Dalam pekatnya malam ini
Kutumpahkan tinta segelap mendung di langit kelabu
Kuusapkan pada kanvas kalbu dalam goresan kesunyian
Sepi sendiri dalam kegagahan hitam yang mengurung ragaku.
Wahai engkau yang kutunggu hadirmu
Seberkas cahaya kehidupan yang memancar terangi gelapku
Lilin kecil yang berjuang melawan gagahnya kekelaman,
Dalam setiap sinarmu terpancar sebuah ungkapan
“Tenanglah sayang, kau tak sendiri dalam gelapmu,aku disini untuk menemanimu”
behind the scene:
karya ini tergores dua desember dua ribu sebelas
saat penggores sedang sendirian di kos, dalam keremangan senja. Mendung yang
menggelayut sedari waktu tergelincirnya matahari menambah keremangan hatinya.
Kegundahan pun memuncah tatkala hujan rintik-rintik mulai turun membasahi bumi
ini, namun tidak begitu dengan hatinya yang tetap kering kerontang. Kesepianpun
makin memberontak saat listrik tiba-tiba ngambek tak mau mengalir, kegelapan
menjadi semakin menggila menambah kegundahan. Kesendirian dan kesepian semakin
menjadi –jadi
saat perut mulai protes dengan apa yang dikerjakan empunya. Penggores menjadi
semakin resah dalam sejuta kegundahan hatinya yang tertawan oleh pekatnya
malam, dalam kesunyian yang membelenggu hatinya. Muncul akal sehatnya untuk
mencari sebuah lilin dan menyalakannya. Dan kepekatan sedikit demi sedikit
memudar, kesunyian perlahan menghilang dan kesepian menjadi kehilangan kuasanya
atas penggores. Lilin kecil, dengan sinarnya yang teramat kecil, ternyata mampu
menerangi hati sang penggores, layaknya sinar mentari di pagi hari, yang
cerahkan bumi sepanjang hari.
Kutumpahkan tinta segelap mendung di langit kelabu
Kuusapkan pada kanvas kalbu dalam goresan kesunyian
Sepi sendiri dalam kegagahan hitam yang mengurung ragaku.
Wahai engkau yang kutunggu hadirmu
Seberkas cahaya kehidupan yang memancar terangi gelapku
Lilin kecil yang berjuang melawan gagahnya kekelaman,
Dalam setiap sinarmu terpancar sebuah ungkapan
“Tenanglah sayang, kau tak sendiri dalam gelapmu,aku disini untuk menemanimu”