Senin, 15 Oktober 2012

Kenangan Terulang Berbeda Rasa


Entah dari mana kumulai tulisan ini. Terlalu jauh kalau harus dirunut ke belakang, namun akan kerasa tiba-tiba banget dan bertanya-tanya kalo hanya dituliskan beberapa waktu ini aja. Jadi, mungkin akan sedikit panjang dan membosankan kalau semua ini dituliskan. Tapi semua itu harus dituliskan, jadi kunikmati saja menuliskannya.

Bagi yang tidak tahu, kisah ini berawal dari lebih kurang empat belas bulan yang lalu dimana semua hal dan segala sesuatunya bertemu. Tak ada kesan pertama yang luar biasa, tak ada apa yang orang-orang bilang j**** c***a pada pandangan pertama. Delapan hari berlalu, tetap tak ada hal istimewa yang perlu diceritakan, namun akan selalu ada kenangan indah yang terukir di hipokampus ini. Sorot mata teduhnya (meski terkadang sayu) terasa sejuk seperti datangnya mendung di kala panas terik. Keanggunan sikapnya membuatnya selalu membekas di hipokampus ini, selalu menempel layaknya perangko di kertas surat. Setelah kusadari beberapa waktu kemudian, ternyata aku telah jatuh hati pada pandangan pertama dan seterusnya, aku tak bisa menghapusnya dari hipokampusku, bahkan semakin hari semakin … ya kau tahu sendiri lah gimana rasanya, jangan pura-pura gak tau. Sebagai manusia yang hidup di jaman teknologi yang udah serba canggih kayak gini, maka komunikasi bukanlah hal yang sulit. Short Message Service benar-benar membuat rasa ini melambung entah sudah setinggi apa sampai aku tak bisa merasakan apa-apa. Maka, makin hari makin saja pengen kembali melihat senyumnya yang meneduhkan hati, menentramkan jiwa. Tapi kesibukan kuliah sungguh tidak bisa diajak bekerjasama banget,, saben hari selalu aja ada tugas yang harus diselesaikan. Semester pertama berakhir tanpa ada kesempatan untuk melihat kembali senyumnya yang melelehkan hati dan tatapannya yang meneduhkan hati.
Tahun baru, semangat baru tentu saja.. abis liburan juga,, jadi seger banget nih otak (atau minjem istilahnya mr. Douwess “encephalon”) tapi apa yang terjadi, kesempatan yang sungguh tidak pernah terpikirkan datang. Kembali ke kota Solo yang sekarang tercinta (dulu sih Gunung Rejo tercinta) dari indahnya kampung halaman nan hijau, telinga ini mendengar kabar dia dirumahnya, yang terjangkau oleh diriku. Karena sering mendengar berita bahwa kesempatan tidak datang dua kali, maka segera kusambar kesempatan itu. Pada angka tunggal tertinggi bulan kedua di tahun ini, kuputuskan untuk menyambangi rumahnya. Pagi itu, dengan tekad bulat ku berangkat dari kontrakan tercinta menuju kerumahnya, sayangnya aku tak ngerti yang mana rumahnya. Dengan tekad bulat dan sungguh nekat sampailah diterminal setempat. Berbekal petunjuk arah yang di berikan semalam sebelumnya, dimulailah long journey hari itu, berbekal 2 kaki yang setia menyusuri setiap sisi jalan dalam sms itu, akhirnya sampailah di rumahnya dengan keringat yang sudah terjun bebas dari kening dan dahi ini. Namun saat melihat senyumnya, serasa angin surga menerpa diriku, sejuk menghapus setiap keringat yang menetes. Hari itu kita mengobrol panjang lebar tinggi dalam kesana kemari sampai tak terasa lima jam telah kita habiskan bersama hari itu. Karena hari telah menunjukkan sore hari, tak enak kalau masih harus berlama-lama lagi, maka kuputuskan saja untuk mengakhiri pertemuan hari itu. Pulang dengan membawa entah sejuta atau lebih kenangan yang tersimpan dalam hippokampus ini. Hari itu tepat enam hari sebelum ulang tahunnya yang ke delapan belas.
Ternyata tepat sebulan setelah hari itu, kesempatan datang lagi, meski peluang itu tidak terbuka sepenuhnya, ada sedikit kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk melihat kembali senyumnya yang mengubahkan dunia, serta tatapan matanya yang meneduhkan hati. Hari itu harus travelling mencari-cari buku untuk membantu kelancaran kuliah. Setali tiga uang kata pepatah, atau sekali merengkuh dua pulau telampaui. Aku kembali mendapati senyum indahnya dan keteduhan itu. Masih sama seperti apa yang kudapatkan sebulan dan apa yang kudapatkan saat pertama kali bertemu. Pulang ke Solo tercinta dengan semangat baru, dengan kenangan baru yang terasa memenuhi ruang memori dalam hippokampusku. Namun, bayangan senyumnya seperti tak bisa lepas dari pandangan mataku, semester dua penuh dengan dirinya, senyumnya dan keteduhan tatapan itu.
Namun hal itu ternyata tidak semuanya menghasilkan hal positif bagiku, aku menyadari bahwa dia mengambil porsi terlalu banyak dalam pikiranku dan membuat yang lain mendapatkan porsi yang jauh kurang dari senormalnya. Maka dengan berat hati dua puluh tiga juli dua ribu dua belas, aku nyatakan padanya bahwa dengan berat hati aku harus mengurangi porsi dia di pikiranku ini. Dan dua bulan kemudian, semua kembali berjalan normal.
Tiga belas oktober, aku kembali harus melakukan perjalanan serupa dengan apa yang telah kulakukan tujuh bulan lalu. Dengan cara yang sedkit berbeda, dan pengalaman yang berbeda pula tentunya, aku masih mendapati prosesi yang sama untuk kembali bertemu dengannya. Ssebenarnya aku sudah tidak berhasrat lagi untuk menemuinya, namun rasa ini mendesakku mengambil kesempatan ini. Seperti dulu, kudatangi tempat dimana dia berada, bertemu dengan teman-teman seatapnya. Akan tetapi, dia masih menyimpan senyumnya di kamar bersama kesibukannya. Tak apa lah, aku sudah tidak berharap lagi mendapati senyumnya, hanya tak akan menolak kalau dia menampakkan senyumnya lagi. Hanya sekelebat lalu saja dia menampakkan diri, meski masih menyimpan senyumnya, masih kulihat tatapan teduhnya, damun bekan tatapn yang dulu ku lihat. Sekarang, kenangan itu terulang kembali, namun dengan rasa yang berbeda. Biarlah, mengenang kembali hari-hari itu, menghayati sepenggal syair yang pernah dilantunkan Kla Project ‘Yogyakarta’

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
a saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu

(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali) Oh…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Oh… Tak terobati

Musisi jalanan mulai beraksi, oh…
Merintih sendiri, di tengah deru, hey…
Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
(untuk s’lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati, oh…
(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali)
Tak kembali…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
Namun kotamu hadirkan senyummu yang, yang abadi
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
Izinkanlah untuk s’lalu, selalu pulang lagi
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Walau kini engkau telah tiada (tak kembali) tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu (abadi)
Senyummu abadi, abadi…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar