Selasa, 08 Oktober 2013

MENJADI MANDIRI BERKUALITAS BUKAN SEKEDAR JOMBLO

Akhirnya blog ini update juga setelah sekian lama dianggurin karena ditinggal sibuk oleh pemiliknya..
Sebenernya masih ada beberapa kesibukan juga sih, namun karena lagi suntuk dengan banyak kesibukan, refreshing dulu deh dengan mampir di sini, memindahkan file-file yang udah memenuhi otakku ini ke external memori. Oke, sebelum kita masuk ke file-file intinya, baca dulu beberapa kata pengantarnya ini. Mengapa folder kali ini berjudul demikian, karena akhir-akhir ini, lingkungan di sekitar saya sedang sensitif dengan isu ini, beberapa kejadian yang menimbulkan kecemburuan para 'jomblowan dan jomblowati' pada mereka yang sudah berstatus 'couple'. Oke, secara pribadi saya kurang suka dengan penggunaan kata JOMBLO ini, karena dari Kamus Besar Bahasa Indonesia yang saya baca, kata jomblo ini tidak ditemukan. Setelah melewati beberapa tahap penyidikan dan penyelidikan, akhirnya ditemukan bahwa JOMBLO itu ditemukan dari kata JOMLO, yang di KBBI diartikan sebagai 'gadis tua atau perawan tua'. Kata ini mengalami pergeseran ucapan karena kesalahan pengucapan. Seperti kata 'jumlah' yang kadang ada yg menuliskan 'jumplah', dan huruf "p" dengan "b" itu memiliki rima vokal. Karena kata JOMLO ini terdengar janggal bila ditulis JOMPLO, yang sering kita liat adalah kata JOMBLO, dan kata ini yang dipakai secara luas oleh kalangan umum. Dari dasar inilah saya tidak begitu menyukai penggunaan kata ini untuk menyebut mereka yang tidak atau belum pacaran. Jadi pada folder ini saya saya ingin mengganti kata JOMBLO ini dengan istilah Mandiri Berkualitas. Selain itu, kadang janggal juga sih, kalo yang berpacaran kan disebutnya couple, jadi ya lebih enak kalo yang belum atau sedang tidak berpacaran itu disebut single.  Bagi saya, istilah ini mewakili kualitas seharusnya dari mereka yang memang sedang mempersiapkan diri untuk menyandang status "couple".

Selanjutnya, untuk mempersiapkan diri pada kehidupan selanjutnya, menjadi mandiri dan berkualitas itu sangat penting. Kita yang saat ini sedang menikmati masa-masa anugerah 'sendiri' sudah seharusnya memperlengkapi diri, menjadi pribadi yang yang tidak bergantung pada orang lain, baik dalam area fisik, psikis, sikap, perilaku yang dewasa, yang identik dengan kemandirian. Selain itu, kita juga harus berkualitas, karena sudah tentu, seperti kita mengharapkan mendapatkan pasangan hidup yang terbaik, begitu juga calon pasangan hidup kita tentu saja mengharapkan mendapatkan pasangan hidup yang terbaik. Jadi bagaimana bisa kita bisa berharap mendapatkan pasangan yang sangat baik tapi kita tidak mempersiapkan diri kita untuk menjadi pribadi yang sebaik-baiknya. Bukankah sering kita mendengar bahwa "janganlah kamu menjadi pasangan yang tidak seimbang", ya kan? maka dari itu, selama kita masih diberi waktu untuk memperlengkapi diri kita untuk menjadi lebih baik seperti yang diharapkan, kembangkan diri sebaik-baiknya sesuai kualitas yang seharusnya. Sudah ndak jaman lagi kita galau karena ndak memiliki pacar, karena pada hakikatnya pacaran tidak hanya sekedar memiliki pacar. Penjelasannya akan saya sampaikan pada folder selanjutnya aja ya, udah mau kuliah nih,,

Sementara ini, persiapkan diri, ubah pola pikir, pasti bisa menjadi mandiri berkualitas.

Senin, 13 Mei 2013

MOVE FORWARD

Hari gini masih berjuang buat move on? Think again.
Ibarat mobil, move on itu istilahnya 'just turn on' mobil itu, artinya mobil itu masih d tempat yg sama (belum bergerak), cuma nyala aja mesinnya. Untuk mobilnya bisa bergerak, tekan koplingnya, masukin gigi satu, tekan gasnya, lepas kopling, baru maju deh mobilnya,, sampe kapan sih kita masih terus berjuang untuk nyalain mesin tapi gak pernah maju. Mesin nyala tapi ndak bergerak itu sama aja dengan pemborosan energi lho..

Melihat status di timeline facebook, dan mantengin tweets para tweeps di twitter, jadi berpikir deh kalo anak-anak sekarang itu slalu berpikir pragmatis, instan dan sempit. mereka ndak mau berpikir luas, holistik dan komprehensif. Memang sih kita harus berfikir fokus juga untuk beberapa hal, tapi ada lebih banyak hal yang harus kita pikirkan dengan komprehensif, holistik. 
sebagai anak muda, harusnya kita sudah mampu bepikir kritis logis, sudah bisa menggunakan dan mengontrol emosi dengan baik, artinya kognisi mampu menguasai dan mengontrol emosi, bukan emosi yang menguasai kognisi, itu kebalik. masalah perasaan emang kadang susah buat di kontrol, tapi adalah salah kalau kita terus-terusan ngalah atau bahkan kalah sama emosi tersebut. 
kembali ke bahasan tadi, sekilas arti move on sama move forward emang terdengar mirip sih, tapi aku merasa ada yang beda disitu. udah dijelasin di awal kan bedanya dimana. move on sih gapapa, tapi kalau ndak salah ionget sih dulu pernah ada satu pepatah yang sangat terkenal di dunia opera, "apapun yang terjadi, show must go on". kalau udah begitu, ndak ada gunanya lagi menyesali nasi yang udah jadi bubur. bubur itu akan tetap jadi bubur, gak bisa jadi nasi lagi. makanya tuh dibikin bubur ayam, jadi tetep bisa dimakan, masih bisa mengenyangkan juga kok.
Jadi skarang udah ndak jamannya lg brjuang move on, kita harus mulai ganti dengan move forward, bukan cuma sekedar 'nyala', tapi dengan lebih spesifik, kita bergerak maju.

Senin, 12 November 2012

Kemenangan yang Berarti


Hari itu sore hari tanggal 16 Agustus, di lapangan desa sudah berkumpul semua orang dari hampir seluruh isi kampung, bahkan ada beberapa penduduk kampung sebelah yang juga hadir. Sore itu adalah partai final dari acara perlombaan menyambut hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Waktu ini keramaian terpusat  di salah satu sudut lapangan dimana sedang belangsung perlombaan balap karung. Sore ini adalah final yang mempertemukan kelima pembalap terbaik yang telah melewati babak penyisihan. Kelima anak telah bersiap-siap dalam karungnya masing-masing. Di tengah gegap gempita para pendukung masing-masing finalis, tiba-tiba satu anak yang ditengah berkata, “kak,minta waktu sebentar,” anak tersebut kemudian berlutut dan menundukkan kepala sambil berdoa. Semenit kemudian di berkata, “sudah kak, aku sudah siap.” “Baik, semua sudah siap! Satu, dua, tiigaa‼”  demikian seru seseorang memberi aba-aba. Bak kanguru dikejar pemangsa, maka anak-anak tersebut melompat-lompat cepat sekali. Tak sampai semenit kemudian, akan dapatlah diketahui siapa pemenang balap karung tahun ini. Kelima finalispun berjuang keras untuk menjadi yang tercepat, ada yang smepat jatuh dan kemudian bangkit lagi untuk menyelesaikan lomba. Ternyata, anak yang berdoa sebelum pertandingan tadi yang menyentuh garis finish terlebih dahulu dan dinyatakan sebagai pemenang. Setelah beristirahat sejenak, tibalah waktunya penyerahan piala dan hadiah. Sebelum menyerahkan piala, ketua panitia bertanya, “kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan supaya kamu menang, ya kan?” “Bukan Kak, bukan itu yang aku panjatkan,” demikian katanya. Lalu ia melanjutkan, “aku tidak meminta Tuhan untuk menolongku supaya aku menang dengan mengalahkan peserta lainnya. Aku memohon kepada Tuhan, supaya aku tidak menangis jika aku kalah.” Jawaban itu bukan saja membuat para penonton terheran, namun juga membuatnya mendapatkan tepuk tangan yang sangat meriah dari semua yang menonton.

Pemenang sejati bukan hanya mereka yang mampu mengalahkan musuh-musuhnya, namun para pemenang juga mereka yang mampu mengalahkan diri sendiri dan keegoisannya serta mampu menerima kekalahan yang mereka dapatkan. Seperti yang sering diperdengarkan oleh para pendahulu kita, menang tanpa ngasorake (menang tanpa merendahkan lawan) itulah yang seorang pemenang sejati lakukan. Menjadi pemenang tanpa menambah musuh dalam hidupnya.

Senin, 15 Oktober 2012

Kenangan Terulang Berbeda Rasa


Entah dari mana kumulai tulisan ini. Terlalu jauh kalau harus dirunut ke belakang, namun akan kerasa tiba-tiba banget dan bertanya-tanya kalo hanya dituliskan beberapa waktu ini aja. Jadi, mungkin akan sedikit panjang dan membosankan kalau semua ini dituliskan. Tapi semua itu harus dituliskan, jadi kunikmati saja menuliskannya.

Bagi yang tidak tahu, kisah ini berawal dari lebih kurang empat belas bulan yang lalu dimana semua hal dan segala sesuatunya bertemu. Tak ada kesan pertama yang luar biasa, tak ada apa yang orang-orang bilang j**** c***a pada pandangan pertama. Delapan hari berlalu, tetap tak ada hal istimewa yang perlu diceritakan, namun akan selalu ada kenangan indah yang terukir di hipokampus ini. Sorot mata teduhnya (meski terkadang sayu) terasa sejuk seperti datangnya mendung di kala panas terik. Keanggunan sikapnya membuatnya selalu membekas di hipokampus ini, selalu menempel layaknya perangko di kertas surat. Setelah kusadari beberapa waktu kemudian, ternyata aku telah jatuh hati pada pandangan pertama dan seterusnya, aku tak bisa menghapusnya dari hipokampusku, bahkan semakin hari semakin … ya kau tahu sendiri lah gimana rasanya, jangan pura-pura gak tau. Sebagai manusia yang hidup di jaman teknologi yang udah serba canggih kayak gini, maka komunikasi bukanlah hal yang sulit. Short Message Service benar-benar membuat rasa ini melambung entah sudah setinggi apa sampai aku tak bisa merasakan apa-apa. Maka, makin hari makin saja pengen kembali melihat senyumnya yang meneduhkan hati, menentramkan jiwa. Tapi kesibukan kuliah sungguh tidak bisa diajak bekerjasama banget,, saben hari selalu aja ada tugas yang harus diselesaikan. Semester pertama berakhir tanpa ada kesempatan untuk melihat kembali senyumnya yang melelehkan hati dan tatapannya yang meneduhkan hati.
Tahun baru, semangat baru tentu saja.. abis liburan juga,, jadi seger banget nih otak (atau minjem istilahnya mr. Douwess “encephalon”) tapi apa yang terjadi, kesempatan yang sungguh tidak pernah terpikirkan datang. Kembali ke kota Solo yang sekarang tercinta (dulu sih Gunung Rejo tercinta) dari indahnya kampung halaman nan hijau, telinga ini mendengar kabar dia dirumahnya, yang terjangkau oleh diriku. Karena sering mendengar berita bahwa kesempatan tidak datang dua kali, maka segera kusambar kesempatan itu. Pada angka tunggal tertinggi bulan kedua di tahun ini, kuputuskan untuk menyambangi rumahnya. Pagi itu, dengan tekad bulat ku berangkat dari kontrakan tercinta menuju kerumahnya, sayangnya aku tak ngerti yang mana rumahnya. Dengan tekad bulat dan sungguh nekat sampailah diterminal setempat. Berbekal petunjuk arah yang di berikan semalam sebelumnya, dimulailah long journey hari itu, berbekal 2 kaki yang setia menyusuri setiap sisi jalan dalam sms itu, akhirnya sampailah di rumahnya dengan keringat yang sudah terjun bebas dari kening dan dahi ini. Namun saat melihat senyumnya, serasa angin surga menerpa diriku, sejuk menghapus setiap keringat yang menetes. Hari itu kita mengobrol panjang lebar tinggi dalam kesana kemari sampai tak terasa lima jam telah kita habiskan bersama hari itu. Karena hari telah menunjukkan sore hari, tak enak kalau masih harus berlama-lama lagi, maka kuputuskan saja untuk mengakhiri pertemuan hari itu. Pulang dengan membawa entah sejuta atau lebih kenangan yang tersimpan dalam hippokampus ini. Hari itu tepat enam hari sebelum ulang tahunnya yang ke delapan belas.
Ternyata tepat sebulan setelah hari itu, kesempatan datang lagi, meski peluang itu tidak terbuka sepenuhnya, ada sedikit kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk melihat kembali senyumnya yang mengubahkan dunia, serta tatapan matanya yang meneduhkan hati. Hari itu harus travelling mencari-cari buku untuk membantu kelancaran kuliah. Setali tiga uang kata pepatah, atau sekali merengkuh dua pulau telampaui. Aku kembali mendapati senyum indahnya dan keteduhan itu. Masih sama seperti apa yang kudapatkan sebulan dan apa yang kudapatkan saat pertama kali bertemu. Pulang ke Solo tercinta dengan semangat baru, dengan kenangan baru yang terasa memenuhi ruang memori dalam hippokampusku. Namun, bayangan senyumnya seperti tak bisa lepas dari pandangan mataku, semester dua penuh dengan dirinya, senyumnya dan keteduhan tatapan itu.
Namun hal itu ternyata tidak semuanya menghasilkan hal positif bagiku, aku menyadari bahwa dia mengambil porsi terlalu banyak dalam pikiranku dan membuat yang lain mendapatkan porsi yang jauh kurang dari senormalnya. Maka dengan berat hati dua puluh tiga juli dua ribu dua belas, aku nyatakan padanya bahwa dengan berat hati aku harus mengurangi porsi dia di pikiranku ini. Dan dua bulan kemudian, semua kembali berjalan normal.
Tiga belas oktober, aku kembali harus melakukan perjalanan serupa dengan apa yang telah kulakukan tujuh bulan lalu. Dengan cara yang sedkit berbeda, dan pengalaman yang berbeda pula tentunya, aku masih mendapati prosesi yang sama untuk kembali bertemu dengannya. Ssebenarnya aku sudah tidak berhasrat lagi untuk menemuinya, namun rasa ini mendesakku mengambil kesempatan ini. Seperti dulu, kudatangi tempat dimana dia berada, bertemu dengan teman-teman seatapnya. Akan tetapi, dia masih menyimpan senyumnya di kamar bersama kesibukannya. Tak apa lah, aku sudah tidak berharap lagi mendapati senyumnya, hanya tak akan menolak kalau dia menampakkan senyumnya lagi. Hanya sekelebat lalu saja dia menampakkan diri, meski masih menyimpan senyumnya, masih kulihat tatapan teduhnya, damun bekan tatapn yang dulu ku lihat. Sekarang, kenangan itu terulang kembali, namun dengan rasa yang berbeda. Biarlah, mengenang kembali hari-hari itu, menghayati sepenggal syair yang pernah dilantunkan Kla Project ‘Yogyakarta’

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
a saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu

(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali) Oh…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Oh… Tak terobati

Musisi jalanan mulai beraksi, oh…
Merintih sendiri, di tengah deru, hey…
Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
(untuk s’lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati, oh…
(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali)
Tak kembali…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
Namun kotamu hadirkan senyummu yang, yang abadi
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
Izinkanlah untuk s’lalu, selalu pulang lagi
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Walau kini engkau telah tiada (tak kembali) tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu (abadi)
Senyummu abadi, abadi…

Minggu, 07 Oktober 2012

dalam kisah Lima Oktober Dua Ribu Dua Belas

entah kenapa dia datang hari itu, eh bukan. hari sebelumnya dia datang dan harus menginap ditempatku. tak ada kisah, karena memang malam itu kita tak berkisah seperti layaknya kisah aladin dalam 1001 malam nya. pagi aku bangun sepeti biasa, mengerjakan aktifitas biasa, dan semuanya hanya biasa-biasa saja..
semua berubah ketika dia menawarkan untuk kita berkeliling dan jalan-jalan.. harusnya aku yang menawarinya, tapi entah kenapa malah dia yang mengajakku jalan-jalan.. ya akhirnya kita pun berangkat bersama dua personel lain yang sudah menunggu kami, ya untung saja rutinitasku pagi itu udah mengagendakan untuk mandi pagi, jadi kita langsung berangkat aja. aku hanya ngikut aja kemana mereka pergi, istilah lainnya hanya menemani gitu lah.. the journey begin..
pagi itu berangkat mulai motor-motoran, mau berangkat pake ban motor kempes lagi, harus tambah angin dulu.. ban terisi, kitapun pergi.. setelah muter-muter menyusuri beberapa jalan utama di Surakarta, sampailah kita di tempat tujuan mereka TAMAN BALAEKAMBANG. setelah beberapa waktu muter-muter dan becanda ria dan ngobrol-ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon munggah mudhun dan sebagainya serta tidak lupa foto--foto tentunya.. yang perlu digarisbawahi dalam perjalanan kali ini adalah kami menemukan 2 pasang anak manusia yang mencoba berlaku dewasa, berdua-duaan di salah satu tempat (bukan sudut) yang sepi dan memang sungguh shocking banget ketika kami menemukan mereka. sayangnya kami tak bisa mengabadikan potret mereka untuk menjadi bahan kajian kita bersama. sungguh memprihatinkan kondisi anak-anak muda jaman ini, kita perlu lebih peduli pada mereka, generasi penerus bangsa ini. kita harus lebih banyak memberikan perhatian kita pada mereka, they NEED to CARE, mereka perlu perhatian kita. saat dunia ini berkonspirasi untuk membuat mereka kehilangan perhatian dan kasih sayang, mari kita tunjukkan bahwa kita memiliki apa yang mereka butuhkan, Change THEM to be Better, it's mean Change the WORLD. mari kawan kita kerjakan, mulai dari satu tindakan kecil berdampak besar..
lanjutkan perjalanan kita, hehehe,, terlalu semangat sama anak-anak.. setelah siang, yang bener-bener panas sangat hari itu, meluncur pulang, tapi kita mampir ke SS, ada jamuan dari saudari kita,, kami berterima kasih untuk saudari Juita Lorda La'ia yang memberikan kami makan siang penuh kesan, Huh Hah Huh Hah banget dah pokoknya siang itu.. makasih buat Anggreni Tri Kristyas yang telah mengabadikan momen spesial ini.. Special thanks to Andistia Han Putra yang membuat momen ini benar-benar spesial..

salah satu dari beberapa kenangan yang sempat terekam mata kamera.. percayalah kawan, meski tak terekam, masih aja jutaan kenangan indah yang tersimpan dalam otakku.