Senin, 30 April 2012

KESALAHAN


1.      “kamu adalah cinta sejatiku, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama”
Kesalahan pengucapan kalimat tersebut ditemukan dalam kata “pada pandangan pertama”. Cinta sejati itu bukan cinta kilat atau cinta instan, cinta sejati itu adalah cinta yang telah teruji dan terbukti mampu melewati rintangan, godaan, dan hambatan untuk menjadi cinta sejati. Cinta itu slalu butuh waktu untuk jadi cinta sejati. Jadi kalimat yang seharusnya muncul adalah, “kamu adalah cinta sejatiku, aku telah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Aku selalu bertambah cinta setiap memandangmu.”

2.      “kamu cantik hari ini”, “kamu tampak lebih cantik”
Ungkapan ini perlu dicermati dari motif pengucapan kalimat pujian ini. Ada kemungkinan pujian ini muncul karena sejujurnya pengen bilang, “kemarin kamu jelek” atau “kenapa kamu cantik ndak dari kemarin sih?” ungkapan cinta yang tulus seharusnya memberikan pujian yang tulus, ungkapan yang bener untuk diungkapkan harusnya, “kamu selalu cantik dimataku, demikian juga hari ini.”

3.      “cinta itu datang dari mata turun ke hati”
Ini merupakan salah satu kesalahan persepsi dan kesalahan linguistic yang mengakibatkan kesalahan atribusi. Orang jawa bilang sih, salah tapi wes lumrah (salah tapi udah jadi biasa). Sebenarnya dari mata tidak turun ke hati karena alasan berikut. Hati (liver) jelas tidak bisa digunakan untuk merasa, harusnya indera perasa itu malah kulit, hati itu sebagai penawar racun dan gudang glikogen. Sedangkan orang inggris menyebutnya heart. Dalam bahasa saya, heart itu diartikannya sebagai jantung, gunanya sebagai mesin pemompa darah, ndak sempet buat ngurusi masalah cinta. Lalu apa yang seharusnya dikatakan??  “cinta itu datang dari mata mundur ke otak”, itulah yang harusnya dikatakan. Reseptor impuls penglihatan itu terletak di lobus oksipitalis di bagian belakang kepala. Karena mata sebagai indera penglihatan terletak di bagian paling depan dari kepala, maka cinta itu datang dari mata mundur ke otak. Karena otaklah yang memiliki fungsi persepsi, bisa membedakan rasa, termasuk rasa cinta yang datang, bukan hati yang sebagai penawar racun atau heart sebagai mesin pemompa darah.

4.      “cinta itu tak harus memiliki”
Ini adalah kesalahan BESAR!! Cinta itu mutlak dan menuntut untuk memiliki. Jika cinta tak harus memiliki, trus apa dong yang dicintai?? Mutlak harus memiliki karena cinta itu satu paket dengan dorongan  nafsu, dia tidak bisa sendirian aja tumbuh. Bagaimanapun cinta itu menuntut untuk memiliki sepenuhnya. Jika “rasa” itu tak harus memiliki, maka sesungguhnya “rasa” tesebut adalah KASIH, like sunshine, just giving, never take it back.

diatas hanyalah beberapa contoh kecil kesalahan-kesalahan yang sering ditemui. memang cinta itu adalah masalah perasaan, tapi sebagai manusia kita juga tidak boleh meninggalkan begitu saja anugerah istimewa bagi ciptaan-Nya yang disebut akal pikiran (logika) itu. kita harus menyeimbangkan keduanya agar tercapai hidup yang lebih baik. Salam iseng dari Plato.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar