Mirror never lies. Saya yakin anda tidak asing dengan
ungkapan tersebut. Dia tidak akan tertawa saat anda menangis, atau nampak kurus
bila kenyataannya anda tidak kurus. Saat kecil, saya juga belajar ada pepatah
lain yang sesungguhnya bermakna kurang bagus, namun seringkali menggambarkan
tindakan manusia. Buruk muka cermin dibelah. Kurang lebih artinya adalah
mencari kesalahan pada pihak lain, namun saya lebih ingin menyoroti tentang
kejujuran, seperti yang saya sampaikan di depan, mirror never lies, apa yang buruk akan diperlihatkan apa adanya,
tidak ada tutup-menutupi atau manipulasi. Selain kejujuran, saya juga belajar
tentang keseimbangan.
Cermin mengajarkan saya tentang keseimbangan. Selain
mengajarkan kepada saya tentang apa adanya, cermin juga mengajarkan bahwa
kehidupan adalah keseimbangan. Cermin tidak pernah menampakkan bayangan yang
jauh saat saya di dekat cermin, dan tidak pernah menampakkan bayangan yang
dekat saat saya berdiri jauh. Jarak antara bayangan ke permukaan cermin selalu
sama dengan jarak saya pada permukaan cermin, Ibarat jungkat-jungkit, dengan
berat beban yang sama dan jarak beban pada titik tumpu sama, maka diperolehlah
posisi setimbang. Ohya, sebelum protes-protes bermunculan di benak anda, mari
kita luruskan bahwa cermin yang kita sedang bahas adalah cermin datar, karena
akan berbeda prosesnya apabila bertemu dengan cermin cekung, cembung atau
cermin tembus pandang (one way glass). Nah mari kita lanjutkan, selain tentang
jarak, tentang ukuran juga seimbang. Cermin tidak pernah memberikan kepada saya
bayangan yang lebih kecil dari ukuran sebenarnya saya atau memberikan bayangan
yang lebih besar daripada ukuran sebenarnya. Cermin mengajari saya bahwa
kehidupan ini adalah tentang keseimbangan. Seperti symbol yang terkenal tentang
keseimbangan, saya yakin anda semua mengenal yin dan yang, saya menemukan juga keseimbangan dalam saya bercermin.
Selain keseimbangan, cermin juga mengajari saya bahwa hidup
ini bukan tentang diri sendiri. Mungkin anda mempertanyakan ini, cermin kan
bayangannya adalah diri kita sendiri, bahkan tak jarang kita memuja-muja diri
sendiri betapa cantik atau gantengnya kita ketika memandang diri kita di
cermin. Jawabannya adalah ya, sebagian besar orang berpikir demikian dan
melewatkan sebuah pelajaran indah yang saya dapatkan, dan mungkin juga sudah
disadari oleh orang-orang lain. Bayangan cermin membuat saya menyadari bahwa
saya tidak sendiri. Memang iya bayangan itu adalah bayangan saya, tapi apakah
bayangan tersebut benar-benar saya? Saya menyadari bahwa bayangan itu bukan
sepenuhnya saya, dia adalah refleksi saya. Bagian kanan tubuhnya adalah tubuh
kiri saya dan bagian tubuh kirinya adalah bagian tubuh kanan saya. Saat saya
memperhatikan lebih dalam lagi, saya seperti sedang melihat orang lain berdiri
menghadap saya. Ya, kehidupan bukanlah tentang diri sendiri, tapi ada orang
lain juga yang hadir dalam dunia yang kita tinggali ini. Sama seperti kita
memperhatikan bayangan diri kita di cermin, ada banyak orang di luar cermin itu
yang juga membutuhkan perhatian anda. Ada orang-orang yang punya kekurangan
yang anda bisa membantu memperbaiki atau menutupinya, seperti anda menutupi
jerawat di pipi anda. Mungkin ada juga orang-orang diluar sana yang sedang
sakit dan anda bisa membantu kesembuhannya, seperti anda mengobati luka bekas
jerawat yang tak sengaja pecah. Bahkan yang terburuk, bayangan cermin bisa
menjadi teman. Saya pernah melakukan yang terakhir ini, ketika saya merasa
kesepian, bayangan cermin adalah teman ngobrol saya, meskipun yang terjadi
adalah monolog, tapi saya tidak merasa sendiri. Anda juga bisa, menjadi teman
ngobrol bagi mereka yang demikian, menjadi teman ngobrol yang bukan untuk
menyelesaikan masalah, meskipun mereka akan sangat bersyukur tentunya bila anda
mampu. Tak jarang saya bertemu dengan orang asing di pasar, stasiun, terminal,
rumah sakit, halte, atau bahkan sekedar nongkrong di taman dan akhirnya menjadi
teman ngobrol yang tentu saya tak ingat lagi apa telah kita bicarakan karena
pada intinya adalah saya menemani kesepian mereka. Dengan saya menemani
ngobrol, mereka yang saya temui tidak merasa sendiri lagi.
Pada dasarnya, manusia tidak diciptakan untuk sendirian.
Seperti Adam yang diciptakan dengan diberikan Hawa (Eve) sebagai pasangannya,
manusia juga mewarisi sifat dasar ini, tidak bisa diciptakan sendiri. Dalam
kehidupannya, manusia selalu mencari rekan yang mampu menemaninya, atau sekedar
menjauhkan diri dari kesendirian. Tak heran apabila dalam kehidupan ini penuh
dengan cinta kasih, buah dari hubungan antar manusia yang menganut paham simbiosis
mutualisme, saling menguntungkan kedua pihak. Cinta kasih yang benar adalah
cinta kasih yang memberi. Oknum pemberi tentu bukanlah oknum yang mampu berdiri
sendiri. Demikianlah cinta, cinta yang hanya satu pihak bukanlah cinta, cinta
adalah oknum yang memberi, membutuhkan pihak lain sebagai pasangannya yang akan
menerima cinta, sesuatu yang diberikan. Cermin juga telah mengajari saya
tentang cinta kasih yang benar. Cinta kasih yang benar itu seperti cermin,
bukan tentang diri sendiri, tapi juga mengasihi dan memperhatikan orang lain,
prinsip memberi. Cinta kasih yang benar juga menganut prinsip keseimbangan,
simbiosis mutualisme. Jika yang seorang menerima lebih besar dari pihak yang
lain, lambat laun satu pihak akan kering, tapi bila ada timbal balik yang
seimbang akan mampu bertahan. Selain prinsip memberi dan keseimbangan, cinta
kasih yang benar juga memperhatikan prinsip kejujuran. Sama seperti cermin yang
memberikan bayangan apa adanya, cinta kasih yang benar hendaknya adalah
mencintai seperti apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi atau dimanipulasi.
Mungkin diantara anda ada yang bertanya-tanya, gambar
abstrak apa yang saya pasang di awal tulisan ini. Mungkin juga ada yang telah
memahami dan melihat maksud tersembunyi dari gambar tersebut. Clue-nya adalah mirror dan keseimbangan. Bila anda mampu
menempatkan kedua clue tersebut, maka anda akan memahami bahwa symbol cinta
yang sering diungkapkan oleh kebanyakan orang mengandung makna keseimbangan.
AKU CINTA KAMU.



