ada yang pernah denger ungkapan ini? "
Move on itu susah karena kita sekolah dari SD sampe sekarang itu diajari buat menghafal dan mengingat, bukan melupakan"
sepintas ada benarnya juga sih kalo dipikir. Tapi semakin saya pikir-pikir lagi, ternyata kita selama ini adalah korban kesalahan sistem, salah satunya adalah sistem pendidikan yang membesarkan kita ini. Namun saya tidak mau menyalahkan sistem disini, karena bagaimanapun saya sudah berjuang sekian lama di dalam sistem tersebut sampai sekarang ini. Saya hanya mengkritisi bagian dimana anak-anak yang dibesarkan di dalam sistem tersebut, yang menjadi anak-anak muda jaman sekarang yang melahirkan generasi dengan kegalauan yang semakin hari semakin memprihatinkan. Keprihatinan saya tergelitik ketika saya membaca ungkapan diatas tadi. bentuk penalaran yang dangkal akibat dari pendidikan yang hanya mengingat dan menghafalkan, jadinya ya anak-anak kayak gini, hanya berpikiran dangkal dan pragmatis. Memprihatinkan sekali.
Nah, mari kita luruskan pada konsep yang benar. Kalo kamu susah move, ya jangan nyalahin jaman SD mu, Jaman eSeMPe mu, jaman eSeMA mu atau eSeMKa mu, tapi ngaca sama diri sendiri, koreksi diri sendiri. Kalo dulu pas kamu sekolahnya belajar dengan bener, kamu pasti nggak kayak gini sekarang. Siapa yang suruh kamu belajar asal-asalan, masuk sekolah asal-asalan, belajar di kelas juga asal-asalan. Lebih banyak nggosip daripada diskusi pelajaran, lebih asyik ngusilin temen daripada ngedengerin guru njelasin materi, lebih suka maen PS daripada belajar. Hayoo ngaku aja kalo kamu-kamu dulu begitu,, jadi kalo kamu sekarang gak bisa move on kayak gini, itu berarti salah kamu sendiri..
Eh, mesti pada nanya-nanya nih, apa hubungannya hal itu tadi sama gak bisa move on? hehehe, sabar dulu, ikuti alur berpikirnya dulu, jangan suka lompat-lompat dan ambil jalan pintas kalo masih pengen belajar move on. Begini, cara kalian belajar waktu sekolah, menentukan cara berpikir kalian sampai dewasa. Bagaimana kalian menyikapi persoalan di sekolah, itu juga yang akan kalian lakukan saat menyikapi masalah kehidupan. Kalo kalian suka mencari jalan pintas waktu masih sekolah, nyontek misalnya, kalian juga akan suka mencari jalan pintas untuk mengatasi masalah kehidupan ini. Padahal setiap kita ini unik lho, kita memiliki masalah masing-masing yang harus diselesaikan dengan cara kita sendiri, bukan cara orang lain yang kita adopsi. Cara yang berhasil di terapkan pada masalah orang lain belum tentu berhasil diterapkan di masalah kita, demikian sebaliknya. Bagaimanapun kita harus tetap berjuang dengan kemampuan yang kita miliki. Oke, kembali ke masalah belajar dan gagal move on tadi. Kalo selama ini kalian gaya belajarnya SKS (Sistem Kebut Semalem) kalo mau ujian, ya tentu saja kalian hanya belajar mengingat dan menghafalkan. Padahal sistem belajar yang baik adalah memahami untuk mengingat. Memahami disini melibatkan banyak sekali kegiatan dalam otak kita, yang membuat kita seringkali malas untuk melakukannnya. Memahami melibatkan proses mendengar, kemudian menyeleksi mana hal yang baik, yang memiliki keterkaitan, mana yang tidak dan harus dibuang, kemudian melihat keterkaitan antar hal tersebut dan merangkumnya menjadi sebuah konsep yang harus diingat. Ketika seseorang memiliki gaya belajar yang demikian, ia akan memiliki cara berpikir yang sama dalam menyikapi permasalahan hidup. Tidak akan mudah stres hanya karena satu cara yang dipakainya gagal. Otaknya yang sudah terbiasa bekerja dengan sistematis akan mengevaluasi cara kerja dan prosedur pekerjaannya untuk mengetahui proses mana yang tidak efektif dan berujung kegagalan. Memperbaiki celah dan memulai kembali prosedur tersebut sampai bisa menyelesaikan permasalahan yang ada. Masih belum paham kaitannya dengan move on?
Saya jelaskan lagi alurnya.
Cara kita belajar disekolah menentukan gaya belajar kita tentang kehidupan. Gaya belajar kita menentukan cara berpikir kita dalam menyikapi masalah kehidupan. Gaya belajar yang terbiasa dengan sistem jalan pintas menghasilkan otak yang selalu meminta jalan pintas, sedangkan gaya belajar pada alur yang benar akan menghasilkan cara berpikir yang sistematis dan jelas menyelesaikan masalah. Dikaitkan dengan masalah berhubungan (baca:pacaran), hal ini memiliki keterkaitan yang cukup berarti. Pacaran adalah salah satu kondisi yang melibatkan banyak masalah kehidupan, dan seringkali terjadi, perpisahan (baca:putus) adalah masalah kehidupan terbesar dari beberapa mereka yang pernah pacaran. Banyak dari mereka yang tidak bisa mengatasi masalah perpisahan ini dan terus hidup dalam masa lalu seolah masih hidup bersama. Inilah yang menjadi masalah, mereka tidak bisa mengevaluasi apa yang mereka telah lakukan dan tidak bisa melihat sisi baik buruk dari apa yang telah mereka lakukan. Padahal, biasanya mereka sudah salah memulainya dari awal (baca: salah motivasi) sehingga karena satu dan lain hal mereka harus berpisah dan tidak bisa menerima kenyataan itu. Kalau kita biasa berpikir untuk memahami, bukan menghafalkan dan mengingat, kita akan segera mencari tahu kenapa hal ini terjadi, bukannya meratapi kenapa hal ini terjadi. Dengan memahami apa yang terjadi, kita akan memperoleh gambaran yang lebih luas tentang masalah ini dan langkah apa yang akan kita ambil.
So, move bukan lah hal yang sulit kalo kita bisa memahami apa yang sebenarnya telah terjadi.
Namun demikian, saya mencoba memberikan beberapa tips praktis untuk move on.
- Pikirkan lagi tujuan awal kalian pacaran, hanya untuk status, bersenang-senang, mengisi waktu luang, buat temen malem mingguan aja atau memang serius mau nikah?
- Kalo emang tujuan awal kalian pacaran buat nikah, pikirkan lagi apakah memang dia sudah layak untukmu, ataukah dirimu sudah layak untuknya? kalo belum jangan buru-buru menyesal, kembangkan dirimu dulu sampai selayaknya.
- Kalo tujuan awal kalian selain buat nikah, ngapain juga kalian pada stress gak bisa move on? Masih banyak cewek/cowok yang lain kan?? Mau ngomong, "nggak ada yang sebaik dia lagi"? itu cuma omong kosong otakmu aja. Otak mu menggosip sedemikian rupa sehingga seolah-olah dia yang terbaik. Mulai buka mata dan lihat sekelilingmu.
- Kalo cara ketiga masih nggak berhasil, ambil cermin dulu. Ngaca!!
- Kalo ngaca masih nggak bisa liat kenapa kamu gak bisa move on, bertanyalah pada rumput yang bergoyang.
MOVE ON MEMANG TIDAK SEMUDAH MEMBALIK TELAPAK TANGAN TAPI JUGA TIDAK SESULIT PUNGGUK MEMELUK BULAN.