Tampilkan postingan dengan label Kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kenangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Mei 2014

Leadership Camp 2014

Leadership Camp PMK UNS 2014, UNStoppable Leader, 9-11 Mei 2014 di el-Bethel, Karangpandan, Karang Anyar Jawa Tengah Indonesia.

Tim UNStoppable Dosum 


All tim peserta dan panitia UNStoppable Leader



All Crew UNStoppable Leader


Rabu, 23 April 2014

Journey to the West a.k.a JKTbukan48

Sore itu, Kamis sepuluh Januari dua ribu empat belas petualangan dimulai. Hari itu cukup padat kuliah kami, tiga serangkai ini baru selesai kuliah jam 2.15 pm, padahal kami harus mengejar kereta yang tertulis jam berangkatnya 15.46 pm. berpacu dengan waktu, kami transit di rumah saudara deddy, personel pertama. jam 3.15 kami berangkat menuju stasiun Solo Jebres, titik start keberangkatan kereta kami. mau kemana kita? ikuti saja kemana kita akan menuju dengan membaca cerita sampai saatnya kalian tahu tujuan kami. oke, kita sampai di stasiun pada 3.35, memang dekat saja dengan stasiun rumah teman kami ini. sepuluh menit kemudian gerbang pengecekan tiket dibuka dan kami masuk ke dalam peron, menunggu kereta yang akan membawa kami. tepat 3.45 kereta kami datang, KA Brantas dari kediri. dengan melihat jam keberangkatan itu, kalian yang biasa naik kereta tentu sudah tahu tujuan kami, bagi yang nggak biasa naik kereta, sabar saja ya, saya akan kasih tahu tujuan kami pada waktu yang tepat kok. Tanpa membuang waktu, kami segera naik kereta tersebut dan 5 menit kemudian stasiun mulai bergerak. Journey to the west begin.
seiring dengan laju kereta yang semakin cepat, semakin merambat turun mentari di sisi barat. keremangan senja terlihat mulai menyeruak mengangkahi bumi sore itu. kereta terus berjalan tanpa memperdulikan mentari yang hilang di telan gunung merbabu di sisi barat sana. kegelapan malam mulai nyata menghitamkan hampir semua objek yang bisa ditangkap mata. hanya kelap-kelip lampu kecil dari rumah-rumah penduduk di sisi kiri dan kanan kereta yang sesekali terlihat, menandakan bahwa kami semakin dekat dengan tujuan kami. melewati beberapa stasiun kecil di sepanjang perjalanan kami sampai kereta berhenti di stasiun Poncol Semarang. setelah beberapa saat menaik-turunkan penumpang, kereta kembali berjalan masih dalam kegelapan malam. Sepertinya baru berjalan beberapa waktu kereta berhenti lagi, ternyata saya ketiduran. tahu-tahu kami sudah berhenti di stasiun Tegal, semakin dekat dengan tujuan kami. Kereta berjalan lagi, masih dalam kegelapan malam, kami masih terus melintasi beberapa stasiun lagi sampai kami tiba di suatu tempat. Anda mungkin tahu dimana kami dari gambar ini.


Ya, kami tiba di stasiun Jatinegara jam 1.05 dini hari dan kami putuskan untuk transit tidur di stasiun tersebut. meski kami harus terpaksa mendonorkan darah kami untuk nyamuk-nyamuk yang sangat membutuhkan setetes darah kami. Setelah sholat subuh dan mandi, perjalanan kami lanjutkan. Pada jam 6 pagi itu, matahari jakarta sudah terbit sinarnya di langit timur, memancarkan cahaya keemasan mengiringi perjalanan kami. dengan menggunakan moda transportasi kebanggaan warga Jakarta, kami melanjutkan misi kami. Satu jam kemudian, sampailah kami pada tujuan misi ini.
Setelah menunggu hampir dua setengah jam, kami dipertemukan dengan beliau yang berwenang menerima kami. dan setengah jam kemudian segala urusan kami selesai. MISSION COMPLETE.

Dengan selesainya misi di kantor badan narkotika nasional, maka perjalanan kita selanjutnya adalah seperti babak bonus dalam game. kami memutuskan untuk mengunjungi kota tua jakarta.





Keesokan harinya, kami melanjutkan petualangan dengan mengunjungi salah satu ikon wisata kota jakarta. Sebuah tempat dimana dari sana kita bisa melihat panorama kota jakarta dari atas. Yup, kami melanjutkan petualangan ke Monumen Nasional.




Senin, 15 Oktober 2012

Kenangan Terulang Berbeda Rasa


Entah dari mana kumulai tulisan ini. Terlalu jauh kalau harus dirunut ke belakang, namun akan kerasa tiba-tiba banget dan bertanya-tanya kalo hanya dituliskan beberapa waktu ini aja. Jadi, mungkin akan sedikit panjang dan membosankan kalau semua ini dituliskan. Tapi semua itu harus dituliskan, jadi kunikmati saja menuliskannya.

Bagi yang tidak tahu, kisah ini berawal dari lebih kurang empat belas bulan yang lalu dimana semua hal dan segala sesuatunya bertemu. Tak ada kesan pertama yang luar biasa, tak ada apa yang orang-orang bilang j**** c***a pada pandangan pertama. Delapan hari berlalu, tetap tak ada hal istimewa yang perlu diceritakan, namun akan selalu ada kenangan indah yang terukir di hipokampus ini. Sorot mata teduhnya (meski terkadang sayu) terasa sejuk seperti datangnya mendung di kala panas terik. Keanggunan sikapnya membuatnya selalu membekas di hipokampus ini, selalu menempel layaknya perangko di kertas surat. Setelah kusadari beberapa waktu kemudian, ternyata aku telah jatuh hati pada pandangan pertama dan seterusnya, aku tak bisa menghapusnya dari hipokampusku, bahkan semakin hari semakin … ya kau tahu sendiri lah gimana rasanya, jangan pura-pura gak tau. Sebagai manusia yang hidup di jaman teknologi yang udah serba canggih kayak gini, maka komunikasi bukanlah hal yang sulit. Short Message Service benar-benar membuat rasa ini melambung entah sudah setinggi apa sampai aku tak bisa merasakan apa-apa. Maka, makin hari makin saja pengen kembali melihat senyumnya yang meneduhkan hati, menentramkan jiwa. Tapi kesibukan kuliah sungguh tidak bisa diajak bekerjasama banget,, saben hari selalu aja ada tugas yang harus diselesaikan. Semester pertama berakhir tanpa ada kesempatan untuk melihat kembali senyumnya yang melelehkan hati dan tatapannya yang meneduhkan hati.
Tahun baru, semangat baru tentu saja.. abis liburan juga,, jadi seger banget nih otak (atau minjem istilahnya mr. Douwess “encephalon”) tapi apa yang terjadi, kesempatan yang sungguh tidak pernah terpikirkan datang. Kembali ke kota Solo yang sekarang tercinta (dulu sih Gunung Rejo tercinta) dari indahnya kampung halaman nan hijau, telinga ini mendengar kabar dia dirumahnya, yang terjangkau oleh diriku. Karena sering mendengar berita bahwa kesempatan tidak datang dua kali, maka segera kusambar kesempatan itu. Pada angka tunggal tertinggi bulan kedua di tahun ini, kuputuskan untuk menyambangi rumahnya. Pagi itu, dengan tekad bulat ku berangkat dari kontrakan tercinta menuju kerumahnya, sayangnya aku tak ngerti yang mana rumahnya. Dengan tekad bulat dan sungguh nekat sampailah diterminal setempat. Berbekal petunjuk arah yang di berikan semalam sebelumnya, dimulailah long journey hari itu, berbekal 2 kaki yang setia menyusuri setiap sisi jalan dalam sms itu, akhirnya sampailah di rumahnya dengan keringat yang sudah terjun bebas dari kening dan dahi ini. Namun saat melihat senyumnya, serasa angin surga menerpa diriku, sejuk menghapus setiap keringat yang menetes. Hari itu kita mengobrol panjang lebar tinggi dalam kesana kemari sampai tak terasa lima jam telah kita habiskan bersama hari itu. Karena hari telah menunjukkan sore hari, tak enak kalau masih harus berlama-lama lagi, maka kuputuskan saja untuk mengakhiri pertemuan hari itu. Pulang dengan membawa entah sejuta atau lebih kenangan yang tersimpan dalam hippokampus ini. Hari itu tepat enam hari sebelum ulang tahunnya yang ke delapan belas.
Ternyata tepat sebulan setelah hari itu, kesempatan datang lagi, meski peluang itu tidak terbuka sepenuhnya, ada sedikit kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk melihat kembali senyumnya yang mengubahkan dunia, serta tatapan matanya yang meneduhkan hati. Hari itu harus travelling mencari-cari buku untuk membantu kelancaran kuliah. Setali tiga uang kata pepatah, atau sekali merengkuh dua pulau telampaui. Aku kembali mendapati senyum indahnya dan keteduhan itu. Masih sama seperti apa yang kudapatkan sebulan dan apa yang kudapatkan saat pertama kali bertemu. Pulang ke Solo tercinta dengan semangat baru, dengan kenangan baru yang terasa memenuhi ruang memori dalam hippokampusku. Namun, bayangan senyumnya seperti tak bisa lepas dari pandangan mataku, semester dua penuh dengan dirinya, senyumnya dan keteduhan tatapan itu.
Namun hal itu ternyata tidak semuanya menghasilkan hal positif bagiku, aku menyadari bahwa dia mengambil porsi terlalu banyak dalam pikiranku dan membuat yang lain mendapatkan porsi yang jauh kurang dari senormalnya. Maka dengan berat hati dua puluh tiga juli dua ribu dua belas, aku nyatakan padanya bahwa dengan berat hati aku harus mengurangi porsi dia di pikiranku ini. Dan dua bulan kemudian, semua kembali berjalan normal.
Tiga belas oktober, aku kembali harus melakukan perjalanan serupa dengan apa yang telah kulakukan tujuh bulan lalu. Dengan cara yang sedkit berbeda, dan pengalaman yang berbeda pula tentunya, aku masih mendapati prosesi yang sama untuk kembali bertemu dengannya. Ssebenarnya aku sudah tidak berhasrat lagi untuk menemuinya, namun rasa ini mendesakku mengambil kesempatan ini. Seperti dulu, kudatangi tempat dimana dia berada, bertemu dengan teman-teman seatapnya. Akan tetapi, dia masih menyimpan senyumnya di kamar bersama kesibukannya. Tak apa lah, aku sudah tidak berharap lagi mendapati senyumnya, hanya tak akan menolak kalau dia menampakkan senyumnya lagi. Hanya sekelebat lalu saja dia menampakkan diri, meski masih menyimpan senyumnya, masih kulihat tatapan teduhnya, damun bekan tatapn yang dulu ku lihat. Sekarang, kenangan itu terulang kembali, namun dengan rasa yang berbeda. Biarlah, mengenang kembali hari-hari itu, menghayati sepenggal syair yang pernah dilantunkan Kla Project ‘Yogyakarta’

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
a saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu

(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali) Oh…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Oh… Tak terobati

Musisi jalanan mulai beraksi, oh…
Merintih sendiri, di tengah deru, hey…
Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
(untuk s’lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati, oh…
(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali)
Tak kembali…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
Namun kotamu hadirkan senyummu yang, yang abadi
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
Izinkanlah untuk s’lalu, selalu pulang lagi
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Walau kini engkau telah tiada (tak kembali) tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu (abadi)
Senyummu abadi, abadi…

Minggu, 07 Oktober 2012

dalam kisah Lima Oktober Dua Ribu Dua Belas

entah kenapa dia datang hari itu, eh bukan. hari sebelumnya dia datang dan harus menginap ditempatku. tak ada kisah, karena memang malam itu kita tak berkisah seperti layaknya kisah aladin dalam 1001 malam nya. pagi aku bangun sepeti biasa, mengerjakan aktifitas biasa, dan semuanya hanya biasa-biasa saja..
semua berubah ketika dia menawarkan untuk kita berkeliling dan jalan-jalan.. harusnya aku yang menawarinya, tapi entah kenapa malah dia yang mengajakku jalan-jalan.. ya akhirnya kita pun berangkat bersama dua personel lain yang sudah menunggu kami, ya untung saja rutinitasku pagi itu udah mengagendakan untuk mandi pagi, jadi kita langsung berangkat aja. aku hanya ngikut aja kemana mereka pergi, istilah lainnya hanya menemani gitu lah.. the journey begin..
pagi itu berangkat mulai motor-motoran, mau berangkat pake ban motor kempes lagi, harus tambah angin dulu.. ban terisi, kitapun pergi.. setelah muter-muter menyusuri beberapa jalan utama di Surakarta, sampailah kita di tempat tujuan mereka TAMAN BALAEKAMBANG. setelah beberapa waktu muter-muter dan becanda ria dan ngobrol-ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon munggah mudhun dan sebagainya serta tidak lupa foto--foto tentunya.. yang perlu digarisbawahi dalam perjalanan kali ini adalah kami menemukan 2 pasang anak manusia yang mencoba berlaku dewasa, berdua-duaan di salah satu tempat (bukan sudut) yang sepi dan memang sungguh shocking banget ketika kami menemukan mereka. sayangnya kami tak bisa mengabadikan potret mereka untuk menjadi bahan kajian kita bersama. sungguh memprihatinkan kondisi anak-anak muda jaman ini, kita perlu lebih peduli pada mereka, generasi penerus bangsa ini. kita harus lebih banyak memberikan perhatian kita pada mereka, they NEED to CARE, mereka perlu perhatian kita. saat dunia ini berkonspirasi untuk membuat mereka kehilangan perhatian dan kasih sayang, mari kita tunjukkan bahwa kita memiliki apa yang mereka butuhkan, Change THEM to be Better, it's mean Change the WORLD. mari kawan kita kerjakan, mulai dari satu tindakan kecil berdampak besar..
lanjutkan perjalanan kita, hehehe,, terlalu semangat sama anak-anak.. setelah siang, yang bener-bener panas sangat hari itu, meluncur pulang, tapi kita mampir ke SS, ada jamuan dari saudari kita,, kami berterima kasih untuk saudari Juita Lorda La'ia yang memberikan kami makan siang penuh kesan, Huh Hah Huh Hah banget dah pokoknya siang itu.. makasih buat Anggreni Tri Kristyas yang telah mengabadikan momen spesial ini.. Special thanks to Andistia Han Putra yang membuat momen ini benar-benar spesial..

salah satu dari beberapa kenangan yang sempat terekam mata kamera.. percayalah kawan, meski tak terekam, masih aja jutaan kenangan indah yang tersimpan dalam otakku.

Senin, 14 Mei 2012

a sweet moment to remember




entah kenapa mereka menoleh ke arah yang sama, apa yang mereka liat ya??


ini adalah sweetest moment dari acara ini.

foto-foto ini diambil pada 31 maret 2012 di pantai sadranan pada kegiatan refreshing after transformation camp, beberapa pengurus PMK UNS dan beberapa panitia trafo menjadi saksi momen yang meninggalkan kesan yang tak terlupakan ini.