Minggu, 20 September 2015

Flow like water




Saya yakin, sebagian besar dari kalian pernah mendengar ungkapan ini. Entah dalam bahasa inggris atau bahasa Indonesia, mengalir seperti air. Ungkapan ini sangat favorit diucapkan dikala seseorang ditanya tentang sesuatu yang akan dikerjakan di masa depannya, entah itu besok, lusa, minggu depan, bulan depan atau tahun depan, bahkan untuk beberapa tahun ke depan. Saya sering mendengar orang-orang yang berkata seperti ini, bahkan beberapa teman saya juga mengatakannya. Memang dunia ini penuh dengan ketidakpastian, penuh dengan kejadian-kejadian di luar rencana kita. Seringkali juga teman-teman saya berpikir, toh Tuhan sudah merencanakan saya akan begini dan begitu, jadi ikut saja. Wah, saya jadi ikut berpikir juga nih kalo udah nyangkut-nyangkut Tuhan gini, bisa dunia akhirat urusannya.
                Tapi bagaimana jadinya jika rencana Tuhan yang sempurna itu ada beberapa bagian yang ditulis “improvisasi.” Saya sering menulis naskah drama, dan beberapa kali ikut main drama juga. Saya mengerti betul bagaimana susahnya untuk benar-benar menjadi sosok yang digambarkan oleh penulis scenario (yang bukan skrip saya) secara tepat. Sangat susah untuk bisa mengatakan tepat seperti apa yang ditulis dengan ekspresi atau gesture yang diharapkan. Apa yang kemudian terjadi adalah saya, dan para pemain lainnya melakukan improvisasi. Yang belum tahu, improvisasi itu adalah hal-hal yang dilakukan diluar kehendak yang ditetapkan (dalam hal ini skrip) sesuai dengan kehendak yang melakukan (pemain). Improvisasi tentu tidak sembarangan saja dilakukan, ada teknik dan aturan-aturannya juga. Aturan dasar yang saya tahu adalah tidak mengubah esensi atau pesan yang ingin disampaikan dari skrip tersebut, sama seperti kalau menyanyi improvisasinya tidak boleh ‘fals’ begitu. Kemudian improvisasi harus dilakukan tanpa mengganggu pemain lain dan tidak boleh mengganggu konsentrasi pemain lain. Bayangkan saja pemain telah berusaha untuk memahami runtutan cerita yang ditulis dalam skrip, dan improvisasi yang dilakukan membuat lawan main bingung sampai skrip mana improvisasi yang dilakukan, kan malah bikin seluruh pertunjukan itu menjadi kacau. Saya yakin dalam hidup pun demikian, ada beberapa bagian dalam hidup ini yang perlu diimprovisasi. Kalaupun Tuhan udah punya “perfect script” juga, saya yakin Dia di beberapa bagian dalam skrip itu menuliskan “as your wish.” Tuhan toh sayang banget sama kita para ciptaanya, jadi dia ingin juga melihat kita terlibat dalam karya besarnya, karna kita bukan wayang atau boneka pertunjukkan bagi Dia.
                Setelah kalian membaca dua paragraph diatas, saya yakin kalian sudah berusaha menebak-nebak apa yang ingin saya sampaikan. Jika kalian merasa saya nggak setuju dengan judul diatas, maka tebakan kalian adalah tepat dan kalian berhak mendapat hadiah permen, segera minta kepada orang tua kalian, hahaha. Jangan terlalu serius gitu lah, ntar cepet tua loh.. Pertanyaan selanjutnya pasti kenapa saya tidak setuju? Pasti pada nanya gitu kan? Jawabannya simple, sejak kecil saya diajarkan sebuah kalimat begini oleh orang tua saya, “nak, kalau kamu percaya sama Tuhan dan menyerahkan hidup padanya, maka Dia akan menjadikanmu kepala dan bukan ekor, Dia akan membuat engkau terus naik dan bukan turun.” Setelah saya sekolah, saya diajarkan oleh guru saya bahwa hukum alam untuk air, selain mengikuti bentuk wadah dimana dia diletakkan, yang paling saya ingat adalah air selalu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Itu hokum alam, kalau ada air mancur itu brarti udah nggak sesuai dengan hukum alam, udah ada campur tangan manusia dan rekayasa teknologi. Yang alami tentu saja seperti air terjun, mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Jadi kalau mengikuti prinsip mengalir seperti air, maka yang terjadi adalah hal-hal yang terus turun, padahal setiap orang ingin terus naik mencapai yang lebih besar, lebih baik.
                Poinnya disini adalah saya tidak mengikuti prinsip flow like water dan mengajak kalian untuk juga tidak mengikutinya. Saya tentu punya alasan kenapa prinsip ini tidak baik. Alasan pertama sudah saya jelaskan seperti paragraph diatas. Setiap orang ingin terus naik, sekolah yang lebih tinggi, karir yang lebih baik, juga punya pasangan biar bisa memperbaiki keturunan (kalau yang terakhir ini curhatan yang nulis sih wkwkwk). Intinya semua orang ingin yang lebih tinggi, jadi jangan ikuti prinsip air ini. Alasan yang kedua adalah, air itu sangat fleksibel, dia dengan mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sekecil apapun beda ketinggiannya ia akan berpindah ke tempat yang lebih rendah.  Kalo kalian mengikuti prinsip ini, kalian akan susah maju karena setiap kali ada situasi berubah, kalian akan mengisi celah yang lebih rendah, dalam arti akan mundur selangkah. Dengan demikian akan susah untuk maju dan mengejar apa yang menjadi mimpi-mimpimu.
                Sebagian besar orang yang mengatakan prinsip flow like water yang saya kenal, mereka mengikuti prinsip ini karena takut, takut berspekulasi, takut gagal, takut yang terjadi tak sesuai dengan apa yang direncanakan, takut ini dan takut itu. Kemudian yang terjadi adalah mereka tidak melakukan apa-apa, menjalani hidup dari hari ke hari tanpa pernah menetapkan satu tujuan. Saya belum pernah mengenal orang yang sukses dan memiliki pencapaian besar yang mengikuti prinsip ini. Setiap orang sukses yang saya tahu adalah orang-orang yang bekerja keras pada setiap hal yang telah mereka tetapkan sebagai tujuan. Andaikata hidup ini adalah sebuah perjalanan dimana dalam waktu-waktu tertentu kita harus menyeberangi sungai berarus deras, apakah masih ingin tetap mengalir seperti air dan terhanyut sampai entah dimana. Setiap orang sukses yang saya tahu, mereka menetapkan tujuan yang ingin mereka capai, mereka pasang target sukses mereka akan seperti apa dan berusaha sekeras mungkin untuk mencapainya. Tak peduli ada arus deras di hadapan mereka yang harus diseberangi, bila memang itu satu-satunya jalan yang harus dilewati untuk mencapai tujuan, mereka akan melakukannya, bahkan kalau itu perlu melawan arus, mereka melakukannya. Kalian juga pasti ingin sukses kan? Tinggalkan prinsip flow like water itu, mulai sekarang tetapkan tujuan hidupmu. Pasang target sukses yang ingin kalian capai. Mulai susun strategi kalian untuk mencapainya, tetapkan langkah-langkah yang akan kalian lakukan. Rencanakan setiap hal yang akan kalian lakukan untuk mencapai cita-citamu, apa yang akan kalian lakukan minggu ini, bulan ini, tahun ini dan tahun-tahun mendatang. Rencana mungkin tidak akan berjalan mulus sesuai rencana, tapi dengan target yang kalian pasang, kalian tahu langkah apa yang akan kalian kerjakan dan kemana kalian akan melangkah saat arus menyeret kalian, setidaknya jangan kalah sebelum berperang.

                See you on top guys, man’s eyes see impossible, God’s eyes see I’mpossible, Whatever you are doing with God, you can do anything.