Minggu, 01 Februari 2015

Semua akan menikah pada waktunya *

Kebetulan saya sedang jalan jalan di beranda akun medsos, sebut saja facebook begitu. Waktu liat-liat postingan yg ada kok ada yg menarik hati saya, postingan teman saya dari halaman orang luar negeri, begini isinya,,
Karena ini tulisan impor, saya akan coba menterjemahkan dalam bahasa kebangsaan saya, bahasa Indonesia yang kurang lebih demikian artinya.
Jangan menikah untuk seks,
jangan menikah karena kamu sudah berumur,
jangan menikah karena kamu merasa sudah tua,
jangan menikah karena kamu kesepian,
jangan menikah karena kamu perlu seseorang untuk menopang keuanganmu,
jangan menikah karena kamu terlanjur hamil,
jangan menikah karena kamu tidak ingin kehilangan seseorang,
jangan menikah karena tekanan keluarga,
jangan menikah karena kamu suka tentang hal pernikahan dan mengagumi setiap gaun pernikahan yang kamu lihat,
jangan menikah karena semua temanmu sudah menikah,
Tetapi menikahlah karena kamu sedang mencintai dan mengasihi,
menikahlah karena dia sahabat terbaikmu dan ketika cinta yang awal tadi sudah tiada lagi, dia masih tetap bisa membuatmu tersenyum.

Yakinlah bahwa suatu hari, hari pernikahan itu datang dan engkau akan menggandeng tangan yang tepat, bukan tangan yang seharusnya digandeng oleh orang lain. Tuhan sudah menciptakan setiap kita untuk berpasang-pasangan, jadi tidak ada alasan untuk khawatir kita tidak akan mendapatkan pasangan.

Saya suka dengan quote ini,

Well said, isn't? Saya selalu berpikir bahwa pernikahan adalah merger kebahagiaan, dua bahagia yg dilebur jadi satu dan menghasilkan kebahagiaan yg lebih besar, jadi kalo pernikahan banyak dukacitanya, berarti ada yang salah. Mungkin juga yang digandeng itu yang harusnya digandeng orang lain.
Ingat ya, menggandeng tangan yang salah bisa melukai 3 pihak, pihak pertama adalah pihak yang tangannya kamu gandeng, pihak kedua adalah pihak yang seharusnya menggandeng tangan pihak pertama dan pihak ketiga yang akan terluka adalah pihak yang harusnya menggandeng tanganmu.
Jadi, sebagai penutup tulisan ini, sabarlah, kita semua akan menikah pada waktuNya.

Jumat, 05 Desember 2014

Ayah, Bolehkah aku pinjam uang mu Sepuluh ribu saja?

Suatu sore, seorang anak laki-laki yang masih kecil mendatangi ayahnya yang sedang beristirahat di sofa ruang keluarganya. Anak ini kemudian memulai dialog dengan ayahnya.
Anak : "Ayah, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"
Ayah : "Tentu boleh nak, kamu mau bertanya apa?"
Anak : "Berapa yang ayah hasilkan dalam satu jam?"
Ayah : "Itu tidak perlu kamu pikirkan nak, biarlah itu tetap menjadi urusan ayah. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Anak : "Aku hanya ingin tahu ayah, berapa yang ayah hasilkan dalam satu jam?"
Ayah : "Jika kamu memang harus tahu, jika dihitung per jam, maka yang ayah hasilkan adalah 50.000 rupiah."
Anak : "Ohh,," (kepalanya tertunduk lesu, kemudian mendongak ke arah ayahnya)
Anak : "Kalau begitu, bolehkah aku meminjam uang sepuluh ribu saja kepada ayah?"
(Ayah mulai curiga dengan gelagat anaknya)
Ayah : "Jika alasannya engkau meminta uang ini hanya agar kamu bisa membeli mobil-mobilan atau barang-barang lain yang tak berguna, maka pergilah ke kamarmu dan tidurlah. Pikirkanlah kenapa kamu begitu egois, aku bekerja keras setiap hari hanya untuk kamu yang kekanak-kanakanmu ini.

Anak kecil ini tanpa berkata sepatah katapun lagi kemudian pergi ke kamarnya dan menutup pintu. Sang ayah kemudian terduduk dan menjadi lebih marah tentang pertanyaan anaknya. Bagaimana bisa dia bertanya seperti itu hanya untuk meminta uang.
Setelah sejam kemudian, ayah mulai reda kemarahannya dan mulai berpikir. Mungkin ada hal yang begitu penting yang dibutuhkan anaknya dengan uang itu dan anaknya juga tidak sering meminta uang. Akhirnya ayah memutuskan untuk datang ke kamar anaknya dan membuka pintu.
Ayah : "Kamu sudah tidur nak?"
Anak : "Belum yah, aku belum tidur"
Ayah : "Aku telah berpikir, mungkin aku terlalu keras padamu tadi. Ini hari yang panjang dan aku tidak marah lagi padamu. Ini uang sepuluh ribu yang kamu minta"
Si anak kemudian terduduk di tempat tidurnya dan tersenyum.
Anak : "Ohh,, Terima kasih ayah"

Kemudian anak ini merogoh balik bantalnya dan meraih beberapa uang recehan dari dalamnya. Ayah yang melihat bahwa anaknnya memiliki uang mulai naik marah lagi. Anak melanjutkan menghitung uang pelan-pelan kemudian memandang ayahnya.
Ayah : "Mengapa kamu meminta uang kalau kamu sudah memilikinya?
Anak : "Karena saya belum cukup memilikinya, tapi sekarang sudah.
"Aku memiliki uang 50.000 rupiah sekarang, bisakah aku membeli satu jam dari waktumu? Tolong pulanglah satu jam lebih awal besok, aku ingin makan malam denganmu"

Sang ayah remuk hatinya, dia memeluk putra kecilnya dan meminta maaf dengan terisak.

Kisah fiksi ini hanya sedikit menggambarkan apa yang sebenarnya banyak dialami oleh anak-anak kita, jangan sampai anak kita menjadi seperti apa yang di lakukan anak dalam cuplikan film ini. Tontonlah versi lengkapnya, saya hanya mengambil potongan singkat dari adegan paling menyentuh menurut saya. Berikut cuplikan videonya:



Apakah hanya demi mendapatkan beberapa rupiah saja kita akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang-orang yang kita cintai? Perusahaan atau instansi tempat kita bekerja mungkin akan dengan mudah menemukan pengganti kita kalaupun kita meninggal besok, tapi keluarga dan teman-teman terdekat kita akan kehilangan kita selamanya. Akankah kita tidak meninggalkan hubungan yang indah dengan mereka dan terus mengejar rupiah (dan mungkin dolar) untuk sesuatu yang sesungguhnya ada yang lebih berharga daripada itu? 

Saya suka quote ini, " Orang miskin bukan lah orang yang tidak memiliki uang, tapi orang yang begitu mengejar uang dan menelantarkan emas dirumahnya." Emas dirumah yang dimaksud adalah keluarga kita sendiri, termasuk momen-momen bersama anak-anak kita, melihat mereka bertumbuh dan mendampingi mereka menuju kedewasaan yang benar.

Selasa, 02 Desember 2014

Besi Menajamkan Besi

"Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya"
Saya suka istilah ini, untuk bisa saling menajamkan, besi terlebih dahulu harus bergesekan dengan sesama besi, dalam setiap gesekan tentu akan menghasilkan panas, dan bila besi bisa teriak, pasti besi akan bilang, "panas,, panas,, cukup!" Jika hal itu terjadi, maka pastilah si pandai besi akan mendengar jeritan pilu tersebut dan menghentikan aktifitasnya menggesekkan besi-besi tersebut. Akibatnya kita sudah bisa duga, besi-besi tersebut hanya akan menjadi besi-besi biasa, bentuknya mungkin akan sama, menjadi pisau, sabit dan lain-lainnya, namun ketika proses itu tidak selesai dengan baik, mereka tidak akan menjadi berguna. Bila pisau-pisau tersebut tidak diasah dengan baik dan benar sampai ketentuan yang tepat, pisau tersebut tidak akan menjadi besi yang tajam. Untuk apa punya besi berbentuk pisau kalau tidak tajam. Pisau-pisau tersebut tidak hanya dibuat untuk pajangan kan?

Lalu, apa maknanya hal tersebut dengan manusia menajamkan sesamanya? Apakah kita harus bergesekan satu sama lain agar menjadi berguna? Yuppss,, secara mentahnya seperti itu, tapi kita tentunya nggak suka yang mentah-mentah gitu dong,, Seringkali kita lupa bahwa menajamkan adalah merupakan sebuah proses. Ada kegitatan yang dikerjakan, ada waktu yang dihabiskan selama proses, dan tentu ada pihak-pihak yang sedang diproses dan memproses. Gesekan antar manusia bukan berarti kita harus bergesekan seperti kita menggesekkan telapak tangan kita disaat kita kedinginan. Gesekan-gesekan yang terjadi dalam proses menajamkan sesama adalah misalnya saat kita harus berbeda pendapat dengan orang lain, tidak sepaham, tidak sepikiran, harus diskusi bahkan mungkin berdebat alot untuk dapat menemukan satu titik kesepahaman. Mungkin suatu saat akan tiba waktu-waktu dimana kita merasa tersakiti dengan kata-kata dari orang lain, atau kita sedang menyakiti orang lain dengan tidak kita sadari. Akan datang waktunya dimana gesekan ini begitu berat dan sakit, dan kita berteriak-teriak minta tolong kepada yang empunya proses ini, menjerit-jerit minta tolong sama Tuhan. Ada waktu dimana Tuhan seolah-olah tidak mendengar jeritan dan teriakan minta tolong kita, seakan tak perduli dengan keadaan kita. But, let us take God's sight. Dia disana seperti pandai besi, yang mengijinkan setiap gesekan-gesekan itu terjadi dalam hidup kita, karna Dia tahu setiap gesekan itu baik untuk kita. Dia sedang memproses kita untuk setajam yang dia inginkan, sesuai dengan kehendak dan tujuannya dalam hidup kita. Apakah kita akan dipakai untuk pisau daging atau pisau sayuran, tentu proses yang harus dilalui akan berbeda. Jadi jangan iri dengan proses yang orang lain dapatkan, Kuatkan dan teguhkanlah hatimu sampai proses yang ditentukan. Ingat, pisau yang tumpul tidaklah berbeda dengan besi-besi lain yang ada di tempat loakan besi tua.
Pastikan dirimu ambil bagian dalam rencana Tuhan, jangan puas telah menjadi pisau ataupun pedang, kalau pada akhirnya hanya menjadi pajangan. Nikmati proses yang ada dan jadilah berguna.

Jumat, 22 Agustus 2014

Kenapa Move On itu Susah

Sebelum kita bahas lebih lanjut, sebenarnya saya sudah pernah membahas hal yang mirip dengan ini. Di artikel saya sebelumnya yang berjudul Belajar Move On, saya sudah menjelaskan kenapa move on itu sulit.
Sekarang kita akan membahas susahnya move on dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Memang sih, bagi sebagian besar orang, masih belum bisa menerima bahwa hubungan mereka harus berakhir. Ada banyak sebab dan alasan kenapa hubungan pacaran tersebut harus berakhir, mulai dari yang sederhana sampai yang rumit, mulai dari yang apa adanya sampai yang penuh rekayasa. Ada yang dengan alasan klasik aku mau fokus sama kuliahku, atau orang tua ku tidak mengijinkan kita melanjutkan hubungan ini, atau yang klasik banget, kamu terlalu baik buat aku, aku nggak bisa terus sama kamu, kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku.
Oke, kita tinggalkan saja alasan-alasan dan sebab-sebab tersebut, karena faktanya kenapa orang harus MOVE ON adalah karena mereka PERNAH MEMILIKI HUBUNGAN (baca:pacaran/tunangan). Jadi apapun alasan yang ada tadi memang hanya alasan yang dibuat-buat saja. Nah, kenapa mereka pacaran padahal sebagian besar dari mereka sadar bahwa hubungan mereka mungkin akan membuat mereka sakit hati saat putus. Kalo ditanya, kenapa mereka pacaran adalah karena mereka sedang jatuh cinta. Disinilah letak kesalahan yang sebenarnya dari orang-orang yang susah move on. MEREKA SUSAH MOVE ON KARENA DULU MEREKA FALL IN LOVE, BUKAN FLY IN LOVE. Ketika seseorang sedang jatuh cinta, biasanya sangat susah untuk bangun. Plato, seorang filsuf besar di jamannya pernah mengatakan demikian, "Love is a serious mental illness" yang artinya adalah cinta itu adalah penyakit jiwa yang serius.  Cinta itu bisa membuat orang yang sehat menjadi terganggu jiwanya, seolah mereka hidup di negeri dongeng yang semua terasa indah. Ketika cinta itu berakhir, mereka seperti terbangun dari mimpi-mimpi indah mereka dan melihat kenyataan hidup yang begitu berat itu dan merindukan masa-masa utopia di negeri dongeng tersebut. membayangkan kembali masa-masa indah saat masih pacaran dan sebagainya. Kesalahan selanjutnya adalah mereka menikmati masa-masa jatuh cinta itu dan nggak segera bangun. Udah tau kalo bangun itu susah kann,, apa nggak inget tuh waktu kita kecil, waktu kita lagi belajar jalan, waktu awal-awal banget kita baru bisa berdiri dan mencoba berjalan, susah banget buat bangun kan? Meskipun kita udah gede gini, sebenernya kita masih "sekanak-kanak" dulu kok, kita tidak pernah menjadi TERLALU DEWASA untuk menjalani hidup ini. Setiap saat kita dihadapkan pada situasi-situasi baru yang menuntut kita untuk terus bekerja keras. Jadi jangan sering-sering jatuh, apalagi sengaja jatuh, kalaupun ingin jatuh, jatuhlah pada tempat yang tepat, jangan jatuh sembarangan. Demikian juga dengan jatuh cinta, jangan suka jatuh cinta, bagaimanapun jatuh itu sakit kan?
Oleh karena itu, saya lebih suka dengan istilah "Fly in Love" ketimbang "Fall in Love". Kalo Fly in love itu kita umpamakan pacaran itu naik pesawat, tapi isinya cuma ada pilot dan co-pilot aja. Terbang atau tidaknya tergantung bagaimana orang yang di dalamnya. Kalo fall in love kan kita jatuh, kalo fly in love kita akan terbang. Terbang tentunya diatas dong, kita bisa lihat keindahan bumi dari atas ketinggian, mungkin bisa juga melintas di awan-awan yang menggantung di angkasa, kalo beruntung bisa sangat dekat sekali dengan pelangi. Namun demikian, fly in love juga memiliki risiko yang besar juga. Kalo diantara pilot dan co-pilot ada miskomunikasi, tentu pesawat itu akan menukik turun. Beruntungnya, pesawat itu normalnya ada di ketinggian yang cukup tingggi sehingga tidak akan langsung jatuh begitu hubungan diantara keduanya ada masalah, bila keduanya segera sadar, kendali pesawat memungkinkan pesawat akan terbang normal lagi. Berbeda hallnya dengan fall in love, sekali tepeleset maka akan jatuh dengan sukses, dan ketika jatuh biasanya akan susah bangun lagi, seperti petikan lagu yang seperti ini:
aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
aku tenggelam dalam lautan luka dalam
aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang

So, move on itu susah atau tidaknya memang relatif, tapi sekali lagi, semua itu berasal dari satu kesalahan yang sama, kalian tidak mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan selama perjalanan kalian (baca:pacaran) dan tiba - tiba masalah itu datang dan kalian tidak siap. Jadi sebelum mulai pacaran, siapkan dirimu untuk menerima kenyataan bahwa suatu saat mungkin kalian akan berpisah, jadi berikan seperlunya saja pada saat pacaran, dan berikan semuanya pada saat kalian sudah menikah.

Rabu, 30 Juli 2014

BOYS RULES

Inget pernah nulis ini pas masih muda, jadi pengen share nih, mungkin bisa berguna, atau sekedar pelepas ketegangan dan menciptakan senyuman :)

Yang selalu kita dengar adalah Girls Rules, kini saatnya kami para cowok mengungkapkan isi hati kami. Ini adalah cerita dari sisi kami, kaum Cowok, Kaum Adam! Ini Kami, INI ATURAN KAMI‼
Untuk para cewek..mohon dibaca dan dimengerti:
1.      Tidak semua cowok seperti Deddy Corbuzier yang bisa baca pikiran orang. Jadi jangan harap kami bisa membaca isi pikiranmu di saat kamu manyun tanpa suara. Apa susahnya sih ngomong: “aku laper,,pengin makan,,”atau “aku minta dibeliin sepatu itu..” atau “jangan bikin akau sedih dong..” atau “kamu jangan …, …, … dong…” atau apapun itu.
2.      Hari Minggu adalah waktunya istirahat setelah 6 hari bekerja/kuliah, jadi jangan terlalu berharap kami mau menemanimu seharian jalan-jalan ke mall. Capek tau,…
3.      Berbelanja BUKAN olahraga. Dan kami gak akan berpikir ke arah situ. Bagi kami belanja ya belanja, kalau sudah pas ya beli saja, perbedaan harga di toko A dan B paling cuma seribu perak, gak usah dipake alasan untuk keliling kota cari yang paling murah, buang2 bensin aja.
4.      Menangis merupakan suatu pemerasan. Lebih baik kami mendengar suara guntur, petir, bom meledak atau apapun daripada suara tangisanmu yang membuat kami tidak bisa berbuat apa2.
5.      Beri tahu apa yang kamu mau. Cobalah untuk sepaham tentang hal ini,. Sindiran halus tidak dimengerti. Sindiran kasar juga tak akan dimengerti. Terang-terangan menyindir juga kita gak akan ngerti! Ngomong langsung knapa!
6.      “Ya” dan “Tidak” adalah jawaban yang paling tepat yang dapat diterima untuk hampir semua pertanyaan. It’s so simple.
7.      Kalau mau masalahmu selesai, ceritakan ke kami. Karena itu yang biasa kami lakukan, diskusi. Kalau Cuma pengen dapet simpati doang, cerita aja ke temten-temen cewekmu.
8.      Kalau bisa, ngomongin apa yang harus kamu omongin pas iklan aja. Ingat, jangan sekali-sekali ngomong apalagi pas tendangan penalti.
9.      Janji kami untuk mendaki gunung dan menyeberangi lautan itu hanyalah ungkapan klise saja, jadi jangan dianggap serius.
10.  Kalau kamu pikir kamu gendut, mungkin aja. Jangan tanya kami dong,, cermin lebih jujur daripada lelaki.
11.  Kalau kami nanya ada apa dan kamu jawab gak ada apa apa, kami akan berpikir memang gak ada apa apa. Ingat no. 1 kami bukanlah pembaca pikiran.


Demikian aturan ini dibuat dengan secermat-cermatnya, apabila pada suatu hari ditemukan kesalahan, maka akan ditambahkan dan dikoreksi sebagaimana mestinya.