Senin, 18 Juni 2012

TEMANI AKU

Dalam pekatnya malam ini


Kutumpahkan tinta segelap mendung di langit kelabu


Kuusapkan pada kanvas kalbu dalam goresan kesunyian


Sepi sendiri dalam kegagahan hitam yang mengurung ragaku.


Wahai engkau yang kutunggu hadirmu


Seberkas cahaya kehidupan yang memancar terangi gelapku


Lilin kecil yang berjuang melawan gagahnya kekelaman,


Dalam setiap sinarmu terpancar sebuah ungkapan


“Tenanglah sayang, kau tak sendiri dalam gelapmu,aku disini untuk menemanimu”







behind the scene:
karya ini tergores dua desember dua ribu sebelas saat penggores sedang sendirian di kos, dalam keremangan senja. Mendung yang menggelayut sedari waktu tergelincirnya matahari menambah keremangan hatinya. Kegundahan pun memuncah tatkala hujan rintik-rintik mulai turun membasahi bumi ini, namun tidak begitu dengan hatinya yang tetap kering kerontang. Kesepianpun makin memberontak saat listrik tiba-tiba ngambek tak mau mengalir, kegelapan menjadi semakin menggila menambah kegundahan. Kesendirian dan kesepian semakin menjadi jadi saat perut mulai protes dengan apa yang dikerjakan empunya. Penggores menjadi semakin resah dalam sejuta kegundahan hatinya yang tertawan oleh pekatnya malam, dalam kesunyian yang membelenggu hatinya. Muncul akal sehatnya untuk mencari sebuah lilin dan menyalakannya. Dan kepekatan sedikit demi sedikit memudar, kesunyian perlahan menghilang dan kesepian menjadi kehilangan kuasanya atas penggores. Lilin kecil, dengan sinarnya yang teramat kecil, ternyata mampu menerangi hati sang penggores, layaknya sinar mentari di pagi hari, yang cerahkan bumi sepanjang hari.