Pernahkah kalian mendengar atau membaca atau mungkin melihat kisah Einstein muda yang mendebat gurunya bahwa Tuhan itu ada dan Tuhan tidak menciptakan kejahatan? Saya masih ingat dengan jelas premisnya bahwa segala hal buruk itu tidak eksis, tidak nyata. Kesimpulan dari kisahnya adalah kejahatan terjadi bukan karna kejahatan itu diciptakan oleh Tuhan, tapi kejahatan ada karena tidak adanya Tuhan dalam hati manusia. Seperti dingin dan kegelapan yang sesungguhnya tidak nyata. Dingin adalah kondisi yang digambarkan sebagai akibat ketiadaan panas (thermal) didalamnya, kan di dalam sains yang ada juga satuan panas bukan satuan dingin. Sama halnya dengan kegelapan, kondisi yang digambarkan dengan keadaan tiada cahaya disana, sains juga memberikan satuan cahaya bukan satuan kegelapan. Kemudian apa esensinya?
Seberapa sering dari kita yang berbuat atau berpikir seperti gurunya Einstein? Seberapa sering kita berpikir, atau bahkan berucap tentang seorang anak bahwa dia bodoh dan nakal? Mari kita bahas dengan logika berpikir seperti Einstein, sapa tau bisa ketularan pinter, mau kan? Jadi Einstein berpikir kalo dingin dan gelap itu tidak eksis, saya juga berpikir bodoh itu enggak eksis, enggak nyata. Einstein mengambilnya dari lawan katanya, dingin dengan panas, gelap dengan terang, oleh sebab itu lawan dari bodoh adalah cerdas (intelligent). Bila dijelaskan dengan logika berpikirnya Einstein, maka bodoh itu tidak ada, Bodoh adalah kata yang mendiskripsikan kondisi dimana tidak adanya kecerdasan. Lagian selama yang saya tahu juga nggak ada skala kebodohan, yang saya tahu adalah Intelligent Test yang menghasilkan IQ. Meskipun saya bukan orang yang mengagung-agungkan IQ sebagai satu-satunya indikator kecerdasan, saya hanya menyampaikan bahwa yang ada itu adalah kecerdasan bukan kebodohan. Apabila kebodohan itu adalah hal yang tidak nyata, maka sesungguhnya anak bodoh adalah sesuatu yang nggak ada. Anak (yang kemudian disebut) bodoh adalah anak dengan kondisi kurang cerdas. Mereka yang ada dalam kondisi kurang cerdas ini justru layak untuk kita beri perhatian lebih agar mampu memaksimalkan kecerdasan yang mereka miliki. Berpikir mereka bodoh hanyalah akan membuat mereka kehilangan potensi yang sesungguhnya mereka miliki, mereka layak dikelilingi oleh manusia-manusia yang mampu merawat dan menumbuhkan mimpi-mimpi dan potensi mereka. Sudahkan anda menjadi manusia-manusia yang merawat atau menumbuhkan mimpi-mimpi mereka? atau menjadi manusia-manusia yang menginjak dan mengubur mimpi mereka? berhentilah mengatakan anak bodoh dan mulailah berkata bahwa sesungguhnya mereka adalah manusia-manusia cerdas.
Oh iya masih satu yang saya belum bahas, apakah anak nakal itu tidak nyata juga? jawabannya adalah YA. Nakal itu tidak nyata, nakal itu semakna dengan jahat, jahat itu konsep yang menggambarkan tidak adanya kebaikan. Anak yang (disebut) nakal itu sebenarnya anak yang kurang kebaikan dalam dirinya. Seperti halnya kegelapan yang tidak memiliki terang atau cahaya, demikianlah kehidupan anak (yang disebut) nakal itu. Seperti malam tiada berbintang yang gelap, demikianlah hati anak (yang disebut) nakal itu. Namun seiring fajar menjelang, datanglah matahari menyinari mengirimkan cahaya ke bumi, maka teranglah bumi dan tersingkirlah gelap itu. Gelap tidak bisa mengusir gelap, tapi terang bisa. Jadi adalah hal yang mustahil untuk berharap anak (yang disebut) nakal tiba tiba menjadi anak baik. Malam menjadi siang saja butuh waktu lho, ada jarak yang harus ditempuh dalam proses itu. Mereka itu butuh orang lain untuk bisa menjadi baik, karna orang yang tenggelam tidak dapat menarik dirinya sendiri dari dalam air. Orang yang tenggelam perlu orang lain untuk menolongnya/menariknya keluar dari air. Mereka itu perlu dibimbing, mereka membutuhkan sosok terang yang mampu mengusir kegelapan dari hati mereka. Mereka sesungguhnya sedang merindukan kapan fajar kan datang menjelang, hati mereka yang telah lama dingin dan gelap merindukan fajar yang membawa cahaya yang menerangi hati mereka dan panas yang menghangatkan hati mereka. Kalau ada anak yang dianggap bodoh, ajarilah mereka tentang apa yang mereka tidak tahu. Ajari mereka tentang kehidupan, ajari mereka untuk berani mengusik ketenangan dan kenyamanan mereka, menggali potensi dan bakat yang mereka miliki.
Sebagai penutup, berhentilah berkata anak bodoh atau anak nakal pada mereka yang sesungguhnya cerdas dan sedang menuju baik. Biar tulisan ini jadi seperti tulisan motivasi yang sedang digandrungi masyarakat, ada baiknya saya menutup dengan kutipan dari seorang bijaksana, "Berhentilah mengutuki kegelapan, mulailah bergerak cari lilin dan korekmu kemudian nyalakan lilin".
Seberapa sering dari kita yang berbuat atau berpikir seperti gurunya Einstein? Seberapa sering kita berpikir, atau bahkan berucap tentang seorang anak bahwa dia bodoh dan nakal? Mari kita bahas dengan logika berpikir seperti Einstein, sapa tau bisa ketularan pinter, mau kan? Jadi Einstein berpikir kalo dingin dan gelap itu tidak eksis, saya juga berpikir bodoh itu enggak eksis, enggak nyata. Einstein mengambilnya dari lawan katanya, dingin dengan panas, gelap dengan terang, oleh sebab itu lawan dari bodoh adalah cerdas (intelligent). Bila dijelaskan dengan logika berpikirnya Einstein, maka bodoh itu tidak ada, Bodoh adalah kata yang mendiskripsikan kondisi dimana tidak adanya kecerdasan. Lagian selama yang saya tahu juga nggak ada skala kebodohan, yang saya tahu adalah Intelligent Test yang menghasilkan IQ. Meskipun saya bukan orang yang mengagung-agungkan IQ sebagai satu-satunya indikator kecerdasan, saya hanya menyampaikan bahwa yang ada itu adalah kecerdasan bukan kebodohan. Apabila kebodohan itu adalah hal yang tidak nyata, maka sesungguhnya anak bodoh adalah sesuatu yang nggak ada. Anak (yang kemudian disebut) bodoh adalah anak dengan kondisi kurang cerdas. Mereka yang ada dalam kondisi kurang cerdas ini justru layak untuk kita beri perhatian lebih agar mampu memaksimalkan kecerdasan yang mereka miliki. Berpikir mereka bodoh hanyalah akan membuat mereka kehilangan potensi yang sesungguhnya mereka miliki, mereka layak dikelilingi oleh manusia-manusia yang mampu merawat dan menumbuhkan mimpi-mimpi dan potensi mereka. Sudahkan anda menjadi manusia-manusia yang merawat atau menumbuhkan mimpi-mimpi mereka? atau menjadi manusia-manusia yang menginjak dan mengubur mimpi mereka? berhentilah mengatakan anak bodoh dan mulailah berkata bahwa sesungguhnya mereka adalah manusia-manusia cerdas.
Oh iya masih satu yang saya belum bahas, apakah anak nakal itu tidak nyata juga? jawabannya adalah YA. Nakal itu tidak nyata, nakal itu semakna dengan jahat, jahat itu konsep yang menggambarkan tidak adanya kebaikan. Anak yang (disebut) nakal itu sebenarnya anak yang kurang kebaikan dalam dirinya. Seperti halnya kegelapan yang tidak memiliki terang atau cahaya, demikianlah kehidupan anak (yang disebut) nakal itu. Seperti malam tiada berbintang yang gelap, demikianlah hati anak (yang disebut) nakal itu. Namun seiring fajar menjelang, datanglah matahari menyinari mengirimkan cahaya ke bumi, maka teranglah bumi dan tersingkirlah gelap itu. Gelap tidak bisa mengusir gelap, tapi terang bisa. Jadi adalah hal yang mustahil untuk berharap anak (yang disebut) nakal tiba tiba menjadi anak baik. Malam menjadi siang saja butuh waktu lho, ada jarak yang harus ditempuh dalam proses itu. Mereka itu butuh orang lain untuk bisa menjadi baik, karna orang yang tenggelam tidak dapat menarik dirinya sendiri dari dalam air. Orang yang tenggelam perlu orang lain untuk menolongnya/menariknya keluar dari air. Mereka itu perlu dibimbing, mereka membutuhkan sosok terang yang mampu mengusir kegelapan dari hati mereka. Mereka sesungguhnya sedang merindukan kapan fajar kan datang menjelang, hati mereka yang telah lama dingin dan gelap merindukan fajar yang membawa cahaya yang menerangi hati mereka dan panas yang menghangatkan hati mereka. Kalau ada anak yang dianggap bodoh, ajarilah mereka tentang apa yang mereka tidak tahu. Ajari mereka tentang kehidupan, ajari mereka untuk berani mengusik ketenangan dan kenyamanan mereka, menggali potensi dan bakat yang mereka miliki.
Sebagai penutup, berhentilah berkata anak bodoh atau anak nakal pada mereka yang sesungguhnya cerdas dan sedang menuju baik. Biar tulisan ini jadi seperti tulisan motivasi yang sedang digandrungi masyarakat, ada baiknya saya menutup dengan kutipan dari seorang bijaksana, "Berhentilah mengutuki kegelapan, mulailah bergerak cari lilin dan korekmu kemudian nyalakan lilin".


