Senin, 16 Mei 2016

Indonesia Dalam Darurat Pendidikan Keluarga

            Mungkin saya agak terlambat menulis tentang hal ini, tetapi gelombang beritanya masih lumayan banyak beredar di portal-portal berita online, jadi saya pikir belum terlalu terlambat untuk menuliskan hal ini, toh bagi saya prinsipnya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Di sisi lain, memang baru akhir-akhir ini saja kepala saya dipenuhi oleh pikiran tentang hal ini. kalau meminjam kata yang sering dipakai pak SBY, saya prihatin akan hal ini.
            Indonesia darurat asap dulu sempat ramai dibicarakan di media sosial, lengkap dengan postingan-postingan gambar dimana semuanya memakai masker dan membawa tulisan-tulisan di kertas berisi aspirasi. Indonesia darurat narkoba sampai sekarang masih, meski tidak begitu massif beritanya, namun Badan Narkotika Nasional masih menetapkan status Indonesia dalam keadaan darurat bagi risiko penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Masih ada beberapa status darurat yang seringkali muncul terkait kasus tertentu, namun terlalu panjang kiranya kalau kita bahas disini satu-persatu. Kali ini saya ingin mengajak untuk mencermati kasus darurat tentang pendidikan keluarga. Mengapa saya menuliskan hal ini adalah karena dilatarbelakangi oleh pemberitaan tentang kasus Yuyun yang diperkosa sampai meninggal kemudian melahirkan gelombang protes public atas darurat perlindungan anak dan kekerasan seksual. Bahkan setelah kasus itu diangkat ke media public dan gelombang kegeraman yang sangat besar dari netizen, kasus-kasus serupa yang selama ini didiamkan saja ikut diangkat ke permukaan. Seolah ingin menampar muka orang-orang yang memiliki kepentingan. Beberapa netizen pun menggalang petisi kepada pemerintah untuk segera merevisi undang-undang tentang perlindungan anak dan kekerasan seksual. Petisi tersebut sudah menembus 60.000 lebih dukungan dan telah disampaikan oleh pihak terkait kepada pemerintah, pemerintah merespon dengan menyiapkan peraturan pemerintah pengganti Undan-Undang (perppu) untuk menindaklanjuti hal tersebut. Kasus kedua yang membuat saya berpikir bahwa Indonesia sedang mengalami darurat pendidikan keluarga adalah kontroversi kebijakan yang dikeluarkan KPAI untuk memblokir beberapa game online yang dianggap berbahaya bagi anak. Kebijakan yang menimbulkan polemik ini terkait asumsi bahwa KPAI tidak melakukan riset terhadap label game yang dikeluarkan oleh dinas yang mengurusi tentang game di Amerika yang memberikan label kepada setiap game yang menentukan kelompok usia yang memainkan game tersebut. Netizen yang sebagian besar adalah pemain game sempat protes kepada KPAI dan bahkan ada yang mengubah tampilan website menjadi seperti tampilan game. Mereka beranggapan bahwa game yang memang untuk orang dewasa tersebut tidak boleh seenaknya dimainkan oleh anak-anak, dengan begitu seharusnya tidak berbahaya bagi anak-anak karena mereka seharusnya tidak memiliki kesempatan untuk mengakses permainan tersebut.
            Saya sebagai mahasiswa psikologi yang memfokuskan passion saya pada masalah sosial dan remaja menyadari bahwa kedua kasus ini tidak muncul begitu saja. Beberapa tokoh menyatakan bahwa kasus kekerasan seksual yang mencuat belakangan ini karena banyaknya miras atau minuman beralkohol yang beredar. Mereka berpikir bahwa miras adalah akar segala permasalahan ini. sebut saja tokoh seperti Tifatul Sembiring dalam kicauan akun twitter pribadinya.
@tifsembiring Minuman keras itu induk dr segala kejahatan. Bukti sdh banyak: Perkosaan, pembunuhan, tabrak lari, bunuh isteri. Dukung RUU Larangan Miras.!
Lebih lanjut pak Tifatul mengutip satu ayat Al-quran tentang minuman keras tersebut. Hal senada juga disampaikan oleh wakil gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar. Seperti yang ditulis portal berita Republika.co.id, beliau mengatakan, mabuk akibat miras adalah ibu dari segala kemaksiatan di muka bumi ini. Sebab, ketika seseorang mabuk, kesadarannya berkurang. “Karena kesadaran berkurang dia bisa melakukan seluruh maksiat di muka bumi,” kata Deddy Mizwar saat diminta tanggapannya tentang kondisi Indonesia Darurat Kejahatan Seksual di Bandung, Jumat (13/5).
Saya sangat menyayangkan tokoh-tokoh ini yang menurut saya berpikir setengah-setengah dalam menganalisis masalah ini. saya tidak menyalahkan bahwa miras akar segala kemaksiatan atau mabuk ibu dari segala kemaksiatan. Namun ada yang lebih esensial dan lebih krusial untuk disampaikan, dimana peran keluarga, bagaimana pendidikan dan pengasuhan oleh orang tuanya, orang-orang disekitarnya. Sewaktu saya menempuh pendidikan di Sekolah Dasar, saya pernah membaca sebuah peribahasa demikian, “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Waktu itu saya hanya tahu bahwa seperti apa anaknya, seperti itulah bapaknya. Apabila kita berbicara bukan hanya tentang ayah dan anak, tapi mewakili sebuah generasi, apa implikasinya? Disini bukan hanya berbicara like father like son, tapi juga berbicara tentang keteladanan dan pendidikan. Apabila pak Tifatul mengutip Al-quran, saya pernah membaca di Bible yang begini ayatnya, “Train up a child in the way he should go: and when he is old, he will not depart from it.” Dalam bahasa Indonesia, diterjemahkan begini, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu.” Pertanyaannya adalah, apa yang selama ini kita ajarkan pada anak-anak kita ini sehingga beberapa dari mereka melakukan tindakan yang kita benci?
            Apakah yang kita ajarkan selama ini hanya tentang larangan-larangan, seperti yang terjadi saat KPAI memblokir atau melarang anak-anak bermain game? Apakah kita senang bila anak-anak patuh pada setiap larangan kita? Pernahkah mendengar tentang penggalan lagu yang demikian, “kita terlahir bagai selembar kertas putih,” apabila setiap anak seperti selembar kertas putih, tinta apa yang telah kita tumpahkan diatasnya? Anak-anak berbuat kesalahan karena mereka tidak tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, karena mereka belum tahu mana yang benar. Sebagai orang tua, adalah ssudah menjadi tugasnya untuk memberitahukan kepada anak dimana letak kesalahannya dan memberitahukan hal mana yang benar yang harus dilakukannya. Hal ini harus dilakukan berulang-ulang saat anak masih kecil, sehingga akan tertanam dalam dirinya untuk berbuat sesuatu yang benar, apabila anak melanggar tentu ada baiknya diberikan konsekuensi atas perilakunya, dengan hukuman yang edikatif tentunya, sehingga anak akan berbalik ke jalan yang benar, bukan memupuk jiwa pemberontak di dalam diri anaknya. Namun yang saya temui seringkali adalah sebaliknya, banyak orang tua yang abai dengan kebutuhan anak ini. ada orang tua yang berpikir bahwa anak akan tahu sendiri kalo sudah gede nanti, sehingga mereka tidak perlu mengajar anak untuk melakukan ini dan itu. Faktanya adalah, mereka tahu karena mereka mendapatkan pendidikan dari masyarakat, dari orang-orang di sekitar mereka. Pada jaman orang tua sekarang ini masih kecil, orang-orang tua di sekitar mereka sangat perhatian dengan perkembangan dan pertumbuhan mereka, sehingga ketika orang tuanya sendiri tidak mengajari mereka tentang satu hal, masyarakat yang mengajari mereka, sehingga seolah-olah anak tahu sendiri apa yang harus dikerjakan atau dipikirkan. Lalu bagaimana dengan kondisi masyarakat yang acuh tak acuh sekarang ini, apabila orang tua mereka sendiri tidak mengajari mereka, orang-orang tua lainnya di sekitar mereka pun tidak mengajari mereka, maka teman-teman sebaya mereka lah yang mengajarinya, smartphone mereka lah yang mengajari mereka, internet yang menjadi panutan mereka. Padahal mereka belum mendapatkan cukup bekal untuk dapat memfilter informasi mana yang sesuai, informasi mana yang benar, apa yang baik yang boleh dilakukan dan apa yang buruk yang tidak boleh dilakukan. Hasil yang muncul dari pudarnya fungsi pendidikan dalam keluarga adalah berbagai kasus tawuran antar pelajar, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, dan beberapa perilaku menyimpang lainnya yang biasa dilakukan oleh remaja.
            Di lain sisi, kebijakan untuk menerapkan banyak larangan jelas akan membatasi kreatifitas anak. Saya senang ketika di sekolah diberikan tata tertib. Artinya diberikan ketentuan bagaimana menjadi siswa yang tertib, bukan sekedar larangan untuk ini dan itu. Jika anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan larangan, dan konsekuensi hukuman yang cenderung keras, anak akan tumpul inisiatifnya. Anak mulai malas mengeluarkan kreatifitasnya karena takut apa yang dia lakukan salah, mendapatkan hukuman. Lambat laun anak akan menjadi seperti katak dalam tempurung, sangat terbatas pengetahuan dan kemampuannya. Saat anak masuk ke dalam pergaulan, anak akan menjadi sangat mudah untuk dipengaruhi teman sebayanya, teman sepermainannya. Bila dia masuk dalam pergaulan yang baik tentu saja tidak perlu kita risaukan, namun apabila terjadi sebaliknya, itulah yang harus menjadi perhatian kita bersama.
            Saat ini saya berpikir bahwa Indonesia sedang Darurat Pendidikan Keluarga. Banyak orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan hanya pada guru dan sekolah, padahal kenyataanya adalah dasar-dasar pendidikan moral yang membentuk kepribadian seseorang diberikan di dalam pendidikan keluarga. Apabila keluarga telah gagal mendidik seorang anak, maka sekolah yang baikpun tidak akan bisa mengubah anak tersebut, mungkin hanya menjaganya untuk tidak jauh menyimpang, jika memang kebijakan di sekolah tersebut bagus. Apabila hal itu tidak terjadi, tentu saja ada banyak kasus seperti yang ditayangkan dalam berita-berita di televise tentang remaja. Mari kita satukan pemikiran, pendidikan keluarga adalah fondasi bagi kehidupan anak, apabila keluarga gagal menjalankan fungsinya, jangan salahkan pihak guru dan sekolah apabila anak anda tidak seperti yang anda harapkan. Anak anda adalah hasil dari pekerjaan tangan anda di rumah, apa yang anda ajarkan dan teladankan, akan menjadi seperti itulah anak anda. Mari mulai berpikir bersama bagaimana untuk mengaktifkan kembali fungsi keluarga sebagai intitusi pendidikan pertama dan utama bagi anak.
            

Minggu, 06 Maret 2016

Sendiri

engkau yg disana,
berdiri dalam sunyi,
diantara lalu lalang
suara suara yang tak mampu kau dengar

dalam diam kegelisahanmu membuncah
dalam resah hatimu gundah
dalam hening selaksa pertanyaan berkelebat
akankah dia kembali
akankah dia pulang
akankah dia kesini
lagi
suatu saat
meski dalam keheningan

dan disana dia tetap berdiri
Sendiri

Surakarta
2014 Maret

Kamis, 25 Februari 2016

MIRROR


Mirror never lies. Saya yakin anda tidak asing dengan ungkapan tersebut. Dia tidak akan tertawa saat anda menangis, atau nampak kurus bila kenyataannya anda tidak kurus. Saat kecil, saya juga belajar ada pepatah lain yang sesungguhnya bermakna kurang bagus, namun seringkali menggambarkan tindakan manusia. Buruk muka cermin dibelah. Kurang lebih artinya adalah mencari kesalahan pada pihak lain, namun saya lebih ingin menyoroti tentang kejujuran, seperti yang saya sampaikan di depan, mirror never lies, apa yang buruk akan diperlihatkan apa adanya, tidak ada tutup-menutupi atau manipulasi. Selain kejujuran, saya juga belajar tentang keseimbangan.
Cermin mengajarkan saya tentang keseimbangan. Selain mengajarkan kepada saya tentang apa adanya, cermin juga mengajarkan bahwa kehidupan adalah keseimbangan. Cermin tidak pernah menampakkan bayangan yang jauh saat saya di dekat cermin, dan tidak pernah menampakkan bayangan yang dekat saat saya berdiri jauh. Jarak antara bayangan ke permukaan cermin selalu sama dengan jarak saya pada permukaan cermin, Ibarat jungkat-jungkit, dengan berat beban yang sama dan jarak beban pada titik tumpu sama, maka diperolehlah posisi setimbang. Ohya, sebelum protes-protes bermunculan di benak anda, mari kita luruskan bahwa cermin yang kita sedang bahas adalah cermin datar, karena akan berbeda prosesnya apabila bertemu dengan cermin cekung, cembung atau cermin tembus pandang (one way glass). Nah mari kita lanjutkan, selain tentang jarak, tentang ukuran juga seimbang. Cermin tidak pernah memberikan kepada saya bayangan yang lebih kecil dari ukuran sebenarnya saya atau memberikan bayangan yang lebih besar daripada ukuran sebenarnya. Cermin mengajari saya bahwa kehidupan ini adalah tentang keseimbangan. Seperti symbol yang terkenal tentang keseimbangan, saya yakin anda semua mengenal yin  dan yang, saya menemukan juga keseimbangan dalam saya bercermin.
Selain keseimbangan, cermin juga mengajari saya bahwa hidup ini bukan tentang diri sendiri. Mungkin anda mempertanyakan ini, cermin kan bayangannya adalah diri kita sendiri, bahkan tak jarang kita memuja-muja diri sendiri betapa cantik atau gantengnya kita ketika memandang diri kita di cermin. Jawabannya adalah ya, sebagian besar orang berpikir demikian dan melewatkan sebuah pelajaran indah yang saya dapatkan, dan mungkin juga sudah disadari oleh orang-orang lain. Bayangan cermin membuat saya menyadari bahwa saya tidak sendiri. Memang iya bayangan itu adalah bayangan saya, tapi apakah bayangan tersebut benar-benar saya? Saya menyadari bahwa bayangan itu bukan sepenuhnya saya, dia adalah refleksi saya. Bagian kanan tubuhnya adalah tubuh kiri saya dan bagian tubuh kirinya adalah bagian tubuh kanan saya. Saat saya memperhatikan lebih dalam lagi, saya seperti sedang melihat orang lain berdiri menghadap saya. Ya, kehidupan bukanlah tentang diri sendiri, tapi ada orang lain juga yang hadir dalam dunia yang kita tinggali ini. Sama seperti kita memperhatikan bayangan diri kita di cermin, ada banyak orang di luar cermin itu yang juga membutuhkan perhatian anda. Ada orang-orang yang punya kekurangan yang anda bisa membantu memperbaiki atau menutupinya, seperti anda menutupi jerawat di pipi anda. Mungkin ada juga orang-orang diluar sana yang sedang sakit dan anda bisa membantu kesembuhannya, seperti anda mengobati luka bekas jerawat yang tak sengaja pecah. Bahkan yang terburuk, bayangan cermin bisa menjadi teman. Saya pernah melakukan yang terakhir ini, ketika saya merasa kesepian, bayangan cermin adalah teman ngobrol saya, meskipun yang terjadi adalah monolog, tapi saya tidak merasa sendiri. Anda juga bisa, menjadi teman ngobrol bagi mereka yang demikian, menjadi teman ngobrol yang bukan untuk menyelesaikan masalah, meskipun mereka akan sangat bersyukur tentunya bila anda mampu. Tak jarang saya bertemu dengan orang asing di pasar, stasiun, terminal, rumah sakit, halte, atau bahkan sekedar nongkrong di taman dan akhirnya menjadi teman ngobrol yang tentu saya tak ingat lagi apa telah kita bicarakan karena pada intinya adalah saya menemani kesepian mereka. Dengan saya menemani ngobrol, mereka yang saya temui tidak merasa sendiri lagi.
Pada dasarnya, manusia tidak diciptakan untuk sendirian. Seperti Adam yang diciptakan dengan diberikan Hawa (Eve) sebagai pasangannya, manusia juga mewarisi sifat dasar ini, tidak bisa diciptakan sendiri. Dalam kehidupannya, manusia selalu mencari rekan yang mampu menemaninya, atau sekedar menjauhkan diri dari kesendirian. Tak heran apabila dalam kehidupan ini penuh dengan cinta kasih, buah dari hubungan antar manusia yang menganut paham simbiosis mutualisme, saling menguntungkan kedua pihak. Cinta kasih yang benar adalah cinta kasih yang memberi. Oknum pemberi tentu bukanlah oknum yang mampu berdiri sendiri. Demikianlah cinta, cinta yang hanya satu pihak bukanlah cinta, cinta adalah oknum yang memberi, membutuhkan pihak lain sebagai pasangannya yang akan menerima cinta, sesuatu yang diberikan. Cermin juga telah mengajari saya tentang cinta kasih yang benar. Cinta kasih yang benar itu seperti cermin, bukan tentang diri sendiri, tapi juga mengasihi dan memperhatikan orang lain, prinsip memberi. Cinta kasih yang benar juga menganut prinsip keseimbangan, simbiosis mutualisme. Jika yang seorang menerima lebih besar dari pihak yang lain, lambat laun satu pihak akan kering, tapi bila ada timbal balik yang seimbang akan mampu bertahan. Selain prinsip memberi dan keseimbangan, cinta kasih yang benar juga memperhatikan prinsip kejujuran. Sama seperti cermin yang memberikan bayangan apa adanya, cinta kasih yang benar hendaknya adalah mencintai seperti apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi atau dimanipulasi.

Mungkin diantara anda ada yang bertanya-tanya, gambar abstrak apa yang saya pasang di awal tulisan ini. Mungkin juga ada yang telah memahami dan melihat maksud tersembunyi dari gambar tersebut. Clue-nya adalah mirror dan keseimbangan. Bila anda mampu menempatkan kedua clue tersebut, maka anda akan memahami bahwa symbol cinta yang sering diungkapkan oleh kebanyakan orang mengandung makna keseimbangan. AKU CINTA KAMU.

Kamis, 04 Februari 2016

SUDUT

Sudut bukanlah ujung, dia adalah perpotongan
Tempat dimana dua garis bertemu
Di sudut garis dapat berhenti
Namun tak jarang garis terus berlalu

Garis yang tak berhenti di sudut meninggalkan titik-titik sudut
Titik sudut yang menjadi pusat
Bagi sudut-sudut lain yang tercipta
Yang bersatu membentuk keutuhan

Karena kehidupan bukan hanya aku dan kamu
Jika sudut tempat kita bertemu bukanlah akhir
Perpotongan itu adalah pertemuan demi kehidupan
Dimana orang lain menjadi hidup karena pertemuan kita

Suatu pagi di beranda asrama
ditemani secangkir kopi 
rintik gerimis
dan kicauan burung pipit
Solo, 29 Januari 2016

Rabu, 06 Januari 2016

Pemimpin yang Tidak Takut Pada Mertua

Suatu ketika di alam baka, semua pemimpin hebat dari bumi mendapat undangan perjamuan surga. Anggap saja disana punya seperti stadion maha luas yang mampu menampung semua orang dari bumi, meskipun kali ini hanya para pemimpin hebat saja yang berkumpul. Di depan stadion, berdiri gagah Mikhael, malaikat yang ditugasi menjaga pintu masuk stadion. Stadion ini memiliki dua pintu dan Mikhael berdiri di antaranya. Pintu gerbang di sisi kanannya di atasnya bertuliskan Pemimpin yang takut pada mertua, sedangkan di sebelah kirinya bertuliskan bertuliskan Pemimpin yang tidak takut pada siapapun kecuali Tuhan. Mikhael kemudian mengumumkan bahwa hendaklah setiap pemimpin yang hendak masuk stadion memperhatikan tulisan di atas pintu gerbang dan masuk melalui gerbang yang sesuai dengannya masing-masing. Tak lama kemudian terdengar riuh rame suara desak-desakan di depan pintu gerbang pemimpin yang takut mertua, sedangkan pintu gerbang satunya tampak sangat lengang, teramat sangat sepi bahkan kosong, hanya ada dua orang saja yang melewatinya.  Merasa kagum, salah seorang pemimpin yang masuk dari pintu gerbang pemimpin yang takut mertua bertanya kepada salah satu dari dua orang tersebut, 
        “Apa rahasia anda sehingga anda tidak takut dengan mertua anda?” 
Pemimpin yang mendapatkan pertanyaan tersebut hanya menjawab singkat, 
        “saya tidak mengenal siapa mertua saya, saya tidak memiliki mertua.” 
        “Memangnya anda ini siapa?” sahutnya penuh penasaran. 
        “Adam.” 
Yang bertanya kemudian manggut-manggut saja, ternyata dia adalah manusia pertama, pantas saja nggak takut mertua, lha wong gak punya mertua kok. Kemudian dia bertemu dengan pemimpin satunya yang masuk lewat gerbang pemimpin yang tidak takut siapapun kecuali Tuhan. Dia berpikir pasti orang ini punya kiat khusus yang hebat, nggak mungkin kan kalau orang ini nggak punya mertua. Setelah sedikit memuji, dia bertanya apa rahasia suksesnya sehingga tidak takut pada mertuanya. Dengan sedikit berbisik, pemimpin yang ditanya menjawab, 
       “tidak ada kiat sukses sukses apapun,” jawabnya sambil berlalu. 
Karna penasaran, pemimpin yang bertanya tadi sedikit mengejarnya dan bertanya, 
       “kalo begitu, mengapa anda tadi masuk melalui pintu gerbang pemimpin yang tidak takut siapapun? Berarti anda tidak takut mertua juga kan?” 
       “Sstt,, jangan keras-keras..  Aku masuk lewat pintu gerbang pemimpin yang tidak takut pada siapapun kecuali Tuhan karna mertuaku melarangku masuk lewat pintu gerbang pemimpin yang takut pada mertua.”