Jumat, 05 Desember 2014

Ayah, Bolehkah aku pinjam uang mu Sepuluh ribu saja?

Suatu sore, seorang anak laki-laki yang masih kecil mendatangi ayahnya yang sedang beristirahat di sofa ruang keluarganya. Anak ini kemudian memulai dialog dengan ayahnya.
Anak : "Ayah, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"
Ayah : "Tentu boleh nak, kamu mau bertanya apa?"
Anak : "Berapa yang ayah hasilkan dalam satu jam?"
Ayah : "Itu tidak perlu kamu pikirkan nak, biarlah itu tetap menjadi urusan ayah. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Anak : "Aku hanya ingin tahu ayah, berapa yang ayah hasilkan dalam satu jam?"
Ayah : "Jika kamu memang harus tahu, jika dihitung per jam, maka yang ayah hasilkan adalah 50.000 rupiah."
Anak : "Ohh,," (kepalanya tertunduk lesu, kemudian mendongak ke arah ayahnya)
Anak : "Kalau begitu, bolehkah aku meminjam uang sepuluh ribu saja kepada ayah?"
(Ayah mulai curiga dengan gelagat anaknya)
Ayah : "Jika alasannya engkau meminta uang ini hanya agar kamu bisa membeli mobil-mobilan atau barang-barang lain yang tak berguna, maka pergilah ke kamarmu dan tidurlah. Pikirkanlah kenapa kamu begitu egois, aku bekerja keras setiap hari hanya untuk kamu yang kekanak-kanakanmu ini.

Anak kecil ini tanpa berkata sepatah katapun lagi kemudian pergi ke kamarnya dan menutup pintu. Sang ayah kemudian terduduk dan menjadi lebih marah tentang pertanyaan anaknya. Bagaimana bisa dia bertanya seperti itu hanya untuk meminta uang.
Setelah sejam kemudian, ayah mulai reda kemarahannya dan mulai berpikir. Mungkin ada hal yang begitu penting yang dibutuhkan anaknya dengan uang itu dan anaknya juga tidak sering meminta uang. Akhirnya ayah memutuskan untuk datang ke kamar anaknya dan membuka pintu.
Ayah : "Kamu sudah tidur nak?"
Anak : "Belum yah, aku belum tidur"
Ayah : "Aku telah berpikir, mungkin aku terlalu keras padamu tadi. Ini hari yang panjang dan aku tidak marah lagi padamu. Ini uang sepuluh ribu yang kamu minta"
Si anak kemudian terduduk di tempat tidurnya dan tersenyum.
Anak : "Ohh,, Terima kasih ayah"

Kemudian anak ini merogoh balik bantalnya dan meraih beberapa uang recehan dari dalamnya. Ayah yang melihat bahwa anaknnya memiliki uang mulai naik marah lagi. Anak melanjutkan menghitung uang pelan-pelan kemudian memandang ayahnya.
Ayah : "Mengapa kamu meminta uang kalau kamu sudah memilikinya?
Anak : "Karena saya belum cukup memilikinya, tapi sekarang sudah.
"Aku memiliki uang 50.000 rupiah sekarang, bisakah aku membeli satu jam dari waktumu? Tolong pulanglah satu jam lebih awal besok, aku ingin makan malam denganmu"

Sang ayah remuk hatinya, dia memeluk putra kecilnya dan meminta maaf dengan terisak.

Kisah fiksi ini hanya sedikit menggambarkan apa yang sebenarnya banyak dialami oleh anak-anak kita, jangan sampai anak kita menjadi seperti apa yang di lakukan anak dalam cuplikan film ini. Tontonlah versi lengkapnya, saya hanya mengambil potongan singkat dari adegan paling menyentuh menurut saya. Berikut cuplikan videonya:



Apakah hanya demi mendapatkan beberapa rupiah saja kita akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang-orang yang kita cintai? Perusahaan atau instansi tempat kita bekerja mungkin akan dengan mudah menemukan pengganti kita kalaupun kita meninggal besok, tapi keluarga dan teman-teman terdekat kita akan kehilangan kita selamanya. Akankah kita tidak meninggalkan hubungan yang indah dengan mereka dan terus mengejar rupiah (dan mungkin dolar) untuk sesuatu yang sesungguhnya ada yang lebih berharga daripada itu? 

Saya suka quote ini, " Orang miskin bukan lah orang yang tidak memiliki uang, tapi orang yang begitu mengejar uang dan menelantarkan emas dirumahnya." Emas dirumah yang dimaksud adalah keluarga kita sendiri, termasuk momen-momen bersama anak-anak kita, melihat mereka bertumbuh dan mendampingi mereka menuju kedewasaan yang benar.

Selasa, 02 Desember 2014

Besi Menajamkan Besi

"Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya"
Saya suka istilah ini, untuk bisa saling menajamkan, besi terlebih dahulu harus bergesekan dengan sesama besi, dalam setiap gesekan tentu akan menghasilkan panas, dan bila besi bisa teriak, pasti besi akan bilang, "panas,, panas,, cukup!" Jika hal itu terjadi, maka pastilah si pandai besi akan mendengar jeritan pilu tersebut dan menghentikan aktifitasnya menggesekkan besi-besi tersebut. Akibatnya kita sudah bisa duga, besi-besi tersebut hanya akan menjadi besi-besi biasa, bentuknya mungkin akan sama, menjadi pisau, sabit dan lain-lainnya, namun ketika proses itu tidak selesai dengan baik, mereka tidak akan menjadi berguna. Bila pisau-pisau tersebut tidak diasah dengan baik dan benar sampai ketentuan yang tepat, pisau tersebut tidak akan menjadi besi yang tajam. Untuk apa punya besi berbentuk pisau kalau tidak tajam. Pisau-pisau tersebut tidak hanya dibuat untuk pajangan kan?

Lalu, apa maknanya hal tersebut dengan manusia menajamkan sesamanya? Apakah kita harus bergesekan satu sama lain agar menjadi berguna? Yuppss,, secara mentahnya seperti itu, tapi kita tentunya nggak suka yang mentah-mentah gitu dong,, Seringkali kita lupa bahwa menajamkan adalah merupakan sebuah proses. Ada kegitatan yang dikerjakan, ada waktu yang dihabiskan selama proses, dan tentu ada pihak-pihak yang sedang diproses dan memproses. Gesekan antar manusia bukan berarti kita harus bergesekan seperti kita menggesekkan telapak tangan kita disaat kita kedinginan. Gesekan-gesekan yang terjadi dalam proses menajamkan sesama adalah misalnya saat kita harus berbeda pendapat dengan orang lain, tidak sepaham, tidak sepikiran, harus diskusi bahkan mungkin berdebat alot untuk dapat menemukan satu titik kesepahaman. Mungkin suatu saat akan tiba waktu-waktu dimana kita merasa tersakiti dengan kata-kata dari orang lain, atau kita sedang menyakiti orang lain dengan tidak kita sadari. Akan datang waktunya dimana gesekan ini begitu berat dan sakit, dan kita berteriak-teriak minta tolong kepada yang empunya proses ini, menjerit-jerit minta tolong sama Tuhan. Ada waktu dimana Tuhan seolah-olah tidak mendengar jeritan dan teriakan minta tolong kita, seakan tak perduli dengan keadaan kita. But, let us take God's sight. Dia disana seperti pandai besi, yang mengijinkan setiap gesekan-gesekan itu terjadi dalam hidup kita, karna Dia tahu setiap gesekan itu baik untuk kita. Dia sedang memproses kita untuk setajam yang dia inginkan, sesuai dengan kehendak dan tujuannya dalam hidup kita. Apakah kita akan dipakai untuk pisau daging atau pisau sayuran, tentu proses yang harus dilalui akan berbeda. Jadi jangan iri dengan proses yang orang lain dapatkan, Kuatkan dan teguhkanlah hatimu sampai proses yang ditentukan. Ingat, pisau yang tumpul tidaklah berbeda dengan besi-besi lain yang ada di tempat loakan besi tua.
Pastikan dirimu ambil bagian dalam rencana Tuhan, jangan puas telah menjadi pisau ataupun pedang, kalau pada akhirnya hanya menjadi pajangan. Nikmati proses yang ada dan jadilah berguna.