Senin, 12 November 2012

Kemenangan yang Berarti


Hari itu sore hari tanggal 16 Agustus, di lapangan desa sudah berkumpul semua orang dari hampir seluruh isi kampung, bahkan ada beberapa penduduk kampung sebelah yang juga hadir. Sore itu adalah partai final dari acara perlombaan menyambut hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Waktu ini keramaian terpusat  di salah satu sudut lapangan dimana sedang belangsung perlombaan balap karung. Sore ini adalah final yang mempertemukan kelima pembalap terbaik yang telah melewati babak penyisihan. Kelima anak telah bersiap-siap dalam karungnya masing-masing. Di tengah gegap gempita para pendukung masing-masing finalis, tiba-tiba satu anak yang ditengah berkata, “kak,minta waktu sebentar,” anak tersebut kemudian berlutut dan menundukkan kepala sambil berdoa. Semenit kemudian di berkata, “sudah kak, aku sudah siap.” “Baik, semua sudah siap! Satu, dua, tiigaa‼”  demikian seru seseorang memberi aba-aba. Bak kanguru dikejar pemangsa, maka anak-anak tersebut melompat-lompat cepat sekali. Tak sampai semenit kemudian, akan dapatlah diketahui siapa pemenang balap karung tahun ini. Kelima finalispun berjuang keras untuk menjadi yang tercepat, ada yang smepat jatuh dan kemudian bangkit lagi untuk menyelesaikan lomba. Ternyata, anak yang berdoa sebelum pertandingan tadi yang menyentuh garis finish terlebih dahulu dan dinyatakan sebagai pemenang. Setelah beristirahat sejenak, tibalah waktunya penyerahan piala dan hadiah. Sebelum menyerahkan piala, ketua panitia bertanya, “kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan supaya kamu menang, ya kan?” “Bukan Kak, bukan itu yang aku panjatkan,” demikian katanya. Lalu ia melanjutkan, “aku tidak meminta Tuhan untuk menolongku supaya aku menang dengan mengalahkan peserta lainnya. Aku memohon kepada Tuhan, supaya aku tidak menangis jika aku kalah.” Jawaban itu bukan saja membuat para penonton terheran, namun juga membuatnya mendapatkan tepuk tangan yang sangat meriah dari semua yang menonton.

Pemenang sejati bukan hanya mereka yang mampu mengalahkan musuh-musuhnya, namun para pemenang juga mereka yang mampu mengalahkan diri sendiri dan keegoisannya serta mampu menerima kekalahan yang mereka dapatkan. Seperti yang sering diperdengarkan oleh para pendahulu kita, menang tanpa ngasorake (menang tanpa merendahkan lawan) itulah yang seorang pemenang sejati lakukan. Menjadi pemenang tanpa menambah musuh dalam hidupnya.