Tampilkan postingan dengan label Something. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Something. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2015

Flow like water




Saya yakin, sebagian besar dari kalian pernah mendengar ungkapan ini. Entah dalam bahasa inggris atau bahasa Indonesia, mengalir seperti air. Ungkapan ini sangat favorit diucapkan dikala seseorang ditanya tentang sesuatu yang akan dikerjakan di masa depannya, entah itu besok, lusa, minggu depan, bulan depan atau tahun depan, bahkan untuk beberapa tahun ke depan. Saya sering mendengar orang-orang yang berkata seperti ini, bahkan beberapa teman saya juga mengatakannya. Memang dunia ini penuh dengan ketidakpastian, penuh dengan kejadian-kejadian di luar rencana kita. Seringkali juga teman-teman saya berpikir, toh Tuhan sudah merencanakan saya akan begini dan begitu, jadi ikut saja. Wah, saya jadi ikut berpikir juga nih kalo udah nyangkut-nyangkut Tuhan gini, bisa dunia akhirat urusannya.
                Tapi bagaimana jadinya jika rencana Tuhan yang sempurna itu ada beberapa bagian yang ditulis “improvisasi.” Saya sering menulis naskah drama, dan beberapa kali ikut main drama juga. Saya mengerti betul bagaimana susahnya untuk benar-benar menjadi sosok yang digambarkan oleh penulis scenario (yang bukan skrip saya) secara tepat. Sangat susah untuk bisa mengatakan tepat seperti apa yang ditulis dengan ekspresi atau gesture yang diharapkan. Apa yang kemudian terjadi adalah saya, dan para pemain lainnya melakukan improvisasi. Yang belum tahu, improvisasi itu adalah hal-hal yang dilakukan diluar kehendak yang ditetapkan (dalam hal ini skrip) sesuai dengan kehendak yang melakukan (pemain). Improvisasi tentu tidak sembarangan saja dilakukan, ada teknik dan aturan-aturannya juga. Aturan dasar yang saya tahu adalah tidak mengubah esensi atau pesan yang ingin disampaikan dari skrip tersebut, sama seperti kalau menyanyi improvisasinya tidak boleh ‘fals’ begitu. Kemudian improvisasi harus dilakukan tanpa mengganggu pemain lain dan tidak boleh mengganggu konsentrasi pemain lain. Bayangkan saja pemain telah berusaha untuk memahami runtutan cerita yang ditulis dalam skrip, dan improvisasi yang dilakukan membuat lawan main bingung sampai skrip mana improvisasi yang dilakukan, kan malah bikin seluruh pertunjukan itu menjadi kacau. Saya yakin dalam hidup pun demikian, ada beberapa bagian dalam hidup ini yang perlu diimprovisasi. Kalaupun Tuhan udah punya “perfect script” juga, saya yakin Dia di beberapa bagian dalam skrip itu menuliskan “as your wish.” Tuhan toh sayang banget sama kita para ciptaanya, jadi dia ingin juga melihat kita terlibat dalam karya besarnya, karna kita bukan wayang atau boneka pertunjukkan bagi Dia.
                Setelah kalian membaca dua paragraph diatas, saya yakin kalian sudah berusaha menebak-nebak apa yang ingin saya sampaikan. Jika kalian merasa saya nggak setuju dengan judul diatas, maka tebakan kalian adalah tepat dan kalian berhak mendapat hadiah permen, segera minta kepada orang tua kalian, hahaha. Jangan terlalu serius gitu lah, ntar cepet tua loh.. Pertanyaan selanjutnya pasti kenapa saya tidak setuju? Pasti pada nanya gitu kan? Jawabannya simple, sejak kecil saya diajarkan sebuah kalimat begini oleh orang tua saya, “nak, kalau kamu percaya sama Tuhan dan menyerahkan hidup padanya, maka Dia akan menjadikanmu kepala dan bukan ekor, Dia akan membuat engkau terus naik dan bukan turun.” Setelah saya sekolah, saya diajarkan oleh guru saya bahwa hukum alam untuk air, selain mengikuti bentuk wadah dimana dia diletakkan, yang paling saya ingat adalah air selalu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Itu hokum alam, kalau ada air mancur itu brarti udah nggak sesuai dengan hukum alam, udah ada campur tangan manusia dan rekayasa teknologi. Yang alami tentu saja seperti air terjun, mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Jadi kalau mengikuti prinsip mengalir seperti air, maka yang terjadi adalah hal-hal yang terus turun, padahal setiap orang ingin terus naik mencapai yang lebih besar, lebih baik.
                Poinnya disini adalah saya tidak mengikuti prinsip flow like water dan mengajak kalian untuk juga tidak mengikutinya. Saya tentu punya alasan kenapa prinsip ini tidak baik. Alasan pertama sudah saya jelaskan seperti paragraph diatas. Setiap orang ingin terus naik, sekolah yang lebih tinggi, karir yang lebih baik, juga punya pasangan biar bisa memperbaiki keturunan (kalau yang terakhir ini curhatan yang nulis sih wkwkwk). Intinya semua orang ingin yang lebih tinggi, jadi jangan ikuti prinsip air ini. Alasan yang kedua adalah, air itu sangat fleksibel, dia dengan mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sekecil apapun beda ketinggiannya ia akan berpindah ke tempat yang lebih rendah.  Kalo kalian mengikuti prinsip ini, kalian akan susah maju karena setiap kali ada situasi berubah, kalian akan mengisi celah yang lebih rendah, dalam arti akan mundur selangkah. Dengan demikian akan susah untuk maju dan mengejar apa yang menjadi mimpi-mimpimu.
                Sebagian besar orang yang mengatakan prinsip flow like water yang saya kenal, mereka mengikuti prinsip ini karena takut, takut berspekulasi, takut gagal, takut yang terjadi tak sesuai dengan apa yang direncanakan, takut ini dan takut itu. Kemudian yang terjadi adalah mereka tidak melakukan apa-apa, menjalani hidup dari hari ke hari tanpa pernah menetapkan satu tujuan. Saya belum pernah mengenal orang yang sukses dan memiliki pencapaian besar yang mengikuti prinsip ini. Setiap orang sukses yang saya tahu adalah orang-orang yang bekerja keras pada setiap hal yang telah mereka tetapkan sebagai tujuan. Andaikata hidup ini adalah sebuah perjalanan dimana dalam waktu-waktu tertentu kita harus menyeberangi sungai berarus deras, apakah masih ingin tetap mengalir seperti air dan terhanyut sampai entah dimana. Setiap orang sukses yang saya tahu, mereka menetapkan tujuan yang ingin mereka capai, mereka pasang target sukses mereka akan seperti apa dan berusaha sekeras mungkin untuk mencapainya. Tak peduli ada arus deras di hadapan mereka yang harus diseberangi, bila memang itu satu-satunya jalan yang harus dilewati untuk mencapai tujuan, mereka akan melakukannya, bahkan kalau itu perlu melawan arus, mereka melakukannya. Kalian juga pasti ingin sukses kan? Tinggalkan prinsip flow like water itu, mulai sekarang tetapkan tujuan hidupmu. Pasang target sukses yang ingin kalian capai. Mulai susun strategi kalian untuk mencapainya, tetapkan langkah-langkah yang akan kalian lakukan. Rencanakan setiap hal yang akan kalian lakukan untuk mencapai cita-citamu, apa yang akan kalian lakukan minggu ini, bulan ini, tahun ini dan tahun-tahun mendatang. Rencana mungkin tidak akan berjalan mulus sesuai rencana, tapi dengan target yang kalian pasang, kalian tahu langkah apa yang akan kalian kerjakan dan kemana kalian akan melangkah saat arus menyeret kalian, setidaknya jangan kalah sebelum berperang.

                See you on top guys, man’s eyes see impossible, God’s eyes see I’mpossible, Whatever you are doing with God, you can do anything.

Minggu, 23 Agustus 2015

JANGAN MENCARI PACAR!

Mungkin ada yang bertanya nih, “nggak salah tuh judulnya?” Ada juga yang lain yang setuju trus bilang, “Iya jangan nyari pacar, nyari suami (atau istri) aja.” Yepp,, yang terakhir jawabnya guys, dan yang pertama enggak. Maksudnya??
Jadi gini, maksudnya tuh pertanyaan pertama jawabannya nggak salah, emang begitu judulnya. Kalo yang kedua bener, langsung nyari suami atau istri aja, tapi masih kurang tepat juga guys. Eh, kok gitu sih? Jadi yang tepat gimana emang? Jawab!!
Iya iya kujawab, sabar dulu dong,, emang sih lebih cepat lebih baik, tapi yang terburu-buru itu nggak baik kan,, jadi ikuti aja dulu alur ceritanya..
Udah gausah banyak omong, langsung aja bilang kenapa gak boleh nyari pacar!
Eits,, sabar dong bro, orang sabar kan pantatnya lebar, eh maksudnya orang sabar disayang Tuhan, gitu lhoo.. oke oke, sekarang serius ya, satu persatu akan aku jelasin kenapa aku kasih judul gitu tadi. Baca baik-baik sampai akhir, jangan Cuma dibaca di awal doing trus ditinggalin karna nggak asyik. Kayak baca surat dari gebetan gitu lho, harus baca lengkap biar gak salah paham, walau ujung-ujungnya ditolak (yang ini bukan curhat).
Udah ah pendahuluannya, capek  ngetiknya ntar kalo kepanjangan prolognya. Jadi gini, kenapa saya bilang, “Jangan Mencari Pacar!” alasannya adalah nggak ada yang menghilangkan pacarnya, jadi kamu gausah repot-repot menghabiskan banyak sumber daya untuk mencarinya.
Tuhan udah menciptakan manusia dengan pasangannya masing-masing dan faktanya Tuhan itu bukan oknum pelupa seperti kita. Beberapa dari kalian pasti sering lupa dimana kunci motor ditaruh, padahal kalian sendiri yang menaruhnya. Beruntungnya Tuhan kita itu bukan Tuhan yang pelupa, Dia ingat betul siapa jodoh kita dan dimana dia berada saat ini. Kita dari kecil sudah dikasih tau sama orang tua kita kan kalo mata Tuhan melihat ke segala tempat, jadi bahkan saat jodoh kita sedang tersesat pun Tuhan tahu dia ada dimana dan Dia akan menuntun jodoh kita itu ke jalan yang seharusnya. Jalan yang seharusnya ya jalan menuju dirimu, yang telah disiapkan untuk berpasangan. Itulah kenapa judulnya saya bilang jangan mencari pacar, pacar mah gausah dicari juga ntar ketemu sendiri. Pernah kan kehilangan sesuatu di kamar? Biasanya barang yang dicari tuh susah banget ketemunya, tapi begitu udah nggak dicari eh tiba-tiba dia nongol gitu aja.
Pada prinsipnya hampir mirip sih, jodoh pun ada yang demikian. Meskipun kita telah berusaha begitu luar biasa, kalo kita dipandang belum siap oleh Yang Maha Kuasa untuk bertemu jodoh kita ya nggak akan dipertemukan.Namun kalo kita minta dan udah siap, nggak usah nyari ya ketemu. Kayak di FTV gitu lho, itu bukan cuma fiksi semata lho,, banyak juga yang kisah cinta mereka seperti itu dan berakhir di pelaminan. So sweet kan.. So jangan pada jeles ye kalo liat mereka kayak gitu, mereka udah bersusah payah dalam prosesnya supaya dipandang siap oleh Yang Maha Kuasa pada saat bertemu jodoh mereka.
Nah, terakhir nih buat para jomblo, dan mereka yang udah ngaku couple tapi belum yakin kalo pasanganmu itu jodohnya. Siapkanlah dirimu dengan sebaik-baiknya, semakin tinggi standar pasangan yang kamu minta sama Yang Maha Kuasa, berarti semakin kamu harus lebih berjuang keras untuk memantaskan dirimu seperti kualitas yang kamu harapkan.
Sebagai penutup, dengarkan dan pahami ini baik-baik. "Jangan menikah dengan orang yang kau yakini sebagai cinta sejatimu, menikahlah karena kamu ingin membuktikan bahwa dengan dia cinta sejati itu ada. Cinta sejati itu seperti emas, semakin teruji waktu semakin terbukti kemurniannya." 

Jumat, 05 Desember 2014

Ayah, Bolehkah aku pinjam uang mu Sepuluh ribu saja?

Suatu sore, seorang anak laki-laki yang masih kecil mendatangi ayahnya yang sedang beristirahat di sofa ruang keluarganya. Anak ini kemudian memulai dialog dengan ayahnya.
Anak : "Ayah, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"
Ayah : "Tentu boleh nak, kamu mau bertanya apa?"
Anak : "Berapa yang ayah hasilkan dalam satu jam?"
Ayah : "Itu tidak perlu kamu pikirkan nak, biarlah itu tetap menjadi urusan ayah. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Anak : "Aku hanya ingin tahu ayah, berapa yang ayah hasilkan dalam satu jam?"
Ayah : "Jika kamu memang harus tahu, jika dihitung per jam, maka yang ayah hasilkan adalah 50.000 rupiah."
Anak : "Ohh,," (kepalanya tertunduk lesu, kemudian mendongak ke arah ayahnya)
Anak : "Kalau begitu, bolehkah aku meminjam uang sepuluh ribu saja kepada ayah?"
(Ayah mulai curiga dengan gelagat anaknya)
Ayah : "Jika alasannya engkau meminta uang ini hanya agar kamu bisa membeli mobil-mobilan atau barang-barang lain yang tak berguna, maka pergilah ke kamarmu dan tidurlah. Pikirkanlah kenapa kamu begitu egois, aku bekerja keras setiap hari hanya untuk kamu yang kekanak-kanakanmu ini.

Anak kecil ini tanpa berkata sepatah katapun lagi kemudian pergi ke kamarnya dan menutup pintu. Sang ayah kemudian terduduk dan menjadi lebih marah tentang pertanyaan anaknya. Bagaimana bisa dia bertanya seperti itu hanya untuk meminta uang.
Setelah sejam kemudian, ayah mulai reda kemarahannya dan mulai berpikir. Mungkin ada hal yang begitu penting yang dibutuhkan anaknya dengan uang itu dan anaknya juga tidak sering meminta uang. Akhirnya ayah memutuskan untuk datang ke kamar anaknya dan membuka pintu.
Ayah : "Kamu sudah tidur nak?"
Anak : "Belum yah, aku belum tidur"
Ayah : "Aku telah berpikir, mungkin aku terlalu keras padamu tadi. Ini hari yang panjang dan aku tidak marah lagi padamu. Ini uang sepuluh ribu yang kamu minta"
Si anak kemudian terduduk di tempat tidurnya dan tersenyum.
Anak : "Ohh,, Terima kasih ayah"

Kemudian anak ini merogoh balik bantalnya dan meraih beberapa uang recehan dari dalamnya. Ayah yang melihat bahwa anaknnya memiliki uang mulai naik marah lagi. Anak melanjutkan menghitung uang pelan-pelan kemudian memandang ayahnya.
Ayah : "Mengapa kamu meminta uang kalau kamu sudah memilikinya?
Anak : "Karena saya belum cukup memilikinya, tapi sekarang sudah.
"Aku memiliki uang 50.000 rupiah sekarang, bisakah aku membeli satu jam dari waktumu? Tolong pulanglah satu jam lebih awal besok, aku ingin makan malam denganmu"

Sang ayah remuk hatinya, dia memeluk putra kecilnya dan meminta maaf dengan terisak.

Kisah fiksi ini hanya sedikit menggambarkan apa yang sebenarnya banyak dialami oleh anak-anak kita, jangan sampai anak kita menjadi seperti apa yang di lakukan anak dalam cuplikan film ini. Tontonlah versi lengkapnya, saya hanya mengambil potongan singkat dari adegan paling menyentuh menurut saya. Berikut cuplikan videonya:



Apakah hanya demi mendapatkan beberapa rupiah saja kita akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang-orang yang kita cintai? Perusahaan atau instansi tempat kita bekerja mungkin akan dengan mudah menemukan pengganti kita kalaupun kita meninggal besok, tapi keluarga dan teman-teman terdekat kita akan kehilangan kita selamanya. Akankah kita tidak meninggalkan hubungan yang indah dengan mereka dan terus mengejar rupiah (dan mungkin dolar) untuk sesuatu yang sesungguhnya ada yang lebih berharga daripada itu? 

Saya suka quote ini, " Orang miskin bukan lah orang yang tidak memiliki uang, tapi orang yang begitu mengejar uang dan menelantarkan emas dirumahnya." Emas dirumah yang dimaksud adalah keluarga kita sendiri, termasuk momen-momen bersama anak-anak kita, melihat mereka bertumbuh dan mendampingi mereka menuju kedewasaan yang benar.

Jumat, 22 Agustus 2014

Kenapa Move On itu Susah

Sebelum kita bahas lebih lanjut, sebenarnya saya sudah pernah membahas hal yang mirip dengan ini. Di artikel saya sebelumnya yang berjudul Belajar Move On, saya sudah menjelaskan kenapa move on itu sulit.
Sekarang kita akan membahas susahnya move on dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Memang sih, bagi sebagian besar orang, masih belum bisa menerima bahwa hubungan mereka harus berakhir. Ada banyak sebab dan alasan kenapa hubungan pacaran tersebut harus berakhir, mulai dari yang sederhana sampai yang rumit, mulai dari yang apa adanya sampai yang penuh rekayasa. Ada yang dengan alasan klasik aku mau fokus sama kuliahku, atau orang tua ku tidak mengijinkan kita melanjutkan hubungan ini, atau yang klasik banget, kamu terlalu baik buat aku, aku nggak bisa terus sama kamu, kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku.
Oke, kita tinggalkan saja alasan-alasan dan sebab-sebab tersebut, karena faktanya kenapa orang harus MOVE ON adalah karena mereka PERNAH MEMILIKI HUBUNGAN (baca:pacaran/tunangan). Jadi apapun alasan yang ada tadi memang hanya alasan yang dibuat-buat saja. Nah, kenapa mereka pacaran padahal sebagian besar dari mereka sadar bahwa hubungan mereka mungkin akan membuat mereka sakit hati saat putus. Kalo ditanya, kenapa mereka pacaran adalah karena mereka sedang jatuh cinta. Disinilah letak kesalahan yang sebenarnya dari orang-orang yang susah move on. MEREKA SUSAH MOVE ON KARENA DULU MEREKA FALL IN LOVE, BUKAN FLY IN LOVE. Ketika seseorang sedang jatuh cinta, biasanya sangat susah untuk bangun. Plato, seorang filsuf besar di jamannya pernah mengatakan demikian, "Love is a serious mental illness" yang artinya adalah cinta itu adalah penyakit jiwa yang serius.  Cinta itu bisa membuat orang yang sehat menjadi terganggu jiwanya, seolah mereka hidup di negeri dongeng yang semua terasa indah. Ketika cinta itu berakhir, mereka seperti terbangun dari mimpi-mimpi indah mereka dan melihat kenyataan hidup yang begitu berat itu dan merindukan masa-masa utopia di negeri dongeng tersebut. membayangkan kembali masa-masa indah saat masih pacaran dan sebagainya. Kesalahan selanjutnya adalah mereka menikmati masa-masa jatuh cinta itu dan nggak segera bangun. Udah tau kalo bangun itu susah kann,, apa nggak inget tuh waktu kita kecil, waktu kita lagi belajar jalan, waktu awal-awal banget kita baru bisa berdiri dan mencoba berjalan, susah banget buat bangun kan? Meskipun kita udah gede gini, sebenernya kita masih "sekanak-kanak" dulu kok, kita tidak pernah menjadi TERLALU DEWASA untuk menjalani hidup ini. Setiap saat kita dihadapkan pada situasi-situasi baru yang menuntut kita untuk terus bekerja keras. Jadi jangan sering-sering jatuh, apalagi sengaja jatuh, kalaupun ingin jatuh, jatuhlah pada tempat yang tepat, jangan jatuh sembarangan. Demikian juga dengan jatuh cinta, jangan suka jatuh cinta, bagaimanapun jatuh itu sakit kan?
Oleh karena itu, saya lebih suka dengan istilah "Fly in Love" ketimbang "Fall in Love". Kalo Fly in love itu kita umpamakan pacaran itu naik pesawat, tapi isinya cuma ada pilot dan co-pilot aja. Terbang atau tidaknya tergantung bagaimana orang yang di dalamnya. Kalo fall in love kan kita jatuh, kalo fly in love kita akan terbang. Terbang tentunya diatas dong, kita bisa lihat keindahan bumi dari atas ketinggian, mungkin bisa juga melintas di awan-awan yang menggantung di angkasa, kalo beruntung bisa sangat dekat sekali dengan pelangi. Namun demikian, fly in love juga memiliki risiko yang besar juga. Kalo diantara pilot dan co-pilot ada miskomunikasi, tentu pesawat itu akan menukik turun. Beruntungnya, pesawat itu normalnya ada di ketinggian yang cukup tingggi sehingga tidak akan langsung jatuh begitu hubungan diantara keduanya ada masalah, bila keduanya segera sadar, kendali pesawat memungkinkan pesawat akan terbang normal lagi. Berbeda hallnya dengan fall in love, sekali tepeleset maka akan jatuh dengan sukses, dan ketika jatuh biasanya akan susah bangun lagi, seperti petikan lagu yang seperti ini:
aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
aku tenggelam dalam lautan luka dalam
aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang

So, move on itu susah atau tidaknya memang relatif, tapi sekali lagi, semua itu berasal dari satu kesalahan yang sama, kalian tidak mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan selama perjalanan kalian (baca:pacaran) dan tiba - tiba masalah itu datang dan kalian tidak siap. Jadi sebelum mulai pacaran, siapkan dirimu untuk menerima kenyataan bahwa suatu saat mungkin kalian akan berpisah, jadi berikan seperlunya saja pada saat pacaran, dan berikan semuanya pada saat kalian sudah menikah.

Rabu, 14 Mei 2014

Leadership Camp 2014

Leadership Camp PMK UNS 2014, UNStoppable Leader, 9-11 Mei 2014 di el-Bethel, Karangpandan, Karang Anyar Jawa Tengah Indonesia.

Tim UNStoppable Dosum 


All tim peserta dan panitia UNStoppable Leader



All Crew UNStoppable Leader


Senin, 13 Mei 2013

MOVE FORWARD

Hari gini masih berjuang buat move on? Think again.
Ibarat mobil, move on itu istilahnya 'just turn on' mobil itu, artinya mobil itu masih d tempat yg sama (belum bergerak), cuma nyala aja mesinnya. Untuk mobilnya bisa bergerak, tekan koplingnya, masukin gigi satu, tekan gasnya, lepas kopling, baru maju deh mobilnya,, sampe kapan sih kita masih terus berjuang untuk nyalain mesin tapi gak pernah maju. Mesin nyala tapi ndak bergerak itu sama aja dengan pemborosan energi lho..

Melihat status di timeline facebook, dan mantengin tweets para tweeps di twitter, jadi berpikir deh kalo anak-anak sekarang itu slalu berpikir pragmatis, instan dan sempit. mereka ndak mau berpikir luas, holistik dan komprehensif. Memang sih kita harus berfikir fokus juga untuk beberapa hal, tapi ada lebih banyak hal yang harus kita pikirkan dengan komprehensif, holistik. 
sebagai anak muda, harusnya kita sudah mampu bepikir kritis logis, sudah bisa menggunakan dan mengontrol emosi dengan baik, artinya kognisi mampu menguasai dan mengontrol emosi, bukan emosi yang menguasai kognisi, itu kebalik. masalah perasaan emang kadang susah buat di kontrol, tapi adalah salah kalau kita terus-terusan ngalah atau bahkan kalah sama emosi tersebut. 
kembali ke bahasan tadi, sekilas arti move on sama move forward emang terdengar mirip sih, tapi aku merasa ada yang beda disitu. udah dijelasin di awal kan bedanya dimana. move on sih gapapa, tapi kalau ndak salah ionget sih dulu pernah ada satu pepatah yang sangat terkenal di dunia opera, "apapun yang terjadi, show must go on". kalau udah begitu, ndak ada gunanya lagi menyesali nasi yang udah jadi bubur. bubur itu akan tetap jadi bubur, gak bisa jadi nasi lagi. makanya tuh dibikin bubur ayam, jadi tetep bisa dimakan, masih bisa mengenyangkan juga kok.
Jadi skarang udah ndak jamannya lg brjuang move on, kita harus mulai ganti dengan move forward, bukan cuma sekedar 'nyala', tapi dengan lebih spesifik, kita bergerak maju.

Senin, 15 Oktober 2012

Kenangan Terulang Berbeda Rasa


Entah dari mana kumulai tulisan ini. Terlalu jauh kalau harus dirunut ke belakang, namun akan kerasa tiba-tiba banget dan bertanya-tanya kalo hanya dituliskan beberapa waktu ini aja. Jadi, mungkin akan sedikit panjang dan membosankan kalau semua ini dituliskan. Tapi semua itu harus dituliskan, jadi kunikmati saja menuliskannya.

Bagi yang tidak tahu, kisah ini berawal dari lebih kurang empat belas bulan yang lalu dimana semua hal dan segala sesuatunya bertemu. Tak ada kesan pertama yang luar biasa, tak ada apa yang orang-orang bilang j**** c***a pada pandangan pertama. Delapan hari berlalu, tetap tak ada hal istimewa yang perlu diceritakan, namun akan selalu ada kenangan indah yang terukir di hipokampus ini. Sorot mata teduhnya (meski terkadang sayu) terasa sejuk seperti datangnya mendung di kala panas terik. Keanggunan sikapnya membuatnya selalu membekas di hipokampus ini, selalu menempel layaknya perangko di kertas surat. Setelah kusadari beberapa waktu kemudian, ternyata aku telah jatuh hati pada pandangan pertama dan seterusnya, aku tak bisa menghapusnya dari hipokampusku, bahkan semakin hari semakin … ya kau tahu sendiri lah gimana rasanya, jangan pura-pura gak tau. Sebagai manusia yang hidup di jaman teknologi yang udah serba canggih kayak gini, maka komunikasi bukanlah hal yang sulit. Short Message Service benar-benar membuat rasa ini melambung entah sudah setinggi apa sampai aku tak bisa merasakan apa-apa. Maka, makin hari makin saja pengen kembali melihat senyumnya yang meneduhkan hati, menentramkan jiwa. Tapi kesibukan kuliah sungguh tidak bisa diajak bekerjasama banget,, saben hari selalu aja ada tugas yang harus diselesaikan. Semester pertama berakhir tanpa ada kesempatan untuk melihat kembali senyumnya yang melelehkan hati dan tatapannya yang meneduhkan hati.
Tahun baru, semangat baru tentu saja.. abis liburan juga,, jadi seger banget nih otak (atau minjem istilahnya mr. Douwess “encephalon”) tapi apa yang terjadi, kesempatan yang sungguh tidak pernah terpikirkan datang. Kembali ke kota Solo yang sekarang tercinta (dulu sih Gunung Rejo tercinta) dari indahnya kampung halaman nan hijau, telinga ini mendengar kabar dia dirumahnya, yang terjangkau oleh diriku. Karena sering mendengar berita bahwa kesempatan tidak datang dua kali, maka segera kusambar kesempatan itu. Pada angka tunggal tertinggi bulan kedua di tahun ini, kuputuskan untuk menyambangi rumahnya. Pagi itu, dengan tekad bulat ku berangkat dari kontrakan tercinta menuju kerumahnya, sayangnya aku tak ngerti yang mana rumahnya. Dengan tekad bulat dan sungguh nekat sampailah diterminal setempat. Berbekal petunjuk arah yang di berikan semalam sebelumnya, dimulailah long journey hari itu, berbekal 2 kaki yang setia menyusuri setiap sisi jalan dalam sms itu, akhirnya sampailah di rumahnya dengan keringat yang sudah terjun bebas dari kening dan dahi ini. Namun saat melihat senyumnya, serasa angin surga menerpa diriku, sejuk menghapus setiap keringat yang menetes. Hari itu kita mengobrol panjang lebar tinggi dalam kesana kemari sampai tak terasa lima jam telah kita habiskan bersama hari itu. Karena hari telah menunjukkan sore hari, tak enak kalau masih harus berlama-lama lagi, maka kuputuskan saja untuk mengakhiri pertemuan hari itu. Pulang dengan membawa entah sejuta atau lebih kenangan yang tersimpan dalam hippokampus ini. Hari itu tepat enam hari sebelum ulang tahunnya yang ke delapan belas.
Ternyata tepat sebulan setelah hari itu, kesempatan datang lagi, meski peluang itu tidak terbuka sepenuhnya, ada sedikit kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk melihat kembali senyumnya yang mengubahkan dunia, serta tatapan matanya yang meneduhkan hati. Hari itu harus travelling mencari-cari buku untuk membantu kelancaran kuliah. Setali tiga uang kata pepatah, atau sekali merengkuh dua pulau telampaui. Aku kembali mendapati senyum indahnya dan keteduhan itu. Masih sama seperti apa yang kudapatkan sebulan dan apa yang kudapatkan saat pertama kali bertemu. Pulang ke Solo tercinta dengan semangat baru, dengan kenangan baru yang terasa memenuhi ruang memori dalam hippokampusku. Namun, bayangan senyumnya seperti tak bisa lepas dari pandangan mataku, semester dua penuh dengan dirinya, senyumnya dan keteduhan tatapan itu.
Namun hal itu ternyata tidak semuanya menghasilkan hal positif bagiku, aku menyadari bahwa dia mengambil porsi terlalu banyak dalam pikiranku dan membuat yang lain mendapatkan porsi yang jauh kurang dari senormalnya. Maka dengan berat hati dua puluh tiga juli dua ribu dua belas, aku nyatakan padanya bahwa dengan berat hati aku harus mengurangi porsi dia di pikiranku ini. Dan dua bulan kemudian, semua kembali berjalan normal.
Tiga belas oktober, aku kembali harus melakukan perjalanan serupa dengan apa yang telah kulakukan tujuh bulan lalu. Dengan cara yang sedkit berbeda, dan pengalaman yang berbeda pula tentunya, aku masih mendapati prosesi yang sama untuk kembali bertemu dengannya. Ssebenarnya aku sudah tidak berhasrat lagi untuk menemuinya, namun rasa ini mendesakku mengambil kesempatan ini. Seperti dulu, kudatangi tempat dimana dia berada, bertemu dengan teman-teman seatapnya. Akan tetapi, dia masih menyimpan senyumnya di kamar bersama kesibukannya. Tak apa lah, aku sudah tidak berharap lagi mendapati senyumnya, hanya tak akan menolak kalau dia menampakkan senyumnya lagi. Hanya sekelebat lalu saja dia menampakkan diri, meski masih menyimpan senyumnya, masih kulihat tatapan teduhnya, damun bekan tatapn yang dulu ku lihat. Sekarang, kenangan itu terulang kembali, namun dengan rasa yang berbeda. Biarlah, mengenang kembali hari-hari itu, menghayati sepenggal syair yang pernah dilantunkan Kla Project ‘Yogyakarta’

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
a saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu

(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali) Oh…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Oh… Tak terobati

Musisi jalanan mulai beraksi, oh…
Merintih sendiri, di tengah deru, hey…
Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
(untuk s’lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati, oh…
(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali)
Tak kembali…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
Namun kotamu hadirkan senyummu yang, yang abadi
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
Izinkanlah untuk s’lalu, selalu pulang lagi
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Walau kini engkau telah tiada (tak kembali) tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu (abadi)
Senyummu abadi, abadi…

Minggu, 23 September 2012

BuBuy Bulan

Bulan..dia bulan
malam pagi sore bulan..
duduk termenung bulan..
senyum, kerling mata bulan..
jatuh bulan..
apa bulan?
siapa bulan?
kemana dimana bagaimana bulan?
kau bulan kamu bulan..bulan..bulan


Bulan kau..kau bulan.. 
buy bubuy..mang ditimang sayang.. 
ndah gun dah..buy buy bubuy.. 
jantung hati buy buy bu.. bubuy..bu bu y 
bulan..lan bu..bulan bubuy..bubuy bulan..sayang..yang disayang.. detum..detak..derum bubuy..bubuy bulan.. 
lekat..pekat..sepakat buy hanya bubuy..buy..buy buylan…



untuk adekku Debby S T
semoga bisa mendokumentasikan kegundahanmu

Minggu, 26 Agustus 2012

Antara Bukan dan Tetapi


Bukan apa yang DIA BERIKAN untuk Kita,
Tetapi apa yang KITA BERIKAN untuk Dia.
Bukan apa yang DIA LAKUKAN kepada Kita,
Tetapi apa yang KITA LAKUKAN kepada Dia.
Bukan apa yang Dinikmati Panca Indera Kita,
Tetapi apa yang Dirasakan Hati Kita.
Bukan Dia yang Datang saat Kita Berpesta,
Tetapi Dia yang Menemani saat Berduka.
Bukan Dia yang merancang Kecelakaan Kita,
Tetapi Dia yang Menopang saat Kita tak berdaya.
Bukan Dia yang IRI melihat Keberhasilan kita,
Tetapi Dia yang BANGGA dengan Kerja Keras kita.
Bukan Dia yang Mengumbar aib kita,
Tetapi Dia yang Mengunci mulutnya demi kita.
Bukan Dia yang LARI bila tak lagi Kaya,
Tetapi Dia yang Datang saat kita tak punya Apa-apa.
Bukan Dia yang mengaku Sahabat,
Tetapi Dia yang menunjukkan ARTI SAHABAT.
SAHABAT tidaklah BUKAN,
SAHABAT adalah Tetapi.
Jauhilah yang dibelakang BUKAN,
 Hidupilah yang dibelakang TETAPI.
Tayu, Tiga Puluh Satu Juli Dua Ribu Sembilan

Rabu, 08 Agustus 2012

Tulisan Itu Bertanggal Dua Puluh Tiga Juli


Hari itu memang hari yang sungguh sibuk bagiku. Agenda kegiatan di summercamp itu memang benar-benar membuat lelah pikiran dan raga ini. SKS demi SKS dijalani dengan sepenuh hati, dengan melawan rasa kantuk yang selalu menyertai, dengan semangat yang membara untuk belajar hal baru, walau banyak hal yang sejujurnya belum terlalu paham, but the show must go on. Setelah empat hari menjalani segala kesibukan dan padatnya agenda sesi-sesi Summercamp, maka selesailah sudah rangkaian Summercamp pada hari senin, dua puluh tiga juli duaribu dua belas. Kobaran semangat yang begitu menggelora membakar setiap hati peserta camp, mendidihkan darah yang terpompa ke seluruh tubuh, mengalirkan gairah untuk mengingat dan memperjuangkan kembali tujuan hidup kita yang sebenarnya. Malam itu, aku mendapatkan suntikan motivasi yang sangat hebat, mendorongku untuk tidak lagi hanya memikirkan diriku sendiri, mementingkan kepentinganku sendiri, berhenti untuk berfikir bisa hidup sendiri dan hanya untuk sendiri. Malam itu aku berkomitmen untuk tidak lagi mementingkan AKU sendiri. Masih banyak hal yang bisa kukerjakan selain hanya untuk diriku sendiri. Konskuensi yang langsung aku kerjakan untuk mulai melakukan apa yang aku telah dapatkan dari summercamp adalah memutuskan apa yang selama ini mengganggu dan memenuhi isi kepalaku. Satu hal yang mungkin tidak pernah ada orang lain yang tahu tentang ini, sebuah rahasia besar yang berbulan-bulan aku simpan, yang kini aku tidak mampu lagi untuk terus menyimpannya, dan rahasia itupun akhirnya aku ungkapkan malam itu, dua puluh tiga juli dua ribu dua belas.
            Malam itu, kusegerakan untuk menuliskan apa yang perlu kutuliskan. Meskipun malam telah larut dan tengah malam menunggu di depan mata, saat mata tinggal lima watt, tetap kuputuskan untuk menulis, sebelum hilang apa yang ada di hati dan pikiranku, sebelum padam semangat yang berkobar di dalam dada ini. Akupun mulai menulis, tentang perasaan itu yang sungguh sangat lama aku simpan, aku harus melepasmu, demikianlah yang kutulis malam itu. Kusampaikan dalam tulisan iru sebuah perasaan yang sebetulnya aku masih menunggu waktu untuk mengungkapkannya, namun malam itu harus kuungkapkan sebelum mekar benar. Kutuliskan sebuah kejujuran dan ketulusan yang harusnya terasa sangat atau paling tidak sedikit menyakitkan bagiku, namun malam itu aku mendapatkan suntikan kekuatan dan keberanian untuk aku bisa menulis dengan lepas dan terbuka, sejujurnya dan apa adanya, dengan jujur dan apa adanya kuungkapkan semua perasaan yang telah lama kusimpan dalam diriku tersebut. Satu pesan yang kutulis sebelum mengakhirinya adalah “balaslah tulisan ini bila kau berkenan pada isinya, dan kembalikan padaku jika kau tidak berkenan pada isinya, jangan buang tulisan ini, karena ini terlalu berharga bagiku”
            Kutuliskan ini untuk mengenang waktu itu dan untuk ciptaan Tuhan yang menerima tulisan itu, semoga Tuhan mempertemukan kita kembali suatu saat dalam kisah yang bahagia. Dan kalaupun kita tak bisa berbahagia (bersama), aku berharap kau bisa berbahagia dengannya.