Hari
itu sore hari tanggal 16 Agustus, di lapangan desa sudah berkumpul semua orang
dari hampir seluruh isi kampung, bahkan ada beberapa penduduk kampung sebelah
yang juga hadir. Sore itu adalah partai final dari acara perlombaan menyambut
hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Waktu ini keramaian
terpusat di salah satu sudut lapangan
dimana sedang belangsung perlombaan balap karung. Sore ini adalah final yang
mempertemukan kelima pembalap terbaik yang telah melewati babak penyisihan.
Kelima anak telah bersiap-siap dalam karungnya masing-masing. Di tengah gegap
gempita para pendukung masing-masing finalis, tiba-tiba satu anak yang ditengah
berkata, “kak,minta waktu sebentar,”
anak tersebut kemudian berlutut dan menundukkan kepala sambil berdoa. Semenit
kemudian di berkata, “sudah kak, aku
sudah siap.” “Baik, semua sudah siap!
Satu, dua, tiigaa‼” demikian seru
seseorang memberi aba-aba. Bak kanguru dikejar pemangsa, maka anak-anak
tersebut melompat-lompat cepat sekali. Tak sampai semenit kemudian, akan
dapatlah diketahui siapa pemenang balap karung tahun ini. Kelima finalispun
berjuang keras untuk menjadi yang tercepat, ada yang smepat jatuh dan kemudian
bangkit lagi untuk menyelesaikan lomba. Ternyata, anak yang berdoa sebelum
pertandingan tadi yang menyentuh garis finish terlebih dahulu dan dinyatakan
sebagai pemenang. Setelah beristirahat sejenak, tibalah waktunya penyerahan
piala dan hadiah. Sebelum menyerahkan piala, ketua panitia bertanya, “kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan supaya
kamu menang, ya kan?” “Bukan Kak, bukan itu yang aku panjatkan,” demikian
katanya. Lalu ia melanjutkan, “aku tidak
meminta Tuhan untuk menolongku supaya aku menang dengan mengalahkan peserta
lainnya. Aku memohon kepada Tuhan, supaya aku tidak menangis jika aku kalah.”
Jawaban itu bukan saja membuat para penonton terheran, namun juga membuatnya
mendapatkan tepuk tangan yang sangat meriah dari semua yang menonton.
Senin, 12 November 2012
Kemenangan yang Berarti
Pemenang sejati bukan hanya mereka yang mampu
mengalahkan musuh-musuhnya, namun para pemenang juga mereka yang mampu
mengalahkan diri sendiri dan keegoisannya serta mampu menerima kekalahan yang
mereka dapatkan. Seperti yang sering diperdengarkan oleh para pendahulu kita, menang tanpa ngasorake (menang tanpa
merendahkan lawan) itulah yang seorang pemenang sejati lakukan. Menjadi
pemenang tanpa menambah musuh dalam hidupnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar