Senin, 12 November 2012

Kemenangan yang Berarti


Hari itu sore hari tanggal 16 Agustus, di lapangan desa sudah berkumpul semua orang dari hampir seluruh isi kampung, bahkan ada beberapa penduduk kampung sebelah yang juga hadir. Sore itu adalah partai final dari acara perlombaan menyambut hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Waktu ini keramaian terpusat  di salah satu sudut lapangan dimana sedang belangsung perlombaan balap karung. Sore ini adalah final yang mempertemukan kelima pembalap terbaik yang telah melewati babak penyisihan. Kelima anak telah bersiap-siap dalam karungnya masing-masing. Di tengah gegap gempita para pendukung masing-masing finalis, tiba-tiba satu anak yang ditengah berkata, “kak,minta waktu sebentar,” anak tersebut kemudian berlutut dan menundukkan kepala sambil berdoa. Semenit kemudian di berkata, “sudah kak, aku sudah siap.” “Baik, semua sudah siap! Satu, dua, tiigaa‼”  demikian seru seseorang memberi aba-aba. Bak kanguru dikejar pemangsa, maka anak-anak tersebut melompat-lompat cepat sekali. Tak sampai semenit kemudian, akan dapatlah diketahui siapa pemenang balap karung tahun ini. Kelima finalispun berjuang keras untuk menjadi yang tercepat, ada yang smepat jatuh dan kemudian bangkit lagi untuk menyelesaikan lomba. Ternyata, anak yang berdoa sebelum pertandingan tadi yang menyentuh garis finish terlebih dahulu dan dinyatakan sebagai pemenang. Setelah beristirahat sejenak, tibalah waktunya penyerahan piala dan hadiah. Sebelum menyerahkan piala, ketua panitia bertanya, “kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan supaya kamu menang, ya kan?” “Bukan Kak, bukan itu yang aku panjatkan,” demikian katanya. Lalu ia melanjutkan, “aku tidak meminta Tuhan untuk menolongku supaya aku menang dengan mengalahkan peserta lainnya. Aku memohon kepada Tuhan, supaya aku tidak menangis jika aku kalah.” Jawaban itu bukan saja membuat para penonton terheran, namun juga membuatnya mendapatkan tepuk tangan yang sangat meriah dari semua yang menonton.

Pemenang sejati bukan hanya mereka yang mampu mengalahkan musuh-musuhnya, namun para pemenang juga mereka yang mampu mengalahkan diri sendiri dan keegoisannya serta mampu menerima kekalahan yang mereka dapatkan. Seperti yang sering diperdengarkan oleh para pendahulu kita, menang tanpa ngasorake (menang tanpa merendahkan lawan) itulah yang seorang pemenang sejati lakukan. Menjadi pemenang tanpa menambah musuh dalam hidupnya.

Senin, 15 Oktober 2012

Kenangan Terulang Berbeda Rasa


Entah dari mana kumulai tulisan ini. Terlalu jauh kalau harus dirunut ke belakang, namun akan kerasa tiba-tiba banget dan bertanya-tanya kalo hanya dituliskan beberapa waktu ini aja. Jadi, mungkin akan sedikit panjang dan membosankan kalau semua ini dituliskan. Tapi semua itu harus dituliskan, jadi kunikmati saja menuliskannya.

Bagi yang tidak tahu, kisah ini berawal dari lebih kurang empat belas bulan yang lalu dimana semua hal dan segala sesuatunya bertemu. Tak ada kesan pertama yang luar biasa, tak ada apa yang orang-orang bilang j**** c***a pada pandangan pertama. Delapan hari berlalu, tetap tak ada hal istimewa yang perlu diceritakan, namun akan selalu ada kenangan indah yang terukir di hipokampus ini. Sorot mata teduhnya (meski terkadang sayu) terasa sejuk seperti datangnya mendung di kala panas terik. Keanggunan sikapnya membuatnya selalu membekas di hipokampus ini, selalu menempel layaknya perangko di kertas surat. Setelah kusadari beberapa waktu kemudian, ternyata aku telah jatuh hati pada pandangan pertama dan seterusnya, aku tak bisa menghapusnya dari hipokampusku, bahkan semakin hari semakin … ya kau tahu sendiri lah gimana rasanya, jangan pura-pura gak tau. Sebagai manusia yang hidup di jaman teknologi yang udah serba canggih kayak gini, maka komunikasi bukanlah hal yang sulit. Short Message Service benar-benar membuat rasa ini melambung entah sudah setinggi apa sampai aku tak bisa merasakan apa-apa. Maka, makin hari makin saja pengen kembali melihat senyumnya yang meneduhkan hati, menentramkan jiwa. Tapi kesibukan kuliah sungguh tidak bisa diajak bekerjasama banget,, saben hari selalu aja ada tugas yang harus diselesaikan. Semester pertama berakhir tanpa ada kesempatan untuk melihat kembali senyumnya yang melelehkan hati dan tatapannya yang meneduhkan hati.
Tahun baru, semangat baru tentu saja.. abis liburan juga,, jadi seger banget nih otak (atau minjem istilahnya mr. Douwess “encephalon”) tapi apa yang terjadi, kesempatan yang sungguh tidak pernah terpikirkan datang. Kembali ke kota Solo yang sekarang tercinta (dulu sih Gunung Rejo tercinta) dari indahnya kampung halaman nan hijau, telinga ini mendengar kabar dia dirumahnya, yang terjangkau oleh diriku. Karena sering mendengar berita bahwa kesempatan tidak datang dua kali, maka segera kusambar kesempatan itu. Pada angka tunggal tertinggi bulan kedua di tahun ini, kuputuskan untuk menyambangi rumahnya. Pagi itu, dengan tekad bulat ku berangkat dari kontrakan tercinta menuju kerumahnya, sayangnya aku tak ngerti yang mana rumahnya. Dengan tekad bulat dan sungguh nekat sampailah diterminal setempat. Berbekal petunjuk arah yang di berikan semalam sebelumnya, dimulailah long journey hari itu, berbekal 2 kaki yang setia menyusuri setiap sisi jalan dalam sms itu, akhirnya sampailah di rumahnya dengan keringat yang sudah terjun bebas dari kening dan dahi ini. Namun saat melihat senyumnya, serasa angin surga menerpa diriku, sejuk menghapus setiap keringat yang menetes. Hari itu kita mengobrol panjang lebar tinggi dalam kesana kemari sampai tak terasa lima jam telah kita habiskan bersama hari itu. Karena hari telah menunjukkan sore hari, tak enak kalau masih harus berlama-lama lagi, maka kuputuskan saja untuk mengakhiri pertemuan hari itu. Pulang dengan membawa entah sejuta atau lebih kenangan yang tersimpan dalam hippokampus ini. Hari itu tepat enam hari sebelum ulang tahunnya yang ke delapan belas.
Ternyata tepat sebulan setelah hari itu, kesempatan datang lagi, meski peluang itu tidak terbuka sepenuhnya, ada sedikit kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk melihat kembali senyumnya yang mengubahkan dunia, serta tatapan matanya yang meneduhkan hati. Hari itu harus travelling mencari-cari buku untuk membantu kelancaran kuliah. Setali tiga uang kata pepatah, atau sekali merengkuh dua pulau telampaui. Aku kembali mendapati senyum indahnya dan keteduhan itu. Masih sama seperti apa yang kudapatkan sebulan dan apa yang kudapatkan saat pertama kali bertemu. Pulang ke Solo tercinta dengan semangat baru, dengan kenangan baru yang terasa memenuhi ruang memori dalam hippokampusku. Namun, bayangan senyumnya seperti tak bisa lepas dari pandangan mataku, semester dua penuh dengan dirinya, senyumnya dan keteduhan tatapan itu.
Namun hal itu ternyata tidak semuanya menghasilkan hal positif bagiku, aku menyadari bahwa dia mengambil porsi terlalu banyak dalam pikiranku dan membuat yang lain mendapatkan porsi yang jauh kurang dari senormalnya. Maka dengan berat hati dua puluh tiga juli dua ribu dua belas, aku nyatakan padanya bahwa dengan berat hati aku harus mengurangi porsi dia di pikiranku ini. Dan dua bulan kemudian, semua kembali berjalan normal.
Tiga belas oktober, aku kembali harus melakukan perjalanan serupa dengan apa yang telah kulakukan tujuh bulan lalu. Dengan cara yang sedkit berbeda, dan pengalaman yang berbeda pula tentunya, aku masih mendapati prosesi yang sama untuk kembali bertemu dengannya. Ssebenarnya aku sudah tidak berhasrat lagi untuk menemuinya, namun rasa ini mendesakku mengambil kesempatan ini. Seperti dulu, kudatangi tempat dimana dia berada, bertemu dengan teman-teman seatapnya. Akan tetapi, dia masih menyimpan senyumnya di kamar bersama kesibukannya. Tak apa lah, aku sudah tidak berharap lagi mendapati senyumnya, hanya tak akan menolak kalau dia menampakkan senyumnya lagi. Hanya sekelebat lalu saja dia menampakkan diri, meski masih menyimpan senyumnya, masih kulihat tatapan teduhnya, damun bekan tatapn yang dulu ku lihat. Sekarang, kenangan itu terulang kembali, namun dengan rasa yang berbeda. Biarlah, mengenang kembali hari-hari itu, menghayati sepenggal syair yang pernah dilantunkan Kla Project ‘Yogyakarta’

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
a saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu

(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali) Oh…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Oh… Tak terobati

Musisi jalanan mulai beraksi, oh…
Merintih sendiri, di tengah deru, hey…
Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
(untuk s’lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati, oh…
(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali)
Tak kembali…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
Namun kotamu hadirkan senyummu yang, yang abadi
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
Izinkanlah untuk s’lalu, selalu pulang lagi
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Walau kini engkau telah tiada (tak kembali) tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu (abadi)
Senyummu abadi, abadi…

Minggu, 07 Oktober 2012

dalam kisah Lima Oktober Dua Ribu Dua Belas

entah kenapa dia datang hari itu, eh bukan. hari sebelumnya dia datang dan harus menginap ditempatku. tak ada kisah, karena memang malam itu kita tak berkisah seperti layaknya kisah aladin dalam 1001 malam nya. pagi aku bangun sepeti biasa, mengerjakan aktifitas biasa, dan semuanya hanya biasa-biasa saja..
semua berubah ketika dia menawarkan untuk kita berkeliling dan jalan-jalan.. harusnya aku yang menawarinya, tapi entah kenapa malah dia yang mengajakku jalan-jalan.. ya akhirnya kita pun berangkat bersama dua personel lain yang sudah menunggu kami, ya untung saja rutinitasku pagi itu udah mengagendakan untuk mandi pagi, jadi kita langsung berangkat aja. aku hanya ngikut aja kemana mereka pergi, istilah lainnya hanya menemani gitu lah.. the journey begin..
pagi itu berangkat mulai motor-motoran, mau berangkat pake ban motor kempes lagi, harus tambah angin dulu.. ban terisi, kitapun pergi.. setelah muter-muter menyusuri beberapa jalan utama di Surakarta, sampailah kita di tempat tujuan mereka TAMAN BALAEKAMBANG. setelah beberapa waktu muter-muter dan becanda ria dan ngobrol-ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon munggah mudhun dan sebagainya serta tidak lupa foto--foto tentunya.. yang perlu digarisbawahi dalam perjalanan kali ini adalah kami menemukan 2 pasang anak manusia yang mencoba berlaku dewasa, berdua-duaan di salah satu tempat (bukan sudut) yang sepi dan memang sungguh shocking banget ketika kami menemukan mereka. sayangnya kami tak bisa mengabadikan potret mereka untuk menjadi bahan kajian kita bersama. sungguh memprihatinkan kondisi anak-anak muda jaman ini, kita perlu lebih peduli pada mereka, generasi penerus bangsa ini. kita harus lebih banyak memberikan perhatian kita pada mereka, they NEED to CARE, mereka perlu perhatian kita. saat dunia ini berkonspirasi untuk membuat mereka kehilangan perhatian dan kasih sayang, mari kita tunjukkan bahwa kita memiliki apa yang mereka butuhkan, Change THEM to be Better, it's mean Change the WORLD. mari kawan kita kerjakan, mulai dari satu tindakan kecil berdampak besar..
lanjutkan perjalanan kita, hehehe,, terlalu semangat sama anak-anak.. setelah siang, yang bener-bener panas sangat hari itu, meluncur pulang, tapi kita mampir ke SS, ada jamuan dari saudari kita,, kami berterima kasih untuk saudari Juita Lorda La'ia yang memberikan kami makan siang penuh kesan, Huh Hah Huh Hah banget dah pokoknya siang itu.. makasih buat Anggreni Tri Kristyas yang telah mengabadikan momen spesial ini.. Special thanks to Andistia Han Putra yang membuat momen ini benar-benar spesial..

salah satu dari beberapa kenangan yang sempat terekam mata kamera.. percayalah kawan, meski tak terekam, masih aja jutaan kenangan indah yang tersimpan dalam otakku.

Senin, 24 September 2012

Seulas Senyum


Suatu kbhgian trsndri..
energi kmbli ku lhat km lgi..
snyumanmu mmulihkan jwaku 
yg sepi..sndri..
enrgi brseri..
enrgi tuk mrjut mimpi..
kmbli dgnmu dihuni..
smpat prgi..
smpat mnghmpiri..
inginku mningglkn disini lgi..
anganku mlmbung tinggi..
hny satu ulas lgi..
hny satu snyum kau beri..
hny satu snyum nmun brarti..
satu hny saja..
mski..mski hny satu mmbri arti..
hny satu mmbri energi..
hny satu nmun mlmbungkn mimpi..


bagian lain dari adekku

Minggu, 23 September 2012

BuBuy Bulan

Bulan..dia bulan
malam pagi sore bulan..
duduk termenung bulan..
senyum, kerling mata bulan..
jatuh bulan..
apa bulan?
siapa bulan?
kemana dimana bagaimana bulan?
kau bulan kamu bulan..bulan..bulan


Bulan kau..kau bulan.. 
buy bubuy..mang ditimang sayang.. 
ndah gun dah..buy buy bubuy.. 
jantung hati buy buy bu.. bubuy..bu bu y 
bulan..lan bu..bulan bubuy..bubuy bulan..sayang..yang disayang.. detum..detak..derum bubuy..bubuy bulan.. 
lekat..pekat..sepakat buy hanya bubuy..buy..buy buylan…



untuk adekku Debby S T
semoga bisa mendokumentasikan kegundahanmu

Minggu, 26 Agustus 2012

Antara Bukan dan Tetapi


Bukan apa yang DIA BERIKAN untuk Kita,
Tetapi apa yang KITA BERIKAN untuk Dia.
Bukan apa yang DIA LAKUKAN kepada Kita,
Tetapi apa yang KITA LAKUKAN kepada Dia.
Bukan apa yang Dinikmati Panca Indera Kita,
Tetapi apa yang Dirasakan Hati Kita.
Bukan Dia yang Datang saat Kita Berpesta,
Tetapi Dia yang Menemani saat Berduka.
Bukan Dia yang merancang Kecelakaan Kita,
Tetapi Dia yang Menopang saat Kita tak berdaya.
Bukan Dia yang IRI melihat Keberhasilan kita,
Tetapi Dia yang BANGGA dengan Kerja Keras kita.
Bukan Dia yang Mengumbar aib kita,
Tetapi Dia yang Mengunci mulutnya demi kita.
Bukan Dia yang LARI bila tak lagi Kaya,
Tetapi Dia yang Datang saat kita tak punya Apa-apa.
Bukan Dia yang mengaku Sahabat,
Tetapi Dia yang menunjukkan ARTI SAHABAT.
SAHABAT tidaklah BUKAN,
SAHABAT adalah Tetapi.
Jauhilah yang dibelakang BUKAN,
 Hidupilah yang dibelakang TETAPI.
Tayu, Tiga Puluh Satu Juli Dua Ribu Sembilan

Rabu, 08 Agustus 2012

Tulisan Itu Bertanggal Dua Puluh Tiga Juli


Hari itu memang hari yang sungguh sibuk bagiku. Agenda kegiatan di summercamp itu memang benar-benar membuat lelah pikiran dan raga ini. SKS demi SKS dijalani dengan sepenuh hati, dengan melawan rasa kantuk yang selalu menyertai, dengan semangat yang membara untuk belajar hal baru, walau banyak hal yang sejujurnya belum terlalu paham, but the show must go on. Setelah empat hari menjalani segala kesibukan dan padatnya agenda sesi-sesi Summercamp, maka selesailah sudah rangkaian Summercamp pada hari senin, dua puluh tiga juli duaribu dua belas. Kobaran semangat yang begitu menggelora membakar setiap hati peserta camp, mendidihkan darah yang terpompa ke seluruh tubuh, mengalirkan gairah untuk mengingat dan memperjuangkan kembali tujuan hidup kita yang sebenarnya. Malam itu, aku mendapatkan suntikan motivasi yang sangat hebat, mendorongku untuk tidak lagi hanya memikirkan diriku sendiri, mementingkan kepentinganku sendiri, berhenti untuk berfikir bisa hidup sendiri dan hanya untuk sendiri. Malam itu aku berkomitmen untuk tidak lagi mementingkan AKU sendiri. Masih banyak hal yang bisa kukerjakan selain hanya untuk diriku sendiri. Konskuensi yang langsung aku kerjakan untuk mulai melakukan apa yang aku telah dapatkan dari summercamp adalah memutuskan apa yang selama ini mengganggu dan memenuhi isi kepalaku. Satu hal yang mungkin tidak pernah ada orang lain yang tahu tentang ini, sebuah rahasia besar yang berbulan-bulan aku simpan, yang kini aku tidak mampu lagi untuk terus menyimpannya, dan rahasia itupun akhirnya aku ungkapkan malam itu, dua puluh tiga juli dua ribu dua belas.
            Malam itu, kusegerakan untuk menuliskan apa yang perlu kutuliskan. Meskipun malam telah larut dan tengah malam menunggu di depan mata, saat mata tinggal lima watt, tetap kuputuskan untuk menulis, sebelum hilang apa yang ada di hati dan pikiranku, sebelum padam semangat yang berkobar di dalam dada ini. Akupun mulai menulis, tentang perasaan itu yang sungguh sangat lama aku simpan, aku harus melepasmu, demikianlah yang kutulis malam itu. Kusampaikan dalam tulisan iru sebuah perasaan yang sebetulnya aku masih menunggu waktu untuk mengungkapkannya, namun malam itu harus kuungkapkan sebelum mekar benar. Kutuliskan sebuah kejujuran dan ketulusan yang harusnya terasa sangat atau paling tidak sedikit menyakitkan bagiku, namun malam itu aku mendapatkan suntikan kekuatan dan keberanian untuk aku bisa menulis dengan lepas dan terbuka, sejujurnya dan apa adanya, dengan jujur dan apa adanya kuungkapkan semua perasaan yang telah lama kusimpan dalam diriku tersebut. Satu pesan yang kutulis sebelum mengakhirinya adalah “balaslah tulisan ini bila kau berkenan pada isinya, dan kembalikan padaku jika kau tidak berkenan pada isinya, jangan buang tulisan ini, karena ini terlalu berharga bagiku”
            Kutuliskan ini untuk mengenang waktu itu dan untuk ciptaan Tuhan yang menerima tulisan itu, semoga Tuhan mempertemukan kita kembali suatu saat dalam kisah yang bahagia. Dan kalaupun kita tak bisa berbahagia (bersama), aku berharap kau bisa berbahagia dengannya.

Senin, 18 Juni 2012

TEMANI AKU

Dalam pekatnya malam ini


Kutumpahkan tinta segelap mendung di langit kelabu


Kuusapkan pada kanvas kalbu dalam goresan kesunyian


Sepi sendiri dalam kegagahan hitam yang mengurung ragaku.


Wahai engkau yang kutunggu hadirmu


Seberkas cahaya kehidupan yang memancar terangi gelapku


Lilin kecil yang berjuang melawan gagahnya kekelaman,


Dalam setiap sinarmu terpancar sebuah ungkapan


“Tenanglah sayang, kau tak sendiri dalam gelapmu,aku disini untuk menemanimu”







behind the scene:
karya ini tergores dua desember dua ribu sebelas saat penggores sedang sendirian di kos, dalam keremangan senja. Mendung yang menggelayut sedari waktu tergelincirnya matahari menambah keremangan hatinya. Kegundahan pun memuncah tatkala hujan rintik-rintik mulai turun membasahi bumi ini, namun tidak begitu dengan hatinya yang tetap kering kerontang. Kesepianpun makin memberontak saat listrik tiba-tiba ngambek tak mau mengalir, kegelapan menjadi semakin menggila menambah kegundahan. Kesendirian dan kesepian semakin menjadi jadi saat perut mulai protes dengan apa yang dikerjakan empunya. Penggores menjadi semakin resah dalam sejuta kegundahan hatinya yang tertawan oleh pekatnya malam, dalam kesunyian yang membelenggu hatinya. Muncul akal sehatnya untuk mencari sebuah lilin dan menyalakannya. Dan kepekatan sedikit demi sedikit memudar, kesunyian perlahan menghilang dan kesepian menjadi kehilangan kuasanya atas penggores. Lilin kecil, dengan sinarnya yang teramat kecil, ternyata mampu menerangi hati sang penggores, layaknya sinar mentari di pagi hari, yang cerahkan bumi sepanjang hari.

Senin, 14 Mei 2012

a sweet moment to remember




entah kenapa mereka menoleh ke arah yang sama, apa yang mereka liat ya??


ini adalah sweetest moment dari acara ini.

foto-foto ini diambil pada 31 maret 2012 di pantai sadranan pada kegiatan refreshing after transformation camp, beberapa pengurus PMK UNS dan beberapa panitia trafo menjadi saksi momen yang meninggalkan kesan yang tak terlupakan ini.

Senin, 30 April 2012

KESALAHAN


1.      “kamu adalah cinta sejatiku, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama”
Kesalahan pengucapan kalimat tersebut ditemukan dalam kata “pada pandangan pertama”. Cinta sejati itu bukan cinta kilat atau cinta instan, cinta sejati itu adalah cinta yang telah teruji dan terbukti mampu melewati rintangan, godaan, dan hambatan untuk menjadi cinta sejati. Cinta itu slalu butuh waktu untuk jadi cinta sejati. Jadi kalimat yang seharusnya muncul adalah, “kamu adalah cinta sejatiku, aku telah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Aku selalu bertambah cinta setiap memandangmu.”

2.      “kamu cantik hari ini”, “kamu tampak lebih cantik”
Ungkapan ini perlu dicermati dari motif pengucapan kalimat pujian ini. Ada kemungkinan pujian ini muncul karena sejujurnya pengen bilang, “kemarin kamu jelek” atau “kenapa kamu cantik ndak dari kemarin sih?” ungkapan cinta yang tulus seharusnya memberikan pujian yang tulus, ungkapan yang bener untuk diungkapkan harusnya, “kamu selalu cantik dimataku, demikian juga hari ini.”

3.      “cinta itu datang dari mata turun ke hati”
Ini merupakan salah satu kesalahan persepsi dan kesalahan linguistic yang mengakibatkan kesalahan atribusi. Orang jawa bilang sih, salah tapi wes lumrah (salah tapi udah jadi biasa). Sebenarnya dari mata tidak turun ke hati karena alasan berikut. Hati (liver) jelas tidak bisa digunakan untuk merasa, harusnya indera perasa itu malah kulit, hati itu sebagai penawar racun dan gudang glikogen. Sedangkan orang inggris menyebutnya heart. Dalam bahasa saya, heart itu diartikannya sebagai jantung, gunanya sebagai mesin pemompa darah, ndak sempet buat ngurusi masalah cinta. Lalu apa yang seharusnya dikatakan??  “cinta itu datang dari mata mundur ke otak”, itulah yang harusnya dikatakan. Reseptor impuls penglihatan itu terletak di lobus oksipitalis di bagian belakang kepala. Karena mata sebagai indera penglihatan terletak di bagian paling depan dari kepala, maka cinta itu datang dari mata mundur ke otak. Karena otaklah yang memiliki fungsi persepsi, bisa membedakan rasa, termasuk rasa cinta yang datang, bukan hati yang sebagai penawar racun atau heart sebagai mesin pemompa darah.

4.      “cinta itu tak harus memiliki”
Ini adalah kesalahan BESAR!! Cinta itu mutlak dan menuntut untuk memiliki. Jika cinta tak harus memiliki, trus apa dong yang dicintai?? Mutlak harus memiliki karena cinta itu satu paket dengan dorongan  nafsu, dia tidak bisa sendirian aja tumbuh. Bagaimanapun cinta itu menuntut untuk memiliki sepenuhnya. Jika “rasa” itu tak harus memiliki, maka sesungguhnya “rasa” tesebut adalah KASIH, like sunshine, just giving, never take it back.

diatas hanyalah beberapa contoh kecil kesalahan-kesalahan yang sering ditemui. memang cinta itu adalah masalah perasaan, tapi sebagai manusia kita juga tidak boleh meninggalkan begitu saja anugerah istimewa bagi ciptaan-Nya yang disebut akal pikiran (logika) itu. kita harus menyeimbangkan keduanya agar tercapai hidup yang lebih baik. Salam iseng dari Plato.

Selasa, 10 April 2012

DEBU

Malam ini kupandang langit
Penuh bintang dan bulan pun bersinar
Terang sang purnama malam ini
Bagaikan malam dengan seribu bulan
Akupun merenung
Allah menata begitu indahnya
Sang Khalik menciptakan semuanya
Dia lakukan begitu sempurna


Tapi aku
Terlalu pendek untuk menata bintang
Terlalu lambat untuk mengerek mentari
Terlalu rendah untuk menggapai bulan
Terlalu banyak salah dan dosa
Untuk bisa mencapai sempurna


Karena aku
Adalah debu yang bernafas
Sebentar saja nafas itu ada
Sedetik kemudian nafas itu hilang
Dan akupun kembali menjadi debu
Tapi kapan detik itu
detik ini
menit ini
jam ini
hari ini
minggu ini
bulan ini
tahun ini
abad ini
???????????????????????????????????


Apapun, 
Siapapun, 
Dimanapun, 
Bagaimanapun, 
Kapanpun, 
Tiada satupun dikolong langit ini yang tahu
Hanya Dia yang tahu
Dia yang menghitung waktu
Pada-Nya lah kita berharap
Mari hanya Kepada-Nya



Sept,5 09