Minggu, 26 Agustus 2012

Antara Bukan dan Tetapi


Bukan apa yang DIA BERIKAN untuk Kita,
Tetapi apa yang KITA BERIKAN untuk Dia.
Bukan apa yang DIA LAKUKAN kepada Kita,
Tetapi apa yang KITA LAKUKAN kepada Dia.
Bukan apa yang Dinikmati Panca Indera Kita,
Tetapi apa yang Dirasakan Hati Kita.
Bukan Dia yang Datang saat Kita Berpesta,
Tetapi Dia yang Menemani saat Berduka.
Bukan Dia yang merancang Kecelakaan Kita,
Tetapi Dia yang Menopang saat Kita tak berdaya.
Bukan Dia yang IRI melihat Keberhasilan kita,
Tetapi Dia yang BANGGA dengan Kerja Keras kita.
Bukan Dia yang Mengumbar aib kita,
Tetapi Dia yang Mengunci mulutnya demi kita.
Bukan Dia yang LARI bila tak lagi Kaya,
Tetapi Dia yang Datang saat kita tak punya Apa-apa.
Bukan Dia yang mengaku Sahabat,
Tetapi Dia yang menunjukkan ARTI SAHABAT.
SAHABAT tidaklah BUKAN,
SAHABAT adalah Tetapi.
Jauhilah yang dibelakang BUKAN,
 Hidupilah yang dibelakang TETAPI.
Tayu, Tiga Puluh Satu Juli Dua Ribu Sembilan

Rabu, 08 Agustus 2012

Tulisan Itu Bertanggal Dua Puluh Tiga Juli


Hari itu memang hari yang sungguh sibuk bagiku. Agenda kegiatan di summercamp itu memang benar-benar membuat lelah pikiran dan raga ini. SKS demi SKS dijalani dengan sepenuh hati, dengan melawan rasa kantuk yang selalu menyertai, dengan semangat yang membara untuk belajar hal baru, walau banyak hal yang sejujurnya belum terlalu paham, but the show must go on. Setelah empat hari menjalani segala kesibukan dan padatnya agenda sesi-sesi Summercamp, maka selesailah sudah rangkaian Summercamp pada hari senin, dua puluh tiga juli duaribu dua belas. Kobaran semangat yang begitu menggelora membakar setiap hati peserta camp, mendidihkan darah yang terpompa ke seluruh tubuh, mengalirkan gairah untuk mengingat dan memperjuangkan kembali tujuan hidup kita yang sebenarnya. Malam itu, aku mendapatkan suntikan motivasi yang sangat hebat, mendorongku untuk tidak lagi hanya memikirkan diriku sendiri, mementingkan kepentinganku sendiri, berhenti untuk berfikir bisa hidup sendiri dan hanya untuk sendiri. Malam itu aku berkomitmen untuk tidak lagi mementingkan AKU sendiri. Masih banyak hal yang bisa kukerjakan selain hanya untuk diriku sendiri. Konskuensi yang langsung aku kerjakan untuk mulai melakukan apa yang aku telah dapatkan dari summercamp adalah memutuskan apa yang selama ini mengganggu dan memenuhi isi kepalaku. Satu hal yang mungkin tidak pernah ada orang lain yang tahu tentang ini, sebuah rahasia besar yang berbulan-bulan aku simpan, yang kini aku tidak mampu lagi untuk terus menyimpannya, dan rahasia itupun akhirnya aku ungkapkan malam itu, dua puluh tiga juli dua ribu dua belas.
            Malam itu, kusegerakan untuk menuliskan apa yang perlu kutuliskan. Meskipun malam telah larut dan tengah malam menunggu di depan mata, saat mata tinggal lima watt, tetap kuputuskan untuk menulis, sebelum hilang apa yang ada di hati dan pikiranku, sebelum padam semangat yang berkobar di dalam dada ini. Akupun mulai menulis, tentang perasaan itu yang sungguh sangat lama aku simpan, aku harus melepasmu, demikianlah yang kutulis malam itu. Kusampaikan dalam tulisan iru sebuah perasaan yang sebetulnya aku masih menunggu waktu untuk mengungkapkannya, namun malam itu harus kuungkapkan sebelum mekar benar. Kutuliskan sebuah kejujuran dan ketulusan yang harusnya terasa sangat atau paling tidak sedikit menyakitkan bagiku, namun malam itu aku mendapatkan suntikan kekuatan dan keberanian untuk aku bisa menulis dengan lepas dan terbuka, sejujurnya dan apa adanya, dengan jujur dan apa adanya kuungkapkan semua perasaan yang telah lama kusimpan dalam diriku tersebut. Satu pesan yang kutulis sebelum mengakhirinya adalah “balaslah tulisan ini bila kau berkenan pada isinya, dan kembalikan padaku jika kau tidak berkenan pada isinya, jangan buang tulisan ini, karena ini terlalu berharga bagiku”
            Kutuliskan ini untuk mengenang waktu itu dan untuk ciptaan Tuhan yang menerima tulisan itu, semoga Tuhan mempertemukan kita kembali suatu saat dalam kisah yang bahagia. Dan kalaupun kita tak bisa berbahagia (bersama), aku berharap kau bisa berbahagia dengannya.

Senin, 18 Juni 2012

TEMANI AKU

Dalam pekatnya malam ini


Kutumpahkan tinta segelap mendung di langit kelabu


Kuusapkan pada kanvas kalbu dalam goresan kesunyian


Sepi sendiri dalam kegagahan hitam yang mengurung ragaku.


Wahai engkau yang kutunggu hadirmu


Seberkas cahaya kehidupan yang memancar terangi gelapku


Lilin kecil yang berjuang melawan gagahnya kekelaman,


Dalam setiap sinarmu terpancar sebuah ungkapan


“Tenanglah sayang, kau tak sendiri dalam gelapmu,aku disini untuk menemanimu”







behind the scene:
karya ini tergores dua desember dua ribu sebelas saat penggores sedang sendirian di kos, dalam keremangan senja. Mendung yang menggelayut sedari waktu tergelincirnya matahari menambah keremangan hatinya. Kegundahan pun memuncah tatkala hujan rintik-rintik mulai turun membasahi bumi ini, namun tidak begitu dengan hatinya yang tetap kering kerontang. Kesepianpun makin memberontak saat listrik tiba-tiba ngambek tak mau mengalir, kegelapan menjadi semakin menggila menambah kegundahan. Kesendirian dan kesepian semakin menjadi jadi saat perut mulai protes dengan apa yang dikerjakan empunya. Penggores menjadi semakin resah dalam sejuta kegundahan hatinya yang tertawan oleh pekatnya malam, dalam kesunyian yang membelenggu hatinya. Muncul akal sehatnya untuk mencari sebuah lilin dan menyalakannya. Dan kepekatan sedikit demi sedikit memudar, kesunyian perlahan menghilang dan kesepian menjadi kehilangan kuasanya atas penggores. Lilin kecil, dengan sinarnya yang teramat kecil, ternyata mampu menerangi hati sang penggores, layaknya sinar mentari di pagi hari, yang cerahkan bumi sepanjang hari.

Senin, 14 Mei 2012

a sweet moment to remember




entah kenapa mereka menoleh ke arah yang sama, apa yang mereka liat ya??


ini adalah sweetest moment dari acara ini.

foto-foto ini diambil pada 31 maret 2012 di pantai sadranan pada kegiatan refreshing after transformation camp, beberapa pengurus PMK UNS dan beberapa panitia trafo menjadi saksi momen yang meninggalkan kesan yang tak terlupakan ini.

Senin, 30 April 2012

KESALAHAN


1.      “kamu adalah cinta sejatiku, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama”
Kesalahan pengucapan kalimat tersebut ditemukan dalam kata “pada pandangan pertama”. Cinta sejati itu bukan cinta kilat atau cinta instan, cinta sejati itu adalah cinta yang telah teruji dan terbukti mampu melewati rintangan, godaan, dan hambatan untuk menjadi cinta sejati. Cinta itu slalu butuh waktu untuk jadi cinta sejati. Jadi kalimat yang seharusnya muncul adalah, “kamu adalah cinta sejatiku, aku telah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Aku selalu bertambah cinta setiap memandangmu.”

2.      “kamu cantik hari ini”, “kamu tampak lebih cantik”
Ungkapan ini perlu dicermati dari motif pengucapan kalimat pujian ini. Ada kemungkinan pujian ini muncul karena sejujurnya pengen bilang, “kemarin kamu jelek” atau “kenapa kamu cantik ndak dari kemarin sih?” ungkapan cinta yang tulus seharusnya memberikan pujian yang tulus, ungkapan yang bener untuk diungkapkan harusnya, “kamu selalu cantik dimataku, demikian juga hari ini.”

3.      “cinta itu datang dari mata turun ke hati”
Ini merupakan salah satu kesalahan persepsi dan kesalahan linguistic yang mengakibatkan kesalahan atribusi. Orang jawa bilang sih, salah tapi wes lumrah (salah tapi udah jadi biasa). Sebenarnya dari mata tidak turun ke hati karena alasan berikut. Hati (liver) jelas tidak bisa digunakan untuk merasa, harusnya indera perasa itu malah kulit, hati itu sebagai penawar racun dan gudang glikogen. Sedangkan orang inggris menyebutnya heart. Dalam bahasa saya, heart itu diartikannya sebagai jantung, gunanya sebagai mesin pemompa darah, ndak sempet buat ngurusi masalah cinta. Lalu apa yang seharusnya dikatakan??  “cinta itu datang dari mata mundur ke otak”, itulah yang harusnya dikatakan. Reseptor impuls penglihatan itu terletak di lobus oksipitalis di bagian belakang kepala. Karena mata sebagai indera penglihatan terletak di bagian paling depan dari kepala, maka cinta itu datang dari mata mundur ke otak. Karena otaklah yang memiliki fungsi persepsi, bisa membedakan rasa, termasuk rasa cinta yang datang, bukan hati yang sebagai penawar racun atau heart sebagai mesin pemompa darah.

4.      “cinta itu tak harus memiliki”
Ini adalah kesalahan BESAR!! Cinta itu mutlak dan menuntut untuk memiliki. Jika cinta tak harus memiliki, trus apa dong yang dicintai?? Mutlak harus memiliki karena cinta itu satu paket dengan dorongan  nafsu, dia tidak bisa sendirian aja tumbuh. Bagaimanapun cinta itu menuntut untuk memiliki sepenuhnya. Jika “rasa” itu tak harus memiliki, maka sesungguhnya “rasa” tesebut adalah KASIH, like sunshine, just giving, never take it back.

diatas hanyalah beberapa contoh kecil kesalahan-kesalahan yang sering ditemui. memang cinta itu adalah masalah perasaan, tapi sebagai manusia kita juga tidak boleh meninggalkan begitu saja anugerah istimewa bagi ciptaan-Nya yang disebut akal pikiran (logika) itu. kita harus menyeimbangkan keduanya agar tercapai hidup yang lebih baik. Salam iseng dari Plato.