1.
“kamu
adalah cinta sejatiku, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama”
Kesalahan pengucapan kalimat tersebut ditemukan dalam kata
“pada pandangan pertama”. Cinta sejati itu bukan cinta kilat atau cinta instan,
cinta sejati itu adalah cinta yang telah teruji dan terbukti mampu melewati
rintangan, godaan, dan hambatan untuk menjadi cinta sejati. Cinta itu slalu
butuh waktu untuk jadi cinta sejati. Jadi kalimat yang seharusnya muncul
adalah, “kamu adalah cinta sejatiku, aku telah jatuh cinta padamu pada
pandangan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Aku selalu bertambah cinta
setiap memandangmu.”
2.
“kamu
cantik hari ini”, “kamu tampak lebih cantik”
Ungkapan ini perlu dicermati dari motif pengucapan kalimat
pujian ini. Ada kemungkinan pujian ini muncul karena sejujurnya pengen bilang,
“kemarin kamu jelek” atau “kenapa kamu cantik ndak dari kemarin sih?” ungkapan
cinta yang tulus seharusnya memberikan pujian yang tulus, ungkapan yang bener
untuk diungkapkan harusnya, “kamu selalu cantik dimataku, demikian juga hari
ini.”
3.
“cinta
itu datang dari mata turun ke hati”
Ini
merupakan salah satu kesalahan persepsi dan kesalahan linguistic yang
mengakibatkan kesalahan atribusi. Orang jawa bilang sih, salah tapi wes lumrah (salah tapi udah jadi biasa). Sebenarnya dari
mata tidak turun ke hati karena alasan berikut. Hati (liver) jelas tidak bisa digunakan untuk merasa, harusnya indera
perasa itu malah kulit, hati itu sebagai penawar racun dan gudang glikogen.
Sedangkan orang inggris menyebutnya heart.
Dalam bahasa saya, heart itu
diartikannya sebagai jantung, gunanya sebagai mesin pemompa darah, ndak sempet
buat ngurusi masalah cinta. Lalu apa yang seharusnya dikatakan?? “cinta itu datang dari mata mundur ke otak”,
itulah yang harusnya dikatakan. Reseptor impuls penglihatan itu terletak di
lobus oksipitalis di bagian belakang kepala. Karena mata sebagai indera
penglihatan terletak di bagian paling depan dari kepala, maka cinta itu datang
dari mata mundur ke otak. Karena otaklah yang memiliki fungsi persepsi, bisa
membedakan rasa, termasuk rasa cinta yang datang, bukan hati yang sebagai
penawar racun atau heart sebagai mesin pemompa darah.
4.
“cinta
itu tak harus memiliki”
Ini adalah kesalahan BESAR!! Cinta itu mutlak dan menuntut
untuk memiliki. Jika cinta tak harus memiliki, trus apa dong yang dicintai??
Mutlak harus memiliki karena cinta itu satu paket dengan dorongan nafsu, dia tidak bisa sendirian aja tumbuh.
Bagaimanapun cinta itu menuntut untuk memiliki sepenuhnya. Jika “rasa” itu tak
harus memiliki, maka sesungguhnya “rasa” tesebut adalah KASIH, like sunshine, just giving, never take it
back.
diatas hanyalah beberapa contoh kecil kesalahan-kesalahan yang sering ditemui. memang cinta itu adalah masalah perasaan, tapi sebagai manusia kita juga tidak boleh meninggalkan begitu saja anugerah istimewa bagi ciptaan-Nya yang disebut akal pikiran (logika) itu. kita harus menyeimbangkan keduanya agar tercapai hidup yang lebih baik. Salam iseng dari Plato.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar