulan dari kisahnya adalah kejahatan terjadi bukan karna kejahatan itu diciptakan oleh Tuhan, tapi kejahatan ada karena tidak adanya Tuhan dalam hati manusia. Seperti dingin dan kegelapan yang sesungguhnya tidak nyata. Dingin adalah kondisi yang digambarkan sebagai akibat ketiadaan panas (thermal) didalamnya, kan di dalam sains yang ada juga satuan panas bukan satuan dingin. Sama halnya dengan kegelapan, kondisi yang digambarkan dengan keadaan tiada cahaya disana, sains juga memberikan satuan cahaya bukan satuan kegelapan. Kemudian apa esensinya?

Seberapa sering dari kita yang berbuat atau berpikir seperti gurunya Einstein? Seberapa sering kita berpikir, atau bahkan berucap tentang seorang anak bahwa dia bodoh dan nakal? Mari kita bahas dengan logika berpikir seperti Einstein, sapa tau bisa ketularan pinter, mau kan? Jadi Einstein berpikir kalo dingin dan gelap itu tidak eksis, saya juga berpikir bodoh itu enggak eksis, enggak nyata. Einstein mengambilnya dari lawan katanya, dingin dengan panas, gelap dengan terang, oleh sebab itu lawan dari bodoh adalah cerdas (intelligent). Bila dijelaskan dengan logika berpikirnya Einstein, maka bodoh itu tidak ada, Bodoh adalah kata yang mendiskripsikan kondisi dimana tidak adanya kecerdasan. Lagian selama yang saya tahu juga nggak ada skala kebodohan, yang saya tahu adalah Intelligent Test yang menghasilkan IQ. Meskipun saya bukan orang yang mengagung-agungkan IQ sebagai satu-satunya indikator kecerdasan, saya hanya menyampaikan bahwa yang ada itu adalah kecerdasan bukan kebodohan. Apabila kebodohan itu adalah hal yang tidak nyata, maka sesungguhnya anak bodoh adalah sesuatu yang nggak ada. Anak (yang kemudian disebut) bodoh adalah anak dengan kondisi kurang cerdas. Mereka yang ada dalam kondisi kurang cerdas ini justru layak untuk kita beri perhatian lebih agar mampu memaksimalkan kecerdasan yang mereka miliki. Berpikir mereka bodoh hanyalah akan membuat mereka kehilangan potensi yang sesungguhnya mereka miliki, mereka layak dikelilingi oleh manusia-manusia yang mampu merawat dan menumbuhkan mimpi-mimpi dan potensi mereka. Sudahkan anda menjadi manusia-manusia yang merawat atau menumbuhkan mimpi-mimpi mereka? atau menjadi manusia-manusia yang menginjak dan mengubur mimpi mereka? berhentilah mengatakan anak bodoh dan mulailah berkata bahwa sesungguhnya mereka adalah manusia-manusia cerdas.

Oh iya masih satu yang saya belum bahas, apakah anak nakal itu tidak nyata juga? jawabannya adalah YA. Nakal itu tidak nyata, nakal itu semakna dengan jahat, jahat itu konsep yang menggambarkan tidak adanya kebaikan. Anak yang (disebut) nakal itu sebenarnya anak yang kurang kebaikan dalam dirinya. Seperti halnya kegelapan yang tidak memiliki terang atau cahaya, demikianlah kehidupan anak (yang disebut) nakal itu. Seperti malam tiada berbintang yang gelap, demikianlah hati anak (yang disebut) nakal itu. Namun seiring fajar menjelang, datanglah matahari menyinari mengirimkan cahaya ke bumi, maka teranglah bumi dan tersingkirlah gelap itu. Gelap tidak bisa mengusir gelap, tapi terang bisa. Jadi adalah hal yang mustahil untuk berharap anak (yang disebut) nakal tiba tiba menjadi anak baik. Malam menjadi siang saja butuh waktu lho, ada jarak yang harus ditempuh dalam proses itu. Mereka itu butuh orang lain untuk bisa menjadi baik, karna orang yang tenggelam tidak dapat menarik dirinya sendiri dari dalam air. Orang yang tenggelam perlu orang lain untuk menolongnya/menariknya keluar dari air. Mereka itu perlu dibimbing, mereka membutuhkan sosok terang yang mampu mengusir kegelapan dari hati mereka. Mereka sesungguhnya sedang merindukan kapan fajar kan datang menjelang, hati mereka yang telah lama dingin dan gelap merindukan fajar yang membawa cahaya yang menerangi hati mereka dan panas yang menghangatkan hati mereka. Kalau ada anak yang dianggap bodoh, ajarilah mereka tentang apa yang mereka tidak tahu. Ajari mereka tentang kehidupan, ajari mereka untuk berani mengusik ketenangan dan kenyamanan mereka, menggali potensi dan bakat yang mereka miliki.

Sebagai penutup, berhentilah berkata anak bodoh atau anak nakal pada mereka yang sesungguhnya cerdas dan sedang menuju baik. Biar tulisan ini jadi seperti tulisan motivasi yang sedang digandrungi masyarakat, ada baiknya saya menutup dengan kutipan dari seorang bijaksana, "Berhentilah mengutuki kegelapan, mulailah bergerak cari lilin dan korekmu kemudian nyalakan lilin".

Minggu, 20 September 2015

Flow like water




Saya yakin, sebagian besar dari kalian pernah mendengar ungkapan ini. Entah dalam bahasa inggris atau bahasa Indonesia, mengalir seperti air. Ungkapan ini sangat favorit diucapkan dikala seseorang ditanya tentang sesuatu yang akan dikerjakan di masa depannya, entah itu besok, lusa, minggu depan, bulan depan atau tahun depan, bahkan untuk beberapa tahun ke depan. Saya sering mendengar orang-orang yang berkata seperti ini, bahkan beberapa teman saya juga mengatakannya. Memang dunia ini penuh dengan ketidakpastian, penuh dengan kejadian-kejadian di luar rencana kita. Seringkali juga teman-teman saya berpikir, toh Tuhan sudah merencanakan saya akan begini dan begitu, jadi ikut saja. Wah, saya jadi ikut berpikir juga nih kalo udah nyangkut-nyangkut Tuhan gini, bisa dunia akhirat urusannya.
                Tapi bagaimana jadinya jika rencana Tuhan yang sempurna itu ada beberapa bagian yang ditulis “improvisasi.” Saya sering menulis naskah drama, dan beberapa kali ikut main drama juga. Saya mengerti betul bagaimana susahnya untuk benar-benar menjadi sosok yang digambarkan oleh penulis scenario (yang bukan skrip saya) secara tepat. Sangat susah untuk bisa mengatakan tepat seperti apa yang ditulis dengan ekspresi atau gesture yang diharapkan. Apa yang kemudian terjadi adalah saya, dan para pemain lainnya melakukan improvisasi. Yang belum tahu, improvisasi itu adalah hal-hal yang dilakukan diluar kehendak yang ditetapkan (dalam hal ini skrip) sesuai dengan kehendak yang melakukan (pemain). Improvisasi tentu tidak sembarangan saja dilakukan, ada teknik dan aturan-aturannya juga. Aturan dasar yang saya tahu adalah tidak mengubah esensi atau pesan yang ingin disampaikan dari skrip tersebut, sama seperti kalau menyanyi improvisasinya tidak boleh ‘fals’ begitu. Kemudian improvisasi harus dilakukan tanpa mengganggu pemain lain dan tidak boleh mengganggu konsentrasi pemain lain. Bayangkan saja pemain telah berusaha untuk memahami runtutan cerita yang ditulis dalam skrip, dan improvisasi yang dilakukan membuat lawan main bingung sampai skrip mana improvisasi yang dilakukan, kan malah bikin seluruh pertunjukan itu menjadi kacau. Saya yakin dalam hidup pun demikian, ada beberapa bagian dalam hidup ini yang perlu diimprovisasi. Kalaupun Tuhan udah punya “perfect script” juga, saya yakin Dia di beberapa bagian dalam skrip itu menuliskan “as your wish.” Tuhan toh sayang banget sama kita para ciptaanya, jadi dia ingin juga melihat kita terlibat dalam karya besarnya, karna kita bukan wayang atau boneka pertunjukkan bagi Dia.
                Setelah kalian membaca dua paragraph diatas, saya yakin kalian sudah berusaha menebak-nebak apa yang ingin saya sampaikan. Jika kalian merasa saya nggak setuju dengan judul diatas, maka tebakan kalian adalah tepat dan kalian berhak mendapat hadiah permen, segera minta kepada orang tua kalian, hahaha. Jangan terlalu serius gitu lah, ntar cepet tua loh.. Pertanyaan selanjutnya pasti kenapa saya tidak setuju? Pasti pada nanya gitu kan? Jawabannya simple, sejak kecil saya diajarkan sebuah kalimat begini oleh orang tua saya, “nak, kalau kamu percaya sama Tuhan dan menyerahkan hidup padanya, maka Dia akan menjadikanmu kepala dan bukan ekor, Dia akan membuat engkau terus naik dan bukan turun.” Setelah saya sekolah, saya diajarkan oleh guru saya bahwa hukum alam untuk air, selain mengikuti bentuk wadah dimana dia diletakkan, yang paling saya ingat adalah air selalu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Itu hokum alam, kalau ada air mancur itu brarti udah nggak sesuai dengan hukum alam, udah ada campur tangan manusia dan rekayasa teknologi. Yang alami tentu saja seperti air terjun, mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Jadi kalau mengikuti prinsip mengalir seperti air, maka yang terjadi adalah hal-hal yang terus turun, padahal setiap orang ingin terus naik mencapai yang lebih besar, lebih baik.
                Poinnya disini adalah saya tidak mengikuti prinsip flow like water dan mengajak kalian untuk juga tidak mengikutinya. Saya tentu punya alasan kenapa prinsip ini tidak baik. Alasan pertama sudah saya jelaskan seperti paragraph diatas. Setiap orang ingin terus naik, sekolah yang lebih tinggi, karir yang lebih baik, juga punya pasangan biar bisa memperbaiki keturunan (kalau yang terakhir ini curhatan yang nulis sih wkwkwk). Intinya semua orang ingin yang lebih tinggi, jadi jangan ikuti prinsip air ini. Alasan yang kedua adalah, air itu sangat fleksibel, dia dengan mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sekecil apapun beda ketinggiannya ia akan berpindah ke tempat yang lebih rendah.  Kalo kalian mengikuti prinsip ini, kalian akan susah maju karena setiap kali ada situasi berubah, kalian akan mengisi celah yang lebih rendah, dalam arti akan mundur selangkah. Dengan demikian akan susah untuk maju dan mengejar apa yang menjadi mimpi-mimpimu.
                Sebagian besar orang yang mengatakan prinsip flow like water yang saya kenal, mereka mengikuti prinsip ini karena takut, takut berspekulasi, takut gagal, takut yang terjadi tak sesuai dengan apa yang direncanakan, takut ini dan takut itu. Kemudian yang terjadi adalah mereka tidak melakukan apa-apa, menjalani hidup dari hari ke hari tanpa pernah menetapkan satu tujuan. Saya belum pernah mengenal orang yang sukses dan memiliki pencapaian besar yang mengikuti prinsip ini. Setiap orang sukses yang saya tahu adalah orang-orang yang bekerja keras pada setiap hal yang telah mereka tetapkan sebagai tujuan. Andaikata hidup ini adalah sebuah perjalanan dimana dalam waktu-waktu tertentu kita harus menyeberangi sungai berarus deras, apakah masih ingin tetap mengalir seperti air dan terhanyut sampai entah dimana. Setiap orang sukses yang saya tahu, mereka menetapkan tujuan yang ingin mereka capai, mereka pasang target sukses mereka akan seperti apa dan berusaha sekeras mungkin untuk mencapainya. Tak peduli ada arus deras di hadapan mereka yang harus diseberangi, bila memang itu satu-satunya jalan yang harus dilewati untuk mencapai tujuan, mereka akan melakukannya, bahkan kalau itu perlu melawan arus, mereka melakukannya. Kalian juga pasti ingin sukses kan? Tinggalkan prinsip flow like water itu, mulai sekarang tetapkan tujuan hidupmu. Pasang target sukses yang ingin kalian capai. Mulai susun strategi kalian untuk mencapainya, tetapkan langkah-langkah yang akan kalian lakukan. Rencanakan setiap hal yang akan kalian lakukan untuk mencapai cita-citamu, apa yang akan kalian lakukan minggu ini, bulan ini, tahun ini dan tahun-tahun mendatang. Rencana mungkin tidak akan berjalan mulus sesuai rencana, tapi dengan target yang kalian pasang, kalian tahu langkah apa yang akan kalian kerjakan dan kemana kalian akan melangkah saat arus menyeret kalian, setidaknya jangan kalah sebelum berperang.

                See you on top guys, man’s eyes see impossible, God’s eyes see I’mpossible, Whatever you are doing with God, you can do anything.

Minggu, 23 Agustus 2015

JANGAN MENCARI PACAR!

Mungkin ada yang bertanya nih, “nggak salah tuh judulnya?” Ada juga yang lain yang setuju trus bilang, “Iya jangan nyari pacar, nyari suami (atau istri) aja.” Yepp,, yang terakhir jawabnya guys, dan yang pertama enggak. Maksudnya??
Jadi gini, maksudnya tuh pertanyaan pertama jawabannya nggak salah, emang begitu judulnya. Kalo yang kedua bener, langsung nyari suami atau istri aja, tapi masih kurang tepat juga guys. Eh, kok gitu sih? Jadi yang tepat gimana emang? Jawab!!
Iya iya kujawab, sabar dulu dong,, emang sih lebih cepat lebih baik, tapi yang terburu-buru itu nggak baik kan,, jadi ikuti aja dulu alur ceritanya..
Udah gausah banyak omong, langsung aja bilang kenapa gak boleh nyari pacar!
Eits,, sabar dong bro, orang sabar kan pantatnya lebar, eh maksudnya orang sabar disayang Tuhan, gitu lhoo.. oke oke, sekarang serius ya, satu persatu akan aku jelasin kenapa aku kasih judul gitu tadi. Baca baik-baik sampai akhir, jangan Cuma dibaca di awal doing trus ditinggalin karna nggak asyik. Kayak baca surat dari gebetan gitu lho, harus baca lengkap biar gak salah paham, walau ujung-ujungnya ditolak (yang ini bukan curhat).
Udah ah pendahuluannya, capek  ngetiknya ntar kalo kepanjangan prolognya. Jadi gini, kenapa saya bilang, “Jangan Mencari Pacar!” alasannya adalah nggak ada yang menghilangkan pacarnya, jadi kamu gausah repot-repot menghabiskan banyak sumber daya untuk mencarinya.
Tuhan udah menciptakan manusia dengan pasangannya masing-masing dan faktanya Tuhan itu bukan oknum pelupa seperti kita. Beberapa dari kalian pasti sering lupa dimana kunci motor ditaruh, padahal kalian sendiri yang menaruhnya. Beruntungnya Tuhan kita itu bukan Tuhan yang pelupa, Dia ingat betul siapa jodoh kita dan dimana dia berada saat ini. Kita dari kecil sudah dikasih tau sama orang tua kita kan kalo mata Tuhan melihat ke segala tempat, jadi bahkan saat jodoh kita sedang tersesat pun Tuhan tahu dia ada dimana dan Dia akan menuntun jodoh kita itu ke jalan yang seharusnya. Jalan yang seharusnya ya jalan menuju dirimu, yang telah disiapkan untuk berpasangan. Itulah kenapa judulnya saya bilang jangan mencari pacar, pacar mah gausah dicari juga ntar ketemu sendiri. Pernah kan kehilangan sesuatu di kamar? Biasanya barang yang dicari tuh susah banget ketemunya, tapi begitu udah nggak dicari eh tiba-tiba dia nongol gitu aja.
Pada prinsipnya hampir mirip sih, jodoh pun ada yang demikian. Meskipun kita telah berusaha begitu luar biasa, kalo kita dipandang belum siap oleh Yang Maha Kuasa untuk bertemu jodoh kita ya nggak akan dipertemukan.Namun kalo kita minta dan udah siap, nggak usah nyari ya ketemu. Kayak di FTV gitu lho, itu bukan cuma fiksi semata lho,, banyak juga yang kisah cinta mereka seperti itu dan berakhir di pelaminan. So sweet kan.. So jangan pada jeles ye kalo liat mereka kayak gitu, mereka udah bersusah payah dalam prosesnya supaya dipandang siap oleh Yang Maha Kuasa pada saat bertemu jodoh mereka.
Nah, terakhir nih buat para jomblo, dan mereka yang udah ngaku couple tapi belum yakin kalo pasanganmu itu jodohnya. Siapkanlah dirimu dengan sebaik-baiknya, semakin tinggi standar pasangan yang kamu minta sama Yang Maha Kuasa, berarti semakin kamu harus lebih berjuang keras untuk memantaskan dirimu seperti kualitas yang kamu harapkan.
Sebagai penutup, dengarkan dan pahami ini baik-baik. "Jangan menikah dengan orang yang kau yakini sebagai cinta sejatimu, menikahlah karena kamu ingin membuktikan bahwa dengan dia cinta sejati itu ada. Cinta sejati itu seperti emas, semakin teruji waktu semakin terbukti kemurniannya." 

Selasa, 02 Desember 2014

Besi Menajamkan Besi

"Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya"
Saya suka istilah ini, untuk bisa saling menajamkan, besi terlebih dahulu harus bergesekan dengan sesama besi, dalam setiap gesekan tentu akan menghasilkan panas, dan bila besi bisa teriak, pasti besi akan bilang, "panas,, panas,, cukup!" Jika hal itu terjadi, maka pastilah si pandai besi akan mendengar jeritan pilu tersebut dan menghentikan aktifitasnya menggesekkan besi-besi tersebut. Akibatnya kita sudah bisa duga, besi-besi tersebut hanya akan menjadi besi-besi biasa, bentuknya mungkin akan sama, menjadi pisau, sabit dan lain-lainnya, namun ketika proses itu tidak selesai dengan baik, mereka tidak akan menjadi berguna. Bila pisau-pisau tersebut tidak diasah dengan baik dan benar sampai ketentuan yang tepat, pisau tersebut tidak akan menjadi besi yang tajam. Untuk apa punya besi berbentuk pisau kalau tidak tajam. Pisau-pisau tersebut tidak hanya dibuat untuk pajangan kan?

Lalu, apa maknanya hal tersebut dengan manusia menajamkan sesamanya? Apakah kita harus bergesekan satu sama lain agar menjadi berguna? Yuppss,, secara mentahnya seperti itu, tapi kita tentunya nggak suka yang mentah-mentah gitu dong,, Seringkali kita lupa bahwa menajamkan adalah merupakan sebuah proses. Ada kegitatan yang dikerjakan, ada waktu yang dihabiskan selama proses, dan tentu ada pihak-pihak yang sedang diproses dan memproses. Gesekan antar manusia bukan berarti kita harus bergesekan seperti kita menggesekkan telapak tangan kita disaat kita kedinginan. Gesekan-gesekan yang terjadi dalam proses menajamkan sesama adalah misalnya saat kita harus berbeda pendapat dengan orang lain, tidak sepaham, tidak sepikiran, harus diskusi bahkan mungkin berdebat alot untuk dapat menemukan satu titik kesepahaman. Mungkin suatu saat akan tiba waktu-waktu dimana kita merasa tersakiti dengan kata-kata dari orang lain, atau kita sedang menyakiti orang lain dengan tidak kita sadari. Akan datang waktunya dimana gesekan ini begitu berat dan sakit, dan kita berteriak-teriak minta tolong kepada yang empunya proses ini, menjerit-jerit minta tolong sama Tuhan. Ada waktu dimana Tuhan seolah-olah tidak mendengar jeritan dan teriakan minta tolong kita, seakan tak perduli dengan keadaan kita. But, let us take God's sight. Dia disana seperti pandai besi, yang mengijinkan setiap gesekan-gesekan itu terjadi dalam hidup kita, karna Dia tahu setiap gesekan itu baik untuk kita. Dia sedang memproses kita untuk setajam yang dia inginkan, sesuai dengan kehendak dan tujuannya dalam hidup kita. Apakah kita akan dipakai untuk pisau daging atau pisau sayuran, tentu proses yang harus dilalui akan berbeda. Jadi jangan iri dengan proses yang orang lain dapatkan, Kuatkan dan teguhkanlah hatimu sampai proses yang ditentukan. Ingat, pisau yang tumpul tidaklah berbeda dengan besi-besi lain yang ada di tempat loakan besi tua.
Pastikan dirimu ambil bagian dalam rencana Tuhan, jangan puas telah menjadi pisau ataupun pedang, kalau pada akhirnya hanya menjadi pajangan. Nikmati proses yang ada dan jadilah berguna.

Jumat, 22 Agustus 2014

Kenapa Move On itu Susah

Sebelum kita bahas lebih lanjut, sebenarnya saya sudah pernah membahas hal yang mirip dengan ini. Di artikel saya sebelumnya yang berjudul Belajar Move On, saya sudah menjelaskan kenapa move on itu sulit.
Sekarang kita akan membahas susahnya move on dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Memang sih, bagi sebagian besar orang, masih belum bisa menerima bahwa hubungan mereka harus berakhir. Ada banyak sebab dan alasan kenapa hubungan pacaran tersebut harus berakhir, mulai dari yang sederhana sampai yang rumit, mulai dari yang apa adanya sampai yang penuh rekayasa. Ada yang dengan alasan klasik aku mau fokus sama kuliahku, atau orang tua ku tidak mengijinkan kita melanjutkan hubungan ini, atau yang klasik banget, kamu terlalu baik buat aku, aku nggak bisa terus sama kamu, kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku.
Oke, kita tinggalkan saja alasan-alasan dan sebab-sebab tersebut, karena faktanya kenapa orang harus MOVE ON adalah karena mereka PERNAH MEMILIKI HUBUNGAN (baca:pacaran/tunangan). Jadi apapun alasan yang ada tadi memang hanya alasan yang dibuat-buat saja. Nah, kenapa mereka pacaran padahal sebagian besar dari mereka sadar bahwa hubungan mereka mungkin akan membuat mereka sakit hati saat putus. Kalo ditanya, kenapa mereka pacaran adalah karena mereka sedang jatuh cinta. Disinilah letak kesalahan yang sebenarnya dari orang-orang yang susah move on. MEREKA SUSAH MOVE ON KARENA DULU MEREKA FALL IN LOVE, BUKAN FLY IN LOVE. Ketika seseorang sedang jatuh cinta, biasanya sangat susah untuk bangun. Plato, seorang filsuf besar di jamannya pernah mengatakan demikian, "Love is a serious mental illness" yang artinya adalah cinta itu adalah penyakit jiwa yang serius.  Cinta itu bisa membuat orang yang sehat menjadi terganggu jiwanya, seolah mereka hidup di negeri dongeng yang semua terasa indah. Ketika cinta itu berakhir, mereka seperti terbangun dari mimpi-mimpi indah mereka dan melihat kenyataan hidup yang begitu berat itu dan merindukan masa-masa utopia di negeri dongeng tersebut. membayangkan kembali masa-masa indah saat masih pacaran dan sebagainya. Kesalahan selanjutnya adalah mereka menikmati masa-masa jatuh cinta itu dan nggak segera bangun. Udah tau kalo bangun itu susah kann,, apa nggak inget tuh waktu kita kecil, waktu kita lagi belajar jalan, waktu awal-awal banget kita baru bisa berdiri dan mencoba berjalan, susah banget buat bangun kan? Meskipun kita udah gede gini, sebenernya kita masih "sekanak-kanak" dulu kok, kita tidak pernah menjadi TERLALU DEWASA untuk menjalani hidup ini. Setiap saat kita dihadapkan pada situasi-situasi baru yang menuntut kita untuk terus bekerja keras. Jadi jangan sering-sering jatuh, apalagi sengaja jatuh, kalaupun ingin jatuh, jatuhlah pada tempat yang tepat, jangan jatuh sembarangan. Demikian juga dengan jatuh cinta, jangan suka jatuh cinta, bagaimanapun jatuh itu sakit kan?
Oleh karena itu, saya lebih suka dengan istilah "Fly in Love" ketimbang "Fall in Love". Kalo Fly in love itu kita umpamakan pacaran itu naik pesawat, tapi isinya cuma ada pilot dan co-pilot aja. Terbang atau tidaknya tergantung bagaimana orang yang di dalamnya. Kalo fall in love kan kita jatuh, kalo fly in love kita akan terbang. Terbang tentunya diatas dong, kita bisa lihat keindahan bumi dari atas ketinggian, mungkin bisa juga melintas di awan-awan yang menggantung di angkasa, kalo beruntung bisa sangat dekat sekali dengan pelangi. Namun demikian, fly in love juga memiliki risiko yang besar juga. Kalo diantara pilot dan co-pilot ada miskomunikasi, tentu pesawat itu akan menukik turun. Beruntungnya, pesawat itu normalnya ada di ketinggian yang cukup tingggi sehingga tidak akan langsung jatuh begitu hubungan diantara keduanya ada masalah, bila keduanya segera sadar, kendali pesawat memungkinkan pesawat akan terbang normal lagi. Berbeda hallnya dengan fall in love, sekali tepeleset maka akan jatuh dengan sukses, dan ketika jatuh biasanya akan susah bangun lagi, seperti petikan lagu yang seperti ini:
aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
aku tenggelam dalam lautan luka dalam
aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang

So, move on itu susah atau tidaknya memang relatif, tapi sekali lagi, semua itu berasal dari satu kesalahan yang sama, kalian tidak mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan selama perjalanan kalian (baca:pacaran) dan tiba - tiba masalah itu datang dan kalian tidak siap. Jadi sebelum mulai pacaran, siapkan dirimu untuk menerima kenyataan bahwa suatu saat mungkin kalian akan berpisah, jadi berikan seperlunya saja pada saat pacaran, dan berikan semuanya pada saat kalian sudah menikah.

Sabtu, 03 Mei 2014

Belajar Move ON


ada yang pernah denger ungkapan ini? "Move on itu susah karena kita sekolah dari SD sampe sekarang itu diajari buat menghafal dan mengingat, bukan melupakan"
sepintas ada benarnya juga sih kalo dipikir. Tapi semakin saya pikir-pikir lagi, ternyata kita selama ini adalah korban kesalahan sistem, salah satunya adalah sistem pendidikan yang membesarkan kita ini. Namun saya tidak mau menyalahkan sistem disini, karena bagaimanapun saya sudah berjuang sekian lama di dalam sistem tersebut sampai sekarang ini. Saya hanya mengkritisi bagian dimana anak-anak yang dibesarkan di dalam sistem tersebut, yang menjadi anak-anak muda jaman sekarang yang melahirkan generasi dengan kegalauan yang semakin hari semakin memprihatinkan. Keprihatinan saya tergelitik ketika saya membaca ungkapan diatas tadi. bentuk penalaran yang dangkal akibat dari pendidikan yang hanya mengingat dan menghafalkan, jadinya ya anak-anak kayak gini, hanya berpikiran dangkal dan pragmatis. Memprihatinkan sekali.
Nah, mari kita luruskan pada konsep yang benar. Kalo kamu susah move, ya jangan nyalahin jaman SD mu, Jaman eSeMPe mu, jaman eSeMA mu atau eSeMKa mu, tapi ngaca sama diri sendiri, koreksi diri sendiri. Kalo dulu pas kamu sekolahnya belajar dengan bener, kamu pasti nggak kayak gini sekarang. Siapa yang suruh kamu belajar asal-asalan, masuk sekolah asal-asalan, belajar di kelas juga asal-asalan. Lebih banyak nggosip daripada diskusi pelajaran, lebih asyik ngusilin temen daripada ngedengerin guru njelasin materi, lebih suka maen PS daripada belajar. Hayoo ngaku aja kalo kamu-kamu dulu begitu,, jadi kalo kamu sekarang gak bisa move on kayak gini, itu berarti salah kamu sendiri..
Eh, mesti pada nanya-nanya nih, apa hubungannya hal itu tadi sama gak bisa move on? hehehe, sabar dulu, ikuti alur berpikirnya dulu, jangan suka lompat-lompat dan ambil jalan pintas kalo masih pengen belajar move on. Begini, cara kalian belajar waktu sekolah, menentukan cara berpikir kalian sampai dewasa. Bagaimana kalian menyikapi persoalan di sekolah, itu juga yang akan kalian lakukan saat menyikapi masalah kehidupan. Kalo kalian suka mencari jalan pintas waktu masih sekolah, nyontek misalnya, kalian juga akan suka mencari jalan pintas untuk mengatasi masalah kehidupan ini. Padahal setiap kita ini unik lho, kita memiliki masalah masing-masing  yang harus diselesaikan dengan cara kita sendiri, bukan cara orang lain yang kita adopsi. Cara yang berhasil di terapkan pada masalah orang lain belum tentu berhasil diterapkan di masalah kita, demikian sebaliknya. Bagaimanapun kita harus tetap berjuang dengan kemampuan yang kita miliki. Oke, kembali ke masalah belajar dan gagal move on tadi. Kalo selama ini kalian gaya belajarnya SKS (Sistem Kebut Semalem) kalo mau ujian, ya tentu saja kalian hanya belajar mengingat dan menghafalkan. Padahal sistem belajar yang baik adalah memahami untuk mengingat. Memahami disini melibatkan banyak sekali kegiatan dalam otak kita, yang membuat kita seringkali malas untuk melakukannnya. Memahami melibatkan proses mendengar, kemudian menyeleksi mana hal yang baik, yang memiliki keterkaitan, mana yang tidak dan harus dibuang, kemudian melihat keterkaitan antar hal tersebut dan merangkumnya menjadi sebuah konsep yang harus diingat. Ketika seseorang memiliki gaya belajar yang demikian, ia akan memiliki cara berpikir yang sama dalam menyikapi permasalahan hidup. Tidak akan mudah stres hanya karena satu cara yang dipakainya gagal. Otaknya yang sudah terbiasa bekerja dengan sistematis akan mengevaluasi cara kerja dan prosedur pekerjaannya untuk mengetahui proses mana yang tidak efektif dan berujung kegagalan. Memperbaiki celah dan memulai kembali prosedur tersebut sampai bisa menyelesaikan permasalahan yang ada. Masih belum paham kaitannya dengan move on?
Saya jelaskan lagi alurnya. Cara kita belajar disekolah menentukan gaya belajar kita tentang kehidupan. Gaya belajar kita menentukan cara berpikir kita dalam menyikapi masalah kehidupan. Gaya belajar yang terbiasa dengan sistem jalan pintas menghasilkan otak yang selalu meminta jalan pintas, sedangkan gaya belajar pada alur yang benar akan menghasilkan cara berpikir yang sistematis dan jelas menyelesaikan masalah. Dikaitkan dengan masalah berhubungan (baca:pacaran), hal ini memiliki keterkaitan yang cukup berarti. Pacaran adalah salah satu kondisi yang melibatkan banyak masalah kehidupan, dan seringkali terjadi, perpisahan (baca:putus) adalah masalah kehidupan terbesar dari beberapa mereka yang pernah pacaran. Banyak dari mereka yang tidak bisa mengatasi masalah perpisahan ini dan terus hidup dalam masa lalu seolah masih hidup bersama. Inilah yang menjadi masalah, mereka tidak bisa mengevaluasi apa yang mereka telah lakukan dan tidak bisa melihat sisi baik buruk dari apa yang telah mereka lakukan. Padahal, biasanya mereka sudah salah memulainya dari awal (baca: salah motivasi) sehingga karena satu dan lain hal mereka harus berpisah dan tidak bisa menerima kenyataan itu. Kalau kita biasa berpikir untuk memahami, bukan menghafalkan dan mengingat, kita akan segera mencari tahu kenapa hal ini terjadi, bukannya meratapi kenapa hal ini terjadi. Dengan memahami apa yang terjadi, kita akan memperoleh gambaran yang lebih luas tentang masalah ini dan langkah apa yang akan kita ambil. So, move bukan lah hal yang sulit kalo kita bisa memahami apa yang sebenarnya telah terjadi.
Namun demikian, saya mencoba memberikan beberapa tips praktis untuk move on.
  1. Pikirkan lagi tujuan awal kalian pacaran, hanya untuk status, bersenang-senang, mengisi waktu luang, buat temen malem mingguan aja atau memang serius mau nikah?
  2. Kalo emang tujuan awal kalian pacaran buat nikah, pikirkan lagi apakah memang dia sudah layak untukmu, ataukah dirimu sudah layak untuknya? kalo belum jangan buru-buru menyesal, kembangkan dirimu dulu sampai selayaknya.
  3. Kalo tujuan awal kalian selain buat nikah, ngapain juga kalian pada stress gak bisa move on? Masih banyak cewek/cowok yang lain kan?? Mau ngomong, "nggak ada yang sebaik dia lagi"? itu cuma omong kosong otakmu aja. Otak mu menggosip sedemikian rupa sehingga seolah-olah dia yang terbaik. Mulai buka mata dan lihat sekelilingmu.
  4. Kalo cara ketiga masih nggak berhasil, ambil cermin dulu. Ngaca!!
  5. Kalo ngaca masih nggak bisa liat kenapa kamu gak bisa move on, bertanyalah pada rumput yang bergoyang.
MOVE ON MEMANG TIDAK SEMUDAH MEMBALIK TELAPAK TANGAN TAPI JUGA TIDAK SESULIT PUNGGUK MEMELUK BULAN.

Selasa, 12 November 2013

Balance Congruency : Bukan Sekedar Jodoh yang Cocok

Balance Congruency, mungkin kata-kata tersebut tidak begitu asing bagi anda, namun kombinasi kata-kata tersebut berduet mungkin terdengar asing bagi anda. Balance Congruency adalah sebuah teori yang disampaikan oleh dosen saya, yang sebenarnya tidak berhubungan sama sekali dengan mata kuliah yang diampunya. Teori ini adalah hasil keisengan berpikir, waktu kosong di dalam kereta solo-jogja. Hal ini memang sebuah konsep yang berhubungan dengan masalah pasangan hidup, yang bagi sebagian besar orang menjadikan bahan kegalauan, penuh kebimbangan, keraguan, dan berbagai hal lain yang mengikutinya. Hal ini makin bertambah lagi pada mereka yang menyebut diri mereka 'jomblo', meskipun saya sendiri lebih suka menyebutkan (dalam postingan sebelumnya) Mandiri Berkualitas. ketika beliau menyampaikan teorinya, yang langsung kami ingat adalah potongan lingkaran seperti diagram venn yang saya pelajari di SMA, karena itulah yang beliau gambar di papan tulis. Tentu masih ingat bentuk ini kan??
Itu hanyalah konsep awalnya saja sih, karena konsepnya sedikit lebih rumit dari itu. Sebelum kita belajar lebih lanjut, ada pertanyaan penting yang harus dijawab terlebih dahulu. DALAM MEMILIH PACAR (PASANGAN HIDUP), apakah kalian lebih memilih ORANG YANG MEMILIKI BANYAK KESAMAAN DENGAN ANDA atau memilih ORANG YANG HAMPIR TIDAK MEMILIKI KESAMAAN (SEDIKIT KESAMAAN) DENGAN ANDA? Apapun jawaban anda, mari simpan pendapat anda hingga kesimpulan dari tulisan ini.
Oke, kita lanjut ke pembahasan awal kita. Dalam teori ini, lingkaran tersebut adalah segala sesuatu tentang diri kita dan pasangan kita, irisan yang di tengah melambangkan kesamaan yang ada di antara kita dan pasangan.Teori Balance Congruency ini memandang kondisi ideal yang sebaiknya di pilih adalah kondisi kedua, dimana pasangan yang baik adalah pasangan yang memiliki sedikit kesamaan. Seperti yang digambarkan pada gambar pertama diatas, sedangkan pasangan yang memiliki banyak sekali kesamaan digambarkan oleh irisan dibawah ini, dimana ruang irisannya sangatlah besar.








Alasan rasionalnya adalah pasangan yang memiliki banyak kesamaan ini akan cenderung nyaman dengan dunia mereka yang sama, kemana-mana bersama, melakukan aktifitas yang sama bersama-sama dan berbagai hal yang sama sehingga lupa tanggung jawab yang harus mereka lakukan untuk mengembangkan diri masing-masing menurut bakat dan minat masing-masing. Kondisi nyaman ini yang akan meningkatkan risiko mereka terlena larut dalam suasana berduaan, sampai suatu saat mereka sampai pada batas jenuh, tak ada lagi hal lain yang bisa dieksplorasi dari pasangan masing-masing. Kondisi yang sangat berbeda akan di alami oleh pasangan yang memiliki sedikit persamaan diantara mereka. di awal hubungan mungkin akan banyak konflik karena banyaknya ketidaksesuaian diantara mereka berdua. Namun seiring berjalannya waktu, semakin tumbuh cinta diantara mereka, akan ada beberapa hal yang berhasil dikompromikan dan saling diterima oleh pasangan. Hal baru ini tentu akan menambah kapasitas individual yang dimiliki masing-masing. Bila waktu terus berjalan, akan banyak hal yang dahulu berbeda sekarang menjadi satu dalam irisan kesamaan, dengan begitu bagian irisan yang dulu sedikit sekarang menjadi besar. Di sisi lain, disamping seorang mempelajari dunia baru dari pasangannya, yang menambah irisan kesamaan di antara mereka, individu ini juga memiliki waktu pribadi untuk mengembangkan diri sesuai bakat dan minatnya masing-masing. Waktu ini ada karena pasangan tipe ini tidak begitu banyak berfokus pada dunia bersama, sehingga masing-masing masih mampu memiliki waktu untuk melakukan aktifitas lain yang mengembangkan kapasitas dirinya. pada akhirnya, lingkaran kapasitas masing-masing individu akan terus membesar, dan masing-masing pasangan akan mampu selalu menemukan hal baru dari pasangannya, dan terus memperbesar irisan kesamaan diantara mereka sekaligus memperbesar lingkaran kapasitas diri pribadi. Berikut adalah gambarannya.







Gambar yang kiri menggambarkan kondisi awal hubungan, sedangkan gambar yang kanan adalah gambaran setelah kondisi ideal terjadi. Lingkaran hitam di gambar kanan merepresentasikan kemampuan awal, namun dengan irisan kesamaan yang lebih besar, sedangkan lingkaran biru yang lebih besar merepresentasikan kemampuan yang didapat hasil dari pengembangan diri dan pengenalan akan pasangan.
Nah, setelah kita mengetahui alasan-alasan dari teori ini, mungkin ada yang berargumen sebaliknya, mungkin juga ada yang sependapat. Semua keputusan ada pada anda, saya hanya ingin berbagi dengan anda, semoga membantu memberikan pertimbangan untuk anda memutuskan dengan siapa anda akan menghabiskan sisa hidup anda. Karena Pernikahan seharusnya hanya menjadi moment sakral sekali seumur hidup, maka keputusan untuk menentukan pendamping mana yang kepadanya anda akan mengucapkan janji setia sehidup semati adalah orang terbaik untuk anda.
Selamat Belajar, semoga anda mendapatkan yang terbaik.

Selasa, 08 Oktober 2013

MENJADI MANDIRI BERKUALITAS BUKAN SEKEDAR JOMBLO

Akhirnya blog ini update juga setelah sekian lama dianggurin karena ditinggal sibuk oleh pemiliknya..
Sebenernya masih ada beberapa kesibukan juga sih, namun karena lagi suntuk dengan banyak kesibukan, refreshing dulu deh dengan mampir di sini, memindahkan file-file yang udah memenuhi otakku ini ke external memori. Oke, sebelum kita masuk ke file-file intinya, baca dulu beberapa kata pengantarnya ini. Mengapa folder kali ini berjudul demikian, karena akhir-akhir ini, lingkungan di sekitar saya sedang sensitif dengan isu ini, beberapa kejadian yang menimbulkan kecemburuan para 'jomblowan dan jomblowati' pada mereka yang sudah berstatus 'couple'. Oke, secara pribadi saya kurang suka dengan penggunaan kata JOMBLO ini, karena dari Kamus Besar Bahasa Indonesia yang saya baca, kata jomblo ini tidak ditemukan. Setelah melewati beberapa tahap penyidikan dan penyelidikan, akhirnya ditemukan bahwa JOMBLO itu ditemukan dari kata JOMLO, yang di KBBI diartikan sebagai 'gadis tua atau perawan tua'. Kata ini mengalami pergeseran ucapan karena kesalahan pengucapan. Seperti kata 'jumlah' yang kadang ada yg menuliskan 'jumplah', dan huruf "p" dengan "b" itu memiliki rima vokal. Karena kata JOMLO ini terdengar janggal bila ditulis JOMPLO, yang sering kita liat adalah kata JOMBLO, dan kata ini yang dipakai secara luas oleh kalangan umum. Dari dasar inilah saya tidak begitu menyukai penggunaan kata ini untuk menyebut mereka yang tidak atau belum pacaran. Jadi pada folder ini saya saya ingin mengganti kata JOMBLO ini dengan istilah Mandiri Berkualitas. Selain itu, kadang janggal juga sih, kalo yang berpacaran kan disebutnya couple, jadi ya lebih enak kalo yang belum atau sedang tidak berpacaran itu disebut single.  Bagi saya, istilah ini mewakili kualitas seharusnya dari mereka yang memang sedang mempersiapkan diri untuk menyandang status "couple".

Selanjutnya, untuk mempersiapkan diri pada kehidupan selanjutnya, menjadi mandiri dan berkualitas itu sangat penting. Kita yang saat ini sedang menikmati masa-masa anugerah 'sendiri' sudah seharusnya memperlengkapi diri, menjadi pribadi yang yang tidak bergantung pada orang lain, baik dalam area fisik, psikis, sikap, perilaku yang dewasa, yang identik dengan kemandirian. Selain itu, kita juga harus berkualitas, karena sudah tentu, seperti kita mengharapkan mendapatkan pasangan hidup yang terbaik, begitu juga calon pasangan hidup kita tentu saja mengharapkan mendapatkan pasangan hidup yang terbaik. Jadi bagaimana bisa kita bisa berharap mendapatkan pasangan yang sangat baik tapi kita tidak mempersiapkan diri kita untuk menjadi pribadi yang sebaik-baiknya. Bukankah sering kita mendengar bahwa "janganlah kamu menjadi pasangan yang tidak seimbang", ya kan? maka dari itu, selama kita masih diberi waktu untuk memperlengkapi diri kita untuk menjadi lebih baik seperti yang diharapkan, kembangkan diri sebaik-baiknya sesuai kualitas yang seharusnya. Sudah ndak jaman lagi kita galau karena ndak memiliki pacar, karena pada hakikatnya pacaran tidak hanya sekedar memiliki pacar. Penjelasannya akan saya sampaikan pada folder selanjutnya aja ya, udah mau kuliah nih,,

Sementara ini, persiapkan diri, ubah pola pikir, pasti bisa menjadi mandiri berkualitas.

Senin, 13 Mei 2013

MOVE FORWARD

Hari gini masih berjuang buat move on? Think again.
Ibarat mobil, move on itu istilahnya 'just turn on' mobil itu, artinya mobil itu masih d tempat yg sama (belum bergerak), cuma nyala aja mesinnya. Untuk mobilnya bisa bergerak, tekan koplingnya, masukin gigi satu, tekan gasnya, lepas kopling, baru maju deh mobilnya,, sampe kapan sih kita masih terus berjuang untuk nyalain mesin tapi gak pernah maju. Mesin nyala tapi ndak bergerak itu sama aja dengan pemborosan energi lho..

Melihat status di timeline facebook, dan mantengin tweets para tweeps di twitter, jadi berpikir deh kalo anak-anak sekarang itu slalu berpikir pragmatis, instan dan sempit. mereka ndak mau berpikir luas, holistik dan komprehensif. Memang sih kita harus berfikir fokus juga untuk beberapa hal, tapi ada lebih banyak hal yang harus kita pikirkan dengan komprehensif, holistik. 
sebagai anak muda, harusnya kita sudah mampu bepikir kritis logis, sudah bisa menggunakan dan mengontrol emosi dengan baik, artinya kognisi mampu menguasai dan mengontrol emosi, bukan emosi yang menguasai kognisi, itu kebalik. masalah perasaan emang kadang susah buat di kontrol, tapi adalah salah kalau kita terus-terusan ngalah atau bahkan kalah sama emosi tersebut. 
kembali ke bahasan tadi, sekilas arti move on sama move forward emang terdengar mirip sih, tapi aku merasa ada yang beda disitu. udah dijelasin di awal kan bedanya dimana. move on sih gapapa, tapi kalau ndak salah ionget sih dulu pernah ada satu pepatah yang sangat terkenal di dunia opera, "apapun yang terjadi, show must go on". kalau udah begitu, ndak ada gunanya lagi menyesali nasi yang udah jadi bubur. bubur itu akan tetap jadi bubur, gak bisa jadi nasi lagi. makanya tuh dibikin bubur ayam, jadi tetep bisa dimakan, masih bisa mengenyangkan juga kok.
Jadi skarang udah ndak jamannya lg brjuang move on, kita harus mulai ganti dengan move forward, bukan cuma sekedar 'nyala', tapi dengan lebih spesifik, kita bergerak maju.

Senin, 30 April 2012

KESALAHAN


1.      “kamu adalah cinta sejatiku, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama”
Kesalahan pengucapan kalimat tersebut ditemukan dalam kata “pada pandangan pertama”. Cinta sejati itu bukan cinta kilat atau cinta instan, cinta sejati itu adalah cinta yang telah teruji dan terbukti mampu melewati rintangan, godaan, dan hambatan untuk menjadi cinta sejati. Cinta itu slalu butuh waktu untuk jadi cinta sejati. Jadi kalimat yang seharusnya muncul adalah, “kamu adalah cinta sejatiku, aku telah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Aku selalu bertambah cinta setiap memandangmu.”

2.      “kamu cantik hari ini”, “kamu tampak lebih cantik”
Ungkapan ini perlu dicermati dari motif pengucapan kalimat pujian ini. Ada kemungkinan pujian ini muncul karena sejujurnya pengen bilang, “kemarin kamu jelek” atau “kenapa kamu cantik ndak dari kemarin sih?” ungkapan cinta yang tulus seharusnya memberikan pujian yang tulus, ungkapan yang bener untuk diungkapkan harusnya, “kamu selalu cantik dimataku, demikian juga hari ini.”

3.      “cinta itu datang dari mata turun ke hati”
Ini merupakan salah satu kesalahan persepsi dan kesalahan linguistic yang mengakibatkan kesalahan atribusi. Orang jawa bilang sih, salah tapi wes lumrah (salah tapi udah jadi biasa). Sebenarnya dari mata tidak turun ke hati karena alasan berikut. Hati (liver) jelas tidak bisa digunakan untuk merasa, harusnya indera perasa itu malah kulit, hati itu sebagai penawar racun dan gudang glikogen. Sedangkan orang inggris menyebutnya heart. Dalam bahasa saya, heart itu diartikannya sebagai jantung, gunanya sebagai mesin pemompa darah, ndak sempet buat ngurusi masalah cinta. Lalu apa yang seharusnya dikatakan??  “cinta itu datang dari mata mundur ke otak”, itulah yang harusnya dikatakan. Reseptor impuls penglihatan itu terletak di lobus oksipitalis di bagian belakang kepala. Karena mata sebagai indera penglihatan terletak di bagian paling depan dari kepala, maka cinta itu datang dari mata mundur ke otak. Karena otaklah yang memiliki fungsi persepsi, bisa membedakan rasa, termasuk rasa cinta yang datang, bukan hati yang sebagai penawar racun atau heart sebagai mesin pemompa darah.

4.      “cinta itu tak harus memiliki”
Ini adalah kesalahan BESAR!! Cinta itu mutlak dan menuntut untuk memiliki. Jika cinta tak harus memiliki, trus apa dong yang dicintai?? Mutlak harus memiliki karena cinta itu satu paket dengan dorongan  nafsu, dia tidak bisa sendirian aja tumbuh. Bagaimanapun cinta itu menuntut untuk memiliki sepenuhnya. Jika “rasa” itu tak harus memiliki, maka sesungguhnya “rasa” tesebut adalah KASIH, like sunshine, just giving, never take it back.

diatas hanyalah beberapa contoh kecil kesalahan-kesalahan yang sering ditemui. memang cinta itu adalah masalah perasaan, tapi sebagai manusia kita juga tidak boleh meninggalkan begitu saja anugerah istimewa bagi ciptaan-Nya yang disebut akal pikiran (logika) itu. kita harus menyeimbangkan keduanya agar tercapai hidup yang lebih baik. Salam iseng dari Plato.