hay hujan.. lama tak bertemu denganmu.. apa kabarnya kau disana? tidakkah kau merindukan bumi?
hay hujan... aku merindukan dirimu.. merindukan penantianku selama kau hadir dalam waktuku.. bolehkah?
Apa iya kamu merindukanku? Apakah benar kamu merindukan tubuhku menemui bumi?
Sepertinya engkau lebih mencintai bumi, merindukan aroma tanah basah dan semilir angin sejuk yang membelai wajahmu.
ya.. aku merindukanmu sama seperti bumi merindukanmu.. aku merindukan pasukan airmu yg memijat halus wajahku... aku merindukan teduhnya bumi ketika kau sirami dg cintamu, hay hujan... sungguh, aku menantikan kehadiranmu di sisa waktuku.
Ah gombal,, beribu kali kau katakan itu padaku. Kamu suka saat ku memijat halus wajahmu? Bukankah aku hanya sebagai topeng untuk menutupi airmatamu yang sering meleleh karna dia? Kamu hanya merindukan momen" itu, bukan merindukanku.
Ah... aku tak pernah bisa berbohong di depanmu, hujan.. Aku merindukan bersembunyi dibalik keadaanmu... aku merindukan air mataku yang bersatu dengan rintikan hujanmu... aku merindukan dingin yang kau timbulkan, dingin yang menyadarkan bahwa aku manusia yang lemah.. aku merindukanmu dan kumohon bergegaslah menjumpaiku.. setidaknya bukan demi aku, tetapi demi bumi yang merana karena tak kunjung kau hampiri..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar