Hari
itu memang hari yang sungguh sibuk bagiku. Agenda kegiatan di summercamp itu
memang benar-benar membuat lelah pikiran dan raga ini. SKS demi SKS dijalani
dengan sepenuh hati, dengan melawan rasa kantuk yang selalu menyertai, dengan
semangat yang membara untuk belajar hal baru, walau banyak hal yang sejujurnya
belum terlalu paham, but the show must go on. Setelah empat hari menjalani
segala kesibukan dan padatnya agenda sesi-sesi Summercamp, maka selesailah sudah
rangkaian Summercamp pada hari senin, dua puluh tiga juli duaribu dua belas.
Kobaran semangat yang begitu menggelora membakar setiap hati peserta camp,
mendidihkan darah yang terpompa ke seluruh tubuh, mengalirkan gairah untuk
mengingat dan memperjuangkan kembali tujuan hidup kita yang sebenarnya. Malam
itu, aku mendapatkan suntikan motivasi yang sangat hebat, mendorongku untuk
tidak lagi hanya memikirkan diriku sendiri, mementingkan kepentinganku sendiri,
berhenti untuk berfikir bisa hidup sendiri dan hanya untuk sendiri. Malam itu
aku berkomitmen untuk tidak lagi mementingkan AKU sendiri. Masih banyak hal
yang bisa kukerjakan selain hanya untuk diriku sendiri. Konskuensi yang
langsung aku kerjakan untuk mulai melakukan apa yang aku telah dapatkan dari summercamp
adalah memutuskan apa yang selama ini mengganggu dan memenuhi isi kepalaku.
Satu hal yang mungkin tidak pernah ada orang lain yang tahu tentang ini, sebuah
rahasia besar yang berbulan-bulan aku simpan, yang kini aku tidak mampu lagi
untuk terus menyimpannya, dan rahasia itupun akhirnya aku ungkapkan malam itu,
dua puluh tiga juli dua ribu dua belas.
Malam itu, kusegerakan untuk menuliskan
apa yang perlu kutuliskan. Meskipun malam telah larut dan tengah malam menunggu
di depan mata, saat mata tinggal lima watt, tetap kuputuskan untuk menulis,
sebelum hilang apa yang ada di hati dan pikiranku, sebelum padam semangat yang
berkobar di dalam dada ini. Akupun mulai menulis, tentang perasaan itu yang
sungguh sangat lama aku simpan, aku harus melepasmu, demikianlah yang kutulis
malam itu. Kusampaikan dalam tulisan iru sebuah perasaan yang sebetulnya aku
masih menunggu waktu untuk mengungkapkannya, namun malam itu harus kuungkapkan
sebelum mekar benar. Kutuliskan sebuah kejujuran dan ketulusan yang harusnya
terasa sangat atau paling tidak sedikit menyakitkan bagiku, namun malam itu aku
mendapatkan suntikan kekuatan dan keberanian untuk aku bisa menulis dengan
lepas dan terbuka, sejujurnya dan apa adanya, dengan jujur dan apa adanya
kuungkapkan semua perasaan yang telah lama kusimpan dalam diriku tersebut. Satu
pesan yang kutulis sebelum mengakhirinya adalah “balaslah tulisan ini bila kau
berkenan pada isinya, dan kembalikan padaku jika kau tidak berkenan pada
isinya, jangan buang tulisan ini, karena ini terlalu berharga bagiku”
Kutuliskan ini untuk mengenang waktu
itu dan untuk ciptaan Tuhan yang menerima tulisan itu, semoga Tuhan
mempertemukan kita kembali suatu saat dalam kisah yang bahagia. Dan kalaupun
kita tak bisa berbahagia (bersama), aku berharap kau bisa berbahagia dengannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar