Entah dari mana kumulai tulisan ini. Terlalu jauh kalau harus dirunut ke
belakang, namun akan kerasa tiba-tiba banget dan bertanya-tanya kalo hanya
dituliskan beberapa waktu ini aja. Jadi, mungkin akan sedikit panjang dan
membosankan kalau semua ini dituliskan. Tapi semua itu harus dituliskan, jadi
kunikmati saja menuliskannya.
Bagi yang tidak tahu, kisah ini berawal dari lebih kurang empat belas bulan
yang lalu dimana semua hal dan segala sesuatunya bertemu. Tak ada kesan pertama
yang luar biasa, tak ada apa yang orang-orang bilang j**** c***a pada pandangan
pertama. Delapan hari berlalu, tetap tak ada hal istimewa yang perlu
diceritakan, namun akan selalu ada kenangan indah yang terukir di hipokampus
ini. Sorot mata teduhnya (meski terkadang sayu) terasa sejuk seperti datangnya
mendung di kala panas terik. Keanggunan sikapnya membuatnya selalu membekas di
hipokampus ini, selalu menempel layaknya perangko di kertas surat. Setelah kusadari
beberapa waktu kemudian, ternyata aku telah jatuh hati pada pandangan pertama
dan seterusnya, aku tak bisa menghapusnya dari hipokampusku, bahkan semakin
hari semakin … ya kau tahu sendiri lah gimana rasanya, jangan pura-pura gak
tau. Sebagai manusia yang hidup di jaman teknologi yang udah serba canggih
kayak gini, maka komunikasi bukanlah hal yang sulit. Short Message Service
benar-benar membuat rasa ini melambung entah sudah setinggi apa sampai aku tak
bisa merasakan apa-apa. Maka, makin hari makin saja pengen kembali melihat
senyumnya yang meneduhkan hati, menentramkan jiwa. Tapi kesibukan kuliah
sungguh tidak bisa diajak bekerjasama banget,, saben hari selalu aja ada tugas
yang harus diselesaikan. Semester pertama berakhir tanpa ada kesempatan untuk
melihat kembali senyumnya yang melelehkan hati dan tatapannya yang meneduhkan
hati.
Tahun baru, semangat baru tentu saja.. abis liburan juga,, jadi seger
banget nih otak (atau minjem istilahnya mr. Douwess “encephalon”) tapi apa yang terjadi, kesempatan yang sungguh tidak
pernah terpikirkan datang. Kembali ke kota Solo yang sekarang tercinta (dulu
sih Gunung Rejo tercinta) dari indahnya kampung halaman nan hijau, telinga ini
mendengar kabar dia dirumahnya, yang terjangkau oleh diriku. Karena sering
mendengar berita bahwa kesempatan tidak datang dua kali, maka segera kusambar
kesempatan itu. Pada angka tunggal tertinggi bulan kedua di tahun ini, kuputuskan
untuk menyambangi rumahnya. Pagi itu, dengan tekad bulat ku berangkat dari
kontrakan tercinta menuju kerumahnya, sayangnya aku tak ngerti yang mana
rumahnya. Dengan tekad bulat dan sungguh nekat sampailah diterminal setempat. Berbekal
petunjuk arah yang di berikan semalam sebelumnya, dimulailah long journey hari
itu, berbekal 2 kaki yang setia menyusuri setiap sisi jalan dalam sms itu,
akhirnya sampailah di rumahnya dengan keringat yang sudah terjun bebas dari
kening dan dahi ini. Namun saat melihat senyumnya, serasa angin surga menerpa
diriku, sejuk menghapus setiap keringat yang menetes. Hari itu kita mengobrol
panjang lebar tinggi dalam kesana kemari sampai tak terasa lima jam telah kita
habiskan bersama hari itu. Karena hari telah menunjukkan sore hari, tak enak
kalau masih harus berlama-lama lagi, maka kuputuskan saja untuk mengakhiri
pertemuan hari itu. Pulang dengan membawa entah sejuta atau lebih kenangan yang
tersimpan dalam hippokampus ini. Hari itu tepat enam hari sebelum ulang
tahunnya yang ke delapan belas.
Ternyata tepat sebulan setelah hari itu, kesempatan datang lagi, meski
peluang itu tidak terbuka sepenuhnya, ada sedikit kesempatan yang dapat
dimanfaatkan untuk melihat kembali senyumnya yang mengubahkan dunia, serta
tatapan matanya yang meneduhkan hati. Hari itu harus travelling mencari-cari
buku untuk membantu kelancaran kuliah. Setali tiga uang kata pepatah, atau
sekali merengkuh dua pulau telampaui. Aku kembali mendapati senyum indahnya dan
keteduhan itu. Masih sama seperti apa yang kudapatkan sebulan dan apa yang
kudapatkan saat pertama kali bertemu. Pulang ke Solo tercinta dengan semangat
baru, dengan kenangan baru yang terasa memenuhi ruang memori dalam
hippokampusku. Namun, bayangan senyumnya seperti tak bisa lepas dari pandangan
mataku, semester dua penuh dengan dirinya, senyumnya dan keteduhan tatapan itu.
Namun hal itu ternyata tidak semuanya menghasilkan hal positif bagiku, aku
menyadari bahwa dia mengambil porsi terlalu banyak dalam pikiranku dan membuat
yang lain mendapatkan porsi yang jauh kurang dari senormalnya. Maka dengan
berat hati dua puluh tiga juli dua ribu dua belas, aku nyatakan padanya bahwa
dengan berat hati aku harus mengurangi porsi dia di pikiranku ini. Dan dua
bulan kemudian, semua kembali berjalan normal.
Tiga belas oktober, aku kembali harus melakukan perjalanan serupa dengan
apa yang telah kulakukan tujuh bulan lalu. Dengan cara yang sedkit berbeda, dan
pengalaman yang berbeda pula tentunya, aku masih mendapati prosesi yang sama
untuk kembali bertemu dengannya. Ssebenarnya aku sudah tidak berhasrat lagi
untuk menemuinya, namun rasa ini mendesakku mengambil kesempatan ini. Seperti dulu,
kudatangi tempat dimana dia berada, bertemu dengan teman-teman seatapnya. Akan tetapi,
dia masih menyimpan senyumnya di kamar bersama kesibukannya. Tak apa lah, aku
sudah tidak berharap lagi mendapati senyumnya, hanya tak akan menolak kalau dia
menampakkan senyumnya lagi. Hanya sekelebat lalu saja dia menampakkan diri,
meski masih menyimpan senyumnya, masih kulihat tatapan teduhnya, damun bekan
tatapn yang dulu ku lihat. Sekarang, kenangan itu terulang kembali, namun
dengan rasa yang berbeda. Biarlah, mengenang kembali hari-hari itu, menghayati
sepenggal syair yang pernah dilantunkan Kla Project ‘Yogyakarta’
Pulang
ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgia saat kita sering luangkan
waktu
Nikmati bersama suasana Jogja
Di
persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu
(Walau
kini kau t’lah tiada tak kembali) Oh…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Oh… Tak terobati
Musisi
jalanan mulai beraksi, oh…
Merintih sendiri, di tengah deru, hey…
Walau
kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
(untuk s’lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati, oh…
(Walau
kini kau t’lah tiada tak kembali)
Tak kembali…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
Namun kotamu hadirkan senyummu yang, yang abadi
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
Izinkanlah untuk s’lalu, selalu pulang lagi
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Walau
kini engkau telah tiada (tak kembali) tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu (abadi)
Senyummu abadi, abadi…